Title : Tiga
Desember
Author : Azzahra unyu :3
Cast : Yabu
Michiyo [ korban/?], Kamenashi Azara [author unyu
numpang lewat :3],
Xiumin (EXO), Sato Shori (Sexy Zone)
Genre :
School life, Romance
Rating : PG-15
A/N
: Waaaaaaaaaa!! XDD Otanjoubi Omedetou Michiiiii !! XD , gomen ne
nggk bisa ngasih hadiah apa2 , soalnya kita berjauhan sih , kamu juga disuruh
ke malang php :’) jadi aq
bkinin ini aja untuk menebus semuanya/?
Panjang
umur yaa, makin pinter, nurut sama ortu sama ibu kos juga/? Jangan nakal klo disekolah, makan ayam yang banyak
biar endut kyk Umin XD /?
Sorry
ya klo misalnya ff bkinanku geje, aneh dan nggk sebagus punyamu -,__- kan aq
nggk bisa bikin ff … u,u
Btw,
aq bikin ini karena terinspirasi dari semua ceritamu soal ketua kelas tercintah
itu XD sama si HARIS [capslock jebol] yang masih kamu cintai itu //w//
(?) awalnya aq mau bkin cerita soal si Bima vs si Seta, tapi kamu gamau cerita
sih pas aq tanya ttg masalahmu sm dia dulu gimana u,u kan bingung jadinya ..
berhubung pas sama HARIS/? kamu di modus2in gitu, jadi cukup mudah lah buat
ngarang2 ceritanya, hehe XD
Aq pke Shori buat dijadiin Haris disini,
karena aq tau kamu belum bisa move on dari Shori :’) dan kamu masih cinta sama
Haris juga :’) (soktau). Btw, gomen ne klo sedikit mengungkit masa lalu, hoho
:’)
Sebenernya aq bingung banget mau pke cast siapa buat tokoh ketua
kelasnya, sempet mau pke Luhan soalnya dia terkesan pendiem gitu kan. Tpi
ternyata Xiumin lebih mantap //w// (?) dan lebih masuk karakternya buat
dijadiin ketua kelas (menurutku loh ya). Jadilah aq akting ke kamu dan bilang
klo aq nge pens gila sama si Umin. Sebenernya nggk terlalu kok, cuma biar kamu
cerita semua ttg Xiumin, mangkanya aq bilang gitu XD .. lagian kan aq setia ke
D.O sama Luhan //w// (oke ganyambung).
Semua
sms mu yg menceritakan soal kelakuan2 ketua kelasmu itu sengaja aq simpen loh,
sama yg aq pernah tanya sifat2nya ketua kelasmu itu XD buat jadi sumber sih/?
XD
Pokoknya se GJ apapun ceritanya ntar, aq
minta maaf ya -,___-
Selamat membaca //w//
***************************************************
“Sini
aku ambilin. Kamu itu pendek, ga akan bisa sampai deh kalau nggak naik kursi
dulu. Haha” Shori tertawa sambil mengambilkan majalah yang susah payah diraih
Michi karena posisinya yang berada di bagian atas rak bukunya. Michi
memanyunkan bibirnya sambil menggerutu kesal.
“Iiih,
iya iya kamu tinggi, pake ngeledek segala. Huh ! ” Dia merebut majalah yang ada
di tangan Shori, kemudian duduk di ruang tamu sambil terus memasang wajah
kesal.
Shori
kemudian mengubah tawanya tadi menjadi sebuah senyuman paling manis yang tidak
pernah dimiliki oleh siapapun. Ia berjalan mendekati Michi dan duduk tepat
disebelahnya. Michi tidak mempedulikannya, ia terus membolak – balik halaman
majalah tanpa membaca dengan pasti apa isinya.
Lalu
tiba-tiba, Shori menggenggam tangan kiri Michi. Tanpa menunggu lama, Michi
langsung mengalihkan pandangannya dari majalah ke wajah Shori yang sedang
tersenyum padanya. Shori menatap mata Michi dalam, Ia memberikan tatapan yang
sangat di inginkan oleh semua wanita yang ada di dunia. Senyuman manis yang
terukir di bibirnya dapat melelehkan hati semua wanita yang melihatnya.
Shori
bukanlah “siapa-siapa”, hubungan dia dengan Michi yang terlihat jelas oleh mata
hanyalah sebatas teman sekolah, dan ini bukan pertama kalinya Shori menggenggam
tangan Michi secara tiba-tiba. Namun entah kenapa, hati Michi selalu berdebar
lebih kencang saat Shori melakukannya.
“N-nani
?” Michi mencoba untuk menenangkan diri sambil bertanya pada Shori. Sejujurnya,
ia tak mampu menatap balik mata Shori, karena itu akan membuat hatinya berdebar
semakin kencang.
Shori
kemudian mengelus pipi Michi perlahan sambil terus tersenyum. Michi merasakan
pipinya mulai terasa panas, dan kini ia menyadari wajahnya telah berubah
menjadi merah seperti tomat. Entah apa yang harus ia lakukan selain menunduk
dan diam. Dalam diamnya itu ia tersenyum, walaupun Shori itu bukanlah
siapa-siapa, tapi ia selalu memperlakukan Michi dengan lembut, seperti yang di
inginkan oleh semua wanita.
***************************************************
“Michiii,
buruaan !! aku nungguin dari tadi, tapi kamu malah ngelamun liatin ruang tamu.
Kamu udah gila ya ? Pelajaran pertama itu Fisika !! Please, kita bisa mati kalau
ampek terlambat!” Azara yang sudah menjemput Michi sejak 15 menit yang lalu
mulai berdiri dibalik pagar dengan wajah kesal karena Michi tidak lekas
beranjak pergi, tapi malah terdiam memandangi ruang tamu yang pernah menyimpan
kenangan indah bersama seseorang yang bukanlah “siapa-siapa” nya.
“Ah, iya
gomen.” Michi kemudian tersadar dari lamunannya dan mengambil tas. Lalu ia
berjalan ke depan rumah.
Melihat
Azara berdiri dibalik pagar itu, membuat Michi terdiam dan teringat kembali oleh
…
~flashback~
“Tuh
kan, cantik kalau senyum.” Shori memuji sambil mencubit pelan pipi Michi yang
memerah. Shori selalu bisa menaklukkan hati dan mengembalikan senyuman gadis
berambut panjang yang berwajah manis itu dalam keadaan apapun. Michi tak bisa
berkata-kata dan hanya bisa tersenyum kecil sambil membalas genggaman tangan
Shori.
Jam
sudah menunjukkan pukul 17.25 , langit pun sudah hampir gelap. Orang tua Michi
memang selalu pulang diatas pukul 21.00 karena mereka adalah seorang Dokter.
Shori kemudian beranjak dari tempat duduknya, waktu terasa sangat cepat sejak
tadi siang ia berkunjung dan berbincang-bincang bersama Michi.
“Aku
pulang dulu ya.” Shori mengacak pelan rambut Michi sambil berpamitan untuk
pulang. Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke depan rumah. Michi berhenti
sampai didepan teras dan ia memperhatikan Shori dari balik pagar rumahnya.
Shori
tiba-tiba berhenti dan berusaha mencari sesuatu di saku celananya, Michi
tertawa kecil melihatnya sambil menyembunyikan sesuatu dengan tangannya.
“Ne,
kau melihat kunci motorku tidak ?” Shori kemudian berdiri dari balik pagar
sambil menanyakan kunci motornya yang tiba-tiba menghilang.
“Eh?
Hmmmm, enggak.. Hihi.” Michi berusaha mengelabui Shori namun tak berhasil.
Alhasil, Shori pun mulai curiga dan mendekati Michi.
“Kau
menyembunyikannya kan? Ayo ngaku ..”
“Ehh?
Tidak kok. Kyahahaha ..” Michi tertawa sambil berlari ke luar pagar dan
menghindar dari Shori. Shori dengan sigap mengejar Michi dan berusaha
menangkapnya. Mereka terus tertawa dan berlari berputar-putar.
“Michiii,
sini kembalikan!” Shori terus mengejarnya dan kini ia mendapatkan Michi, lalu
ia memeluknya dari belakang.
“Naah,
kena kamu.” Shori memeluk tubuh mungil Michi erat sambil mengambil kunci yang
di genggamnya dari tadi. Keduanya terdiam sejenak dan mulai menghentikan tawa.
Shori menyenderkan kepalanya di bahu Michi dan pelukannya terasa semakin erat.
Beberapa menit kemudian, Shori memutar badan Michi dan sekarang mereka saling
berhadapan. Shori kembali menatap mata Michi, kemudian ia mendekati wajah Michi
dan…. mencium keningnya dengan lembut.
“Aku
pulang ya, hati –hati dirumah.” Setelah mencium keningnya, Shori mengelus
rambut Michi dan berpamitan lagi untuk pulang. Michi kemudian mengangguk pelan
dan membiarkan Shori pergi. Ia memperhatikan Shori yang mulai semakin jauh dari
balik pagar rumahnya…
~flashback
selesai/?~
“Ya ampun
ini anak !!” Azara semakin kesal melihatnya dan mulai menarik tangan Michi agar
ia keluar dari rumahnya.
Mereka
berlari menuju SMA mereka yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Michi.
Tetapi walaupun begitu, Michi sudah mengulur-ulur waktu dengan lamunannya. Bisa
mati mereka berdua kalau sampai terlambat.
Setelah
sekitar 8 menit mereka berlari, akhirnya mereka sampai di depan gerbang
sekolah. Tepat saat mereka sampai, bel masuk berbunyi dengan lantang.
“Yabai
udah bel !!” Azara dan Michi mulai berlari lagi setelah menarik nafas panjang
di depang gerbang tadi. Mereka sampai di kelas tepat waktu dan guru fisika
mereka juga datang 1 menit setelah mereka sampai dikelas.
***************************************************
~ TENG
TENG TENG ~
“Baiklah
anak-anak, pelajaran kita sampai di sini dulu. Jangan lupa kerjakan tugas yang
sudah saya berikan tadi. Sayounara..” Pelajaran pun akhirnya berakhir, dan
semua murid bisa pulang.
Walaupun
begitu, sudah bagaikan kodrat untuk seorang siswa kelas 3 SMA mendapatkan
setumpuk tugas di setiap harinya. Terkadang sangat membuat pusing, tapi hal itu
tidak bisa dihindari lagi.
Michi
merapikan mejanya dengan wajah lesu, entah kenapa sejak pagi tadi ia memasang
wajah lemas dan tak bersemangat.
“Daijoubu
? wajahmu terlihat tidak baik sejak pagi tadi. Kau sakit ?” Anak laki-laki
bernama Kim Min Seok yang kerap disapa Xiumin oleh teman-teman diseluruh
sekolah itu adalah murid pindahan sejak setahun yang lalu, dia adalah warga
asli Korea yang dilahirkan dan dibesarkan di China. Namun sekarang pindah di
Jepang karena ia ingin mulai hidup mandiri tanpa harus bergantung pada orang
tuanya.
Sejak Michi
datang pagi tadi, Xiumin merasa ada yang aneh pada Michi. Biasanya ia selalu
semangat dan berwajah ceria. Ia terus memperhatikannya dan ia merasa sedikit
khawatir, karena tak biasanya Michi lemas seperti ini.
“Un, mou
daijoubu dayo. Shinpai shinai ne..” Michi kemudian berdiri dan menjawab Xiumin
dengan mengatakan bahwa ia baik – baik saja. Ia kemudian tersenyum dan berjalan
meninggalkan Xiumin lalu menarik tangan Azara yang sedari tadi asyik bermain
dengan iPhone baru nya sambil tertawa sendiri.
Di tengah
perjalanan, Michi terus terdiam. Azara yang asyik bermain iPhone itu pun
akhirnya mulai berhenti dan merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya.
“Kamu
kenapa sih? Dari tadi pagi kok kayaknya aneh banget. Sakit ?” Azara mulai bertanya
pada Michi yang dari tadi hanya terdiam sambil menendangi batu-batu kecil
dihadapannya. Namun Michi tidak menjawab dan hanya menggeleng tanpa melihat
wajah Azara.
“Heei, cerita sini. Kamu nggak biasanya lemes
gini, ada masalah apa?” Azara akhirnya menarik tangan Michi dan berbelok ke
arah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.
“Duduk dan
bicaralah, ceritakan semuanya..” Michi menuruti kata-kata Azara, ia duduk di
kursi taman itu, dan menarik nafas panjang. Kemudian ia menceritakan semuanya.
“Shori ?
heeei, dia itu cuma pindah ke Osaka, kenapa kamu sampai segitu galaunya siih.
Dia masih hidup kok. Segitu banyaknya ya kenanganmu sama dia..” Azara
terheran-heran dengan sikap Michi yang ternyata galau gara-gara seorang lelaki
yang bukanlah siapa-siapa nya.
“Aku sudah
berusaha melupakannya, tapi kamu lihat kan majalah yang ada di meja tamu tadi
pagi? Itu mengingatkanku pada dia..” Michi menyahut dengan nada yang masih
lemas.
“Ya .. Ya
.. Ya.. tapi sudah hampir 3 tahun lho,
masa kau belum bisa melupakannya?” Azara dengan seenaknya berbicara seakan move
on itu mudah…. Tunggu dulu, move on ? mereka bahkan tidak pacaran kan. Akan
tetapi entah kenapa, sulit sekali Michi melupakan kenangan – kenangan saat
bersama Shori.
“Ah,
sudahlah. Ayo kita pulang. Tempat ini juga selalu mengingatkanku padanya …” Michi
kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menarik Azara supaya dia berhenti
mengoceh.
***************************************************
~ 1
bulan kemudian ~
“Ne,
mumpung lagi ga ada tugas, kan lgi weekend juga. Ntar kamu kerumah aku yuk,
terus kita nonton film.” Seperti biasa, Azara selalu mengajak Michi untuk
menonton film dirumahnya pada saat weekend tiba. Sejak SMP dulu sampai
sekarang, yang dilakukan Azara untuk mengisi weekend nya adalah menonton segala
macam film, dari yang normal sampai yang ……. hentai.
“Hmm .. aku
gatau ntar bisa apa nggak.” Tumben sekali, karena Michi tidak pernah punya
kesibukan yang jelas setiap weekend tiba kecuali merenung dan menggalaukan
lelaki pujaannya yang sedang berada di Osaka itu.
“Eh ? Nande
?” Azara yang terheran – heran itu pun langsung bertanya.
Belum
sempat Michi menjawab pertanyaan Azara, lelaki gembul bernama Xiumin itu tiba –
tiba datang dan langsung nimbrung.
“Nanti
jadi kan ?” Ujar Xiumin sambil menarik kursi dan langsung duduk disamping
Michi.
Michi
tidak menjawab, dia hanya menatap Xiumin kemudian mengangguk. Terkadang dia
merasa sedikit bingung dengan perasaannya itu. Michi masih belum bisa melupakan
Shori yang selalu muncul dalam kenangannya. Akan tetapi di sisi lain, Michi merasakan
kenyamanan dengan seseorang yang tak pernah berhenti memberikan perhatiannya
pada dia itu.
Terkadang pula
Michi berpikir, mengapa dia harus menunggu seseorang yang bukanlah “miliknya”
dan bukanlah “siapa-siapa” bagi dia, sedangkan di sisi lain, ada seseorang yang
lebih dekat dengannya. Seseorang yang sangat perhatian dan sepertinya berusaha
untuk selalu berada disampingnya dan bahkan sayang padanya. Hanya saja belum
pernah diungkapkan.
Namun
janji itu tak bisa ia lupakan begitu saja …….
~flashback~
“…..pokoknya
jangan sampai sakit,jaga diri ya.” Setelah mengungkapkan kalimat panjang tanda
berpisah itu. Shori memeluk Michi erat kemudian mencium keningnya. Sesaat
kemudian pun ia mulai melangkah pergi dan akhirnya meninggalkan Michi.
“Ne
!! Atashi wa matteru kara !!” Michi berteriak kepada Shori yang sudah melangkah
cukup jauh. Shori kemudian menoleh dan tersenyum sesaat lalu ia melambaikan
tangannya.
~flashback
selesai~
“Oi oi,
chotto matte. Kalian …. Sejak kapan kalian pacaran hah ?!”
Azara yang
memiliki suara tidak merdu itu kemudian heboh dan teriak – teriak bagai orang
gila, karena mengetahui Michi menolak ajakannya untuk menonton film dan lebih
memilih pergi berdua bersama Xiumin.
“Urusai
na, siapa yang pacaran sih. Kita cuma mau jalan aja kok, kebiasaan deh kamu
itu. Sukanya heboh sendiri kayak orang gila.”
Azara tetap tidak memercayainya dan terus
bersikap heboh. Entah penyakit macam apa yang sebenarnya menyerang otak Azara
itu. Susah sekali membuat dia tenang kalau sudah heboh seperti itu. Ya, menutup
telinga adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Michi.
***************************************************
~
Malamnya ~
Suara motor terdengar sampai ke dalam kamar,
menandakan bahwa Xiumin telah datang.Michi segera beranjak dari kamarnya untuk
menemui Xiumin. Tapi sebelum itu ia berdiri dihadapan kaca yang ada dikamarnya
dan memandangi dirinya sesaat. Ia memakai dress selutut berwarna coklat dan
memakai jaket tipis berwarna putih, rambutnya dibiarkan terurai dan ia memakai
pita berwarna putih di bagian kanan rambutnya.
Kemudian
Michi berjalan keluar dari rumahnya, dilihatnya Xiumin sedang menunggu sambil
bersandar di sepeda motor besarnya. Xiumin memandang ke arah lain dan tidak
menyadari bahwa Michi sudah berada di belakangnya.
“Xiumin …”
Michi menyapa Xiumin dengan lembut, kemudian Xiumin menoleh dan bengong sesaat
melihat penampilan Michi yang beda dari biasanya. Michi terlihat sangat cantik
malam itu.
Melihat
Xiumin bengong seperti itu, spontan Michi mencubit kedua pipi gembulnya.
“Kenapa sih ? kok bengong gitu, aku jelek ya ?”
“E-enggak
.. Cantik , kamu cantik banget.” Ucap Xiumin sambil menurunkan kedua tangan
Michi dari pipinya kemudian menggenggamnya sesaat. Setelah wajah mereka berdua
sama-sama merahnya, barulah mereka tersadar bahwa tujuan mereka malam ini
adalah untuk berjalan-jalan menikmati indahnya langit malam.
Angin yang berhembus malam ini cukup sejuk
dan membuat hati yang kesepian menjadi nyaman. Rambut Michiyo tertiup seiring
berhembusnya angin. Dia berjalan mengikuti iringan langkah Xiumin yang berada
disampingnya. Xiumin mengajak Michi ke sebuah Taman Kota yang tidak pernah sepi
setiap malamnya.
“Mau kopi susu?
Ojiisan itu punya kopi susu yang sangat enak. Kamu pasti suka..” Xiumin menunjuk
ke arah kedai kecil yang tampak cukup ramai karena makanannya yang terkenal
enak dan murah itu. Michi pun mengangguk, selama ditraktir untuk apa menolak ?
Xiumin membeli 2 gelas kopi susu hangat yang diletakkan di sebuah
gelas plastik. Ia bermaksud menikmatinya berdua saja bersama Michi, karena
tampaknya ia punya maksud tertentu mengajak Michi berjalan malam ini. Kemudian
ia melihat kursi taman yang sedang tidak ditempati, dengan sigap ia langsung
mengajak Michi untuk duduk berdua di kursi itu.
“Hmm.. umai ! Arigatou ne.” Tampaknya Michi benar-benar menyukai
kopi susu itu. Xiumin senang mendengarnya. Mereka kemudian berbincang-bincang
cukup lama, membahas berbagai macam hal. Sampai pada akhirnya mereka kehabisan
topik untuk dibicarakan lagi.
“Ne, Michi .. “ Wajah Xiumin tiba-tiba berubah serius.
“Hmm, nani ?” Michi hanya menatapnya dengan pandangan polos.
“Mmm .. Anoo .. ” Xiumin bicara tidak jelas sambil menundukkan
kepalanya, entah karena bingung atau grogi. Lalu ia menegakkan kepalanya
kembali dan dengan tegas berkata. “Daisuki dayo Michi ..”
“Eh ? Xiumin ?” Michi yang sebenarnya sudah memperkirakan hal ini
sejak lama masih saja kaget saat ternyata Xiumin benar-benar mengatakannya di hadapan
dia.
“Gomen .. aku cuma mau sampai.in perasaan yang selama ini aku
simpan ke kamu.”
Michi terdiam … kemudian berpikir dalam diamnya. Berusaha mencari
kata-kata yang tepat untuk membalas ‘pernyataan cinta’ dari Xiumin barusan.
“Hmm .. aku sendiri sebenarnya nggak tau apa yang aku rasain. Tapi
aku selalu nyaman kalau kamu disampingku.” Xiumin yang sedari tadi berkeringat
dingin menunggu jawaban dari Michi itu merasa lega mendengar hal itu.
“Berarti .. kita-“ Belum sempat Xiumin menyelesaikan kalimatnya,
Michi menyela. “Tapi kita nggak mungkin pacaran, aku sudah janji buat nggak
pacaran selama SMA ini. Gomen …”
Xiumin sudah mengira bahwa Michi akan mengatakan hal itu, tapi dia
tidak menyerah dan kehilangan kata-kata. “Aku akan menunggumu … Dalam beberapa
bulan lagi kita akan lulus. Aku akan menunggumu sampai kapanpun.”
Michi semakin
bingung .. dia tidak menyangka Xiumin akan berkata seperti itu. Lagipula,
sebenarnya ada satu alasan lagi mengapa Michi tidak membalas pernyataan cinta
dari Xiumin, yaitu…… Shori.
Bodoh …. Michi merasa bahwa
dirinya sangat bodoh. Apa yang dia pikirkan disaat seperti ini ? Untuk apa dia
memikirkan Shori yang bukanlah siapa-siapa untuknya. Shori yang belum tentu
akan kembali untuknya.
“Tapi …. Aku tetap tidak bisa. Maaf.” Michi tertunduk
kembali dan tanpa ia sadari, ia meneteskan air mata. Air mata yang selalu ia
buang sia-sia karena mengingat lelaki bernama Shori itu.
“Mi-Michi .. kenapa kau
menangis ? aku tak akan memaksamu bila kau benar-benar tidak mau.” Xiumin kaget
melihat Michi tiba-tiba meneteskan air matanya. Michi tidak menjawab, ia terus
menangis kemudian berlari meninggalkan Xiumin.
.
.
.
~ 2 tahun kemudian ~
Hari demi hari terus
berganti, kini Azara dan Michi sudah menjadi Mahasiswi jurusan Teknik Kimia dari
Tokyo University. Sahabat sejati ini tidak pernah berpisah sejak TK dulu.
Mereka selalu berada disekolah dan kelas yang sama. Apakah tidak bosan ?
“Aaaah, akhirnya libur juga. Nggak kerasa ya abis ini kita udah
semester 5..” Azara berjalan disamping Michi sambil merentangkan tangannya
lebar – lebar dan melepaskan segala beban dan penat yang ada di dada/?
“Nanti nonton film dirumah yuk, tadi aku dikasih film baru sama
Daiki. Film horror Thailand lho, dan kata dia bagus banget. XD !!” Kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak
dulu. Azara tidak ada bosan – bosannya mengajak Michi nonton di setiap weekend.
Walaupun dia sering ditinggal tidur oleh Michi, ia tetap mengajak si tukang
tidur itu.
“Kau dengan pacarmu itu ya… sama – sama maniak filmnya. Kenapa
nggak nonton sama dia aja ? aku nanti nggak bisa.”
Dua kali … ini yang kedua kalinya
Michi menolak ajakan Azara untuk nonton film di saat weekend sejak SMA dulu.
Tanpa pikir panjang dan dengan polosnya, Azara langsung kumat.
“Oooh gitu, mau ngedate lagi sama
Xiumin ? aku bahkan nggak tau dia kuliah dimana sekarang. Jadi kamu sampai
sekarang masih suka ketemuan sama dia ?”
Dengan sigap Michiyo langsung
menjitak kepala Azara. “ Baakaaa!! Apaan sih Xiumin Xiumin. Aku udah ga ada
kontak lagi sama dia kok. Cerewet ah, pokoknya ntar aku nggak bisa.”
“Oke fine, tapi besok kamu harus
kerumahku dan cerita. Atau aku yang bakal kerumahmu sendiri dan menginterogasi
kamu. Hohoho” Tawa Azara yang bagaikan Sinterklas itu membuat Michi semakin
ingin menjitak Azara berkalli-kali.
***************************************************
~
Malamnya ~
Hari ini adalah hari Selasa. Dan
hari ini adalah tanggal 3 Desember. Ya, malam ini adalah malam yang sudah
ditunggu – tunggu kedatangannya oleh Michi sejak perpisahannya bersama Shori 5
tahun yang lalu. Entah kenapa … entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Shori adalah laki-laki yang tampan
dan sangat populer di mana – mana. Dan tentu saja tidak sedikit kaum perempuan
yang menggilainya. Bahkan mungkin Shori juga tidak hanya memperlakukan wanita
secara spesial seperti itu pada Michi saja. Mungkin dia melakukan hal yang sama
pada perempuan lain kan ? karena dia juga terkenal sangat romantis.
.
.
.
~flashback~
“Kau harus percaya padaku. Aku akan
kembali, 5 tahun lagi. Di hari ini .. di tempat ini. aku akan kembali untukmu
Michi.” Ucap Shori sambil mengelus lembut pipi Michi. Michi menatap dalam mata
Shori dan mengangguk pelan. Dia merasa tak rela harus kehilangan Shori.
Walaupun Shori bukan siapa – siapa nya. Dan walaupun Shori berkata ia akan
kembali.
“Jangan
lupa makan, istirahatnya yang teratur juga. Pokoknya jangan sampai sakit,jaga
diri ya.” Setelah mengungkapkan kalimat panjang tanda berpisah itu. Shori
memeluk Michi erat kemudian mencium keningnya. Sesaat kemudian pun ia mulai
melangkah pergi dan akhirnya meninggalkan Michi.
“Ne
!! Atashi wa matteru kara !!” Michi berteriak kepada Shori yang sudah melangkah
cukup jauh. Shori kemudian menoleh dan tersenyum sesaat lalu ia melambaikan
tangannya.
~flashback
selesai~
.
.
Michi tak pernah bisa melupakan janji itu. Kenangan – kenangan itu
dan semua hal yang berhubungan dengan Shori. Sejujurnya, ia tak pernah berhenti
mengingat saat-saat ia berpisah dengan Shori di taman ini tiap kali ia
menginjakkan kakinya disini.
Michi sangat yakin Shori tidak mungkin kembali untuknya hari ini,
besok, atau sampai kapanpun. Shori pasti sudah melupakan Michi dengan mudahnya.
Apalagi mereka tak memiliki ‘kejelasan’ dari hubungan dekat mereka saat itu. Di
Osaka sana pun pasti banyak gadis yang lebih cantik juga kan ?
Ya. Michi sudah mengetahui semua itu. Tapi dengan bodohnya, ia
masih menunggu dan tetap menunggu di tempat ini. Menunggu hal yang tak pasti.
Menunggu sesuatu yang ia sendiri pun tahu itu tak akan pernah datang.
Michi berjalan perlahan .. menikmati hembusan angin malam yang
memainkan rambutnya. Ia kemudian berhenti dan mulai duduk di kursi taman itu.
Ia menunggu, terus menunggu sambil merasakan dinginnya malam dan kosongnya
langit. Hingga tanpa ia sadari pun, ia tertidur di kursi taman itu. Ia
benar-benar tertidur. Wajahnya terlihat lemas dan sangat sedih.
Dua jam … tiga jam .. empat jam lebih telah berlalu. Michi pun
akhirnya tersadar dan bangun dari tidurnya. Ia melihat ke sekelilingnya… Ya, tentu
saja hanya kosong. Dan tidak ada siapapun yang datang padanya. Kemudian ia
melihat jam tangannya.
“Jam 1 malam.. sebaiknya aku pulang.”
Michi benar – benar
tersadar sekarang. Ia sudah tahu bahwa Shori tak akan pernah datang untuknya.
Ia pun memutuskan untuk benar-benar melupakan Shori walaupun akan susah. Sangat
susah. Dan ia mulai meneteskan air matanya. Dia hanya bisa berharap ini adalah
air mata terakhirnya untuk Shori. Ia harus bisa, dia juga harus kuat menghadapi
ini. Suatu saat nanti dia pasti akan terbiasa dan mulai melupakan laki-laki di
masa lalunya itu.
Sambil terus meneteskan air matanya, ia beranjak dari kursi itu
dan berjalan. Ia ingin mulai melupakan semua ini. Ia masih ingat, Xiumin pernah
menyatakan cinta padanya di tempat ini. walaupun sudah 2 tahun lamanya. Xiumin
sebenarnya masih sering menghubungi Michi dan masih tetap menunggu Michi sampai
Michi siap menerimanya.
Michi terus berjalan sambil menundukkan kepalanya. Kemudian angin
berhembus untuk yang ke sekian kalinya. Namun kali ini terasa beda. Ia mencium aroma
minuman dari hembusan angin barusan. Dan tampaknya itu adalah aroma kopi. Ya,
itu memang aroma kopi dan Michi mengenalinya. Karena itu adalah aroma kopi susu
yang pernah Xiumin beli untuknya.
Aroma itu semakin dekat,
seakan ada seseorang yang membawanya dan sedang berjalan ke arahnya. Kemudian
Michi mendongakkan kepalanya dan … memang benar. Seseorang sedang berada di
hadapannya sekarang. Membawa dua gelas kopi susu ditangannya.
“Hei, udah bangun kamu ? karena tadi kamu masih tidur, jadi aku
beli kopi susu dulu buat kamu.” Michi tercengang. Entah ia harus mempercayai
ini atau tidak.
“Shori … kau datang.”
.
.
.
~Owarimashita~
Waaaa //w// gimana ? aneh ya ? geje banget kan, aduuhh ;w;
maap ya klo geje ceritanyaa. ini acu 2 bulan bkinnya.
dan baru slesai 2 hari yg lalu //w//
gomen ne klo aneh ;w;
Happy Birthday Desynta Nurrahmawati Firman ^w^