Rabu, 27 November 2013
Download JUMP World 2012 (Hey Say JUMP)
Selasa, 26 November 2013
Sabtu, 23 November 2013
Kindaichi Shonen no Jiken Bo
Kindaichi Shōnen no Jikenbo (Kindaichi Case Files) will return with a new live-action television special, Kindaichi Shōnen no Jikenbo: Gokumon Juku Satsujin Jiken (The Prison Cram School Murder Case), next January. Ryosuke Yamada of Hey! Say! JUMP will reprise his role of the teen detective Hajime Kindaichi.
The setting of next January's special is the jungles of Malaysia. (This special will be NTV's first co-production with a Malaysian television station.) In the story, Kindaichi joins his childhood friend Miyuki Nanase in Sparta, a prestigious "prison" cram school. There, they uncover a mysterious death, which turns out to be a taunting challenge from a brilliant producer with criminal dealings throughout the world.
The setting of next January's special is the jungles of Malaysia. (This special will be NTV's first co-production with a Malaysian television station.) In the story, Kindaichi joins his childhood friend Miyuki Nanase in Sparta, a prestigious "prison" cram school. There, they uncover a mysterious death, which turns out to be a taunting challenge from a brilliant producer with criminal dealings throughout the world.
The Kindaichi Case Files Gate of Jail Private School Murders will air in January 2014.
The setting of next January's special is the jungles of Malaysia. (This special will be NTV's first co-production with a Malaysian television station.) In the story, Kindaichi joins his childhood friend Miyuki Nanase in Sparta, a prestigious "prison" cram school. There, they uncover a mysterious death, which turns out to be a taunting challenge from a brilliant producer with criminal dealings throughout the world.
The setting of next January's special is the jungles of Malaysia. (This special will be NTV's first co-production with a Malaysian television station.) In the story, Kindaichi joins his childhood friend Miyuki Nanase in Sparta, a prestigious "prison" cram school. There, they uncover a mysterious death, which turns out to be a taunting challenge from a brilliant producer with criminal dealings throughout the world.
Hey! Say! JUMP member Daiki Arioka also returns as Ryūji Saki, Kindaichi's junior schoolmate. Another returning cast member is Wu Chun
(former member of the Taiwanese band Fahrenheit and the star of the
Taiwanese version of Hana Zakari no Kimi-tachi e) as Byron Li.
Kazuki Kitamura will play a teacher at the Sparta cram school, and Hiroki Narimiya will play Yōichi Takato, a nefarious mastermind and Kindaichi's eternal nemesis.
2PM’s Nichkhun is Going to participate too. Nichkhun will
portray a top student who has the key to the case. Nichkhun’s character
will be an honor student who works as hard as he can despite the
numerous adversities that come his way. He is also the key character who
holds the clues to solving the case. Nichkhun is expected to have an
intense impact on viewers.
Produced to celebrate NTV’s 60th anniversary of establishment, the
upcoming drama is the major channel’s one of the representative shows
whose first series began airing in 1995, scoring an average rating of
23.9 percent.
Based on the world-renowned comic book of the same name, the drama lastly aired its episode this January starring Seungri of Big Bang and received an award from the Tokyo Drama Awards 2013.
The Kindaichi Case Files are a drama adaptation of a popular detective
manga (Japanese comic). It has been serialized for the past twenty years
on the Weekly Shonen Magazine and is known not only in Japan but also
around the world. The first drama adaptation aired in 1995, since which they have maintained average audience ratings of 23.9% and become Nippon Television’s leading drama. In particular, the Kindaichi
Case Files Treasure in Kowloon, Hong Kong drama that aired in January
2013 was met all over Asia with favorable reviews and received an award
at the recent Tokyo Drama Awards 2013.
The Kindaichi Case Files Gate of Jail Private School Murders will air in January 2014.
Senin, 04 November 2013
Shiritsu Bakaleya Koukou
Shiritsu Bakaleya Koukou. Awalnya merupakan
nama sebuah dorama (drama
dalam bahasa Jepang) yang sebagian besar pemerannya ialah member AKB48. Ada
Haruka Shimazaki, Mina Oba, Mariya Nagao, Mariko Nakamura, dan Marina
Kobayashi. Bahkan penulis naskah aslinya sendiri pun ialah Yasushi Akimoto,
pendiri AKB48. Dan penyanyi untuk ending theme-nya
itu - yang berjudul “Migikata” - ini ialah Atsuko Maeda alias Acchan
yang 2012 silam sudah lulus. Tak hanya itu, di dorama-nya, ada beberapa episode
yang begitu gencar mempromosikan AKB48. Bagi para fan, pasti tak asing dengan
istilah senbatsu atau jankenpon (Sebetulnya ini nama suit
Jepang) yang akan diceritakan di dorama
ini.
Mengetahui kabar merger tersebut, beberapa murid senior Bakada protes. Mereka main masuk begitu saja ke kantor guru. Tapi protes mereka diabaikan. Keputusan tetap keputusan. Mereka harus bersedia menerima kedatangan murid-murid perempuan yang awalnya bikin jengkel. Bagaimana tak bikin jengah? Siswi-siswi tersebut berani benar dengan para murid Bakada yang sudah terkenal keberingasannya. Siswi-siswi itu dengan beraninya mencopot plakat Bakada, merombak toilet, membuang meja bersejarah Bakada, hingga merombak total isi ruangan kelas.
Tapi sih, yang menjengkelkan saat meja kebanggaan para Bakada dibuang. Siswi-siswi itu tak tahu meja tersebut begitu berharganya. Makanya, mereka bingung setengah mati kenapa para murid lelaki sampai rela mencari meja yang sudah dibuang. Tapi pimpinan siswi Cattleya yang bernama Fumie Shingyoji mengerti sangat kenapa mereka melakukan itu. Walau sudah usang, yang namanya benda penuh kenangan pasti akan sulit dibuang.
Itulah awal-awal kisah pertemuan siswi Cattleya dengan murid Bakada yang bengal. Selanjutnya banyak kisah menarik yang terjadi dan memberikan pelajaran berharga, khususnya ke siswi-siswi Cattleya; terlebih lagi untuk Fumie. Fumie yang merasa dirinya sempurna akhirnya sadar bahwa ia sudah melewatkan beberapa hal dalam kehidupannya yang nyaris sempurna. Bahkan dari salah seorang murid Bakada bernama Tatsuya Sakuragi, ia belajar tentang arti persahabatan. Kala itu, Tatsuya menegurnya, “Jadi kamu lebih mementingkan pelajaran daripada teman?”. Waktu itu, ada salah seorang teman Fumie yang lagi ada masalah dan harus absen. Dan Fumie, bukannya mencari, ia malah sibuk di dalam kelas dengan alasan tak baik meninggalkan jam pelajaran yang sedang berlangsung.
Sungguh dorama yang satu ini, walau banyak adegan kekerasan dan bahasa eksplisit, namun penuh moral dan layak ditonton kaum remaja. Dorama ini mengajarkan tentang apa itu solidaritas dan persahabatan. Seperti saat Tatsuya yang kerepotan bikin naskah pidato. Teman-temannya yang pergi dahulu karena enggan membantu, jadi balik lagi dari kesibukan masing-masing. Atau saat Cattleya diterpa isu tak enak, murid-murid Bakada dengan sukarela membantu. Tatsuya malah menyuruh kawan-kawannya untuk menghibur Fumie. Lucu melihat kawan-kawan Tatsuya berusaha melawak, tapi tampang Fumie datar.
Terakhir, dorama ini terdiri dari 12 episode, seperti layaknya dorama-dorama lainnya. Walau berakhir, Shiritsu Bakaleya Koukou tetap berlanjut dalam bentuk film. Namun kalau boleh jujur, lebih suka dorama-nya ketimbang filmnya. Lebih berkesan. Filmnya, terlebih ultimanya, kurang greget. Tapi tetap saja, suka dengan cara sutradaranya, Takashi Kubota yang berani bereksperimen dengan menggabungkan unsur action, romance, dan commedy menjadi satu bagian utuh yang enak ditonton. Ini sungguh hiburan yang jarang sekali kita temukan. Coba deh berpikir. Berapa banyak sih film - dimana ada adegan pukul-pukulan yang begitu dipertontonkan, lalu ada adegan mesra-mesraan khas romance, diikuti aksi-aksi konyol khas komedi? Jarang sekali, kan? Nah itu dialah kelebihan film ini. Dijamin tak akan pernah bosan menonton film Shiritsu Bakaleya Koukou ini.
Minggu, 03 November 2013
Love After Goodbye in the 2 Last Train (3)
Author : Veronica Rii (https://twitter.com/tokyomeistyle)
Title : Love After Goodbye in the 2 Last Train
Type : multichapter – part 3 (final part)
Rating : PG-15
Story Language : Indonesia
Genre : Romance—Angst
Story chara : Miyama Rie – Inoo Kei, dan tokoh pendukung lain
Pov : Miyama Rie
Disclaimer : I don’t own anything. Hope u can enjoyed my simple story
-Synopsis-
Seorang gadis SMA yang awalnya menggerutu karena sekolahnya sangat jauh, namun lama-kelamaan timbul sesuatu yang membuat dia lebih menikmati itu. Cinta yang mengalun dalam perjalanannya sangat terlambat ia sadari. Kenyataan sebenarnya yang menanti sungguh tak terduga. Ia terjebak dalam permainan alur waktu dari perasaan orang yang disukainya. Meski demikian ia tetap harus tersenyum.
~*~*~* PART 3. & FOREVER *~*~*~
Arakawa Miki-san adalah balerina terkenal yang sempat mengharumkan negara Jepang ini di kancah perlombaan Asia.
Apa Kei kenal dia?
‘ah... sou nan da...’
Aku teringat, Kei pernah bercerita bahwa ia adalah mantan model. Mungkin... kalau memang asumsiku benar. Mereka bertemu di dunia entertaiment saat sang legenda Arakawa Miki diliput dimajalah, dan bersamaan dengan sesi pemotretan Kei. Iya... mungkin mereka pernah bertemu, entah kapan tepatnya...
Rasa ingin tahuku mengundang untuk membuka sedikit isi tas karton kecil yang ku genggam sejak tadi. Sembari berjalan aku memperhatikannya, didalamnya tampak kotak kaca transparan yang cantik dengan bantalan busa tertutup kain merah persis seperti tempat cicin pertunangan, namun ini ukurannya sedikit lebih besar. Bisa dibilang persegi panjang. Kuangkat sedikit kotak itu. Isi didalamnya dapat jelas terlihat. Ada kalung perak dengan cincin ditengah sebagai mata kalung tersebut. Peraknya sangat jernih, dengan beberapa hiasan berlian putih kecil melingkar menambah kesan elegan pada cincin yang berfungsi sebagai penghias tengah sang kalung. Sangat indah... Terlebih lagi saat aku melihat selembar foto tawa Kei yang sedang berdua di taman penuh warna kehijauan dan bunga, bersama balerina cantik berambut hitam lurus panjang itu dan anjing brown pomeranian lucu dalam pelukannya. Mereka tepat duduk di tepi air mancur jernih dengan warna alami cipratan air, suasana ceria dan mentari cerah yang memperbagus image pencahayaan foto itu. mereka semakin terlihat serasi seperti 2 insan yang memang dilahirkan untuk melengkapi satu sama lain.
Disisi putih bagian bawah foto Polaroid potrait yang memuat full-body 2 orang yang difotonya itu juga terdapat tulisan... yang sebenarnya sangat menyayat hatiku. Untuk kesekian kalinya hari ini.
‘HAPPY OUR ANNIVERSARY’
-LOVE YOU. By KEI
Menyakitkan bukan? Sekarang aku tahu apa maksud permohonan Kei. Ia ingin menyampaikan hadiah spesial ini pada orang tercintanya. Hadiah yang mengaggumkan, gadis yang sempurna, laki-laki yang pernah jadi model. Benar-benar tanpa celah. Aku hanya orang luar saja...
Aku sedikit melamun saat melangkah. Sudahlah, tidak ada gunanya kupikirkan sekarang. Semuanya sudah berlalu... Aku teringat kertas alamat itu. Merasa familiar dengan alamat ini. Dan benarlah saja. bahwa alamatnya menunjukan daerah yang tidak jauh dari sekolahku. Akupun dengan segera bisa menjangkaunya.
Setelah sampai pada alamat yang dituju, aku sudah tidak heran bahwa rumah yang kini kutatap ada di hadapanku cukup terbilang mewah. Mengingat pemiliknyapun seseorang yang tak asing di telinga masyarakat luas.
“Sumimasen....” aku mulai menekan bel disisi pojok kanan dari tembok penyangga pagar.
“dare desu ka?” suara speaker dari dalam rumah yang tertempel pada tembok disamping tombol bel mulai menyapa
Aku sempat bingung menjawabnya, karena aku bukan siapa-siapa nona pemilik rumah pada situasi seperti ini, “hmm... aku teman kenalan Arakawa Miki-san. Hanya mau menyampaikan barang titipan.” Seruku
Wanita yang tampaknya paruh baya dalam rumah itu tampak terkejut “Miki-sama? Gomenasai... Miki tidak tinggal disini lagi.”
“eh?” aku terheran dengan apa maksud ucapannya itu
“Miki sudah lama menikah dan tinggal bersama sang suami dirumah barunya.” kata suara itu yang tampaknya bisa membaca rasa heranku
Aku baru teringat. Ini sudah belasan tahun lamanya sejak Kei bermaksud mengirimkan barang ini, dan menuliskan alamatnya. Jadi wajar saja sekarang telah banyak perubahan.
“boleh saya tahu alamat barunya?” tanyaku yang sudah bertekad akan terus mengusahakan permohonan Kei, orang yang ku sukai...
Untuk beberapa detik suara di dalam sama sekali tak merespon
“gomenasai. Aku tak bisa memberitahu alamat rumahnya. Tapi anda bisa mengunjungi 2 rumah kekiri begitu keluar dari blok ini. Itu rumah kenalannya. Kalau anda beruntung, anda bisa bertemu langsung dengan Miki-sama yang sesekali berkunjung. Tapi bila beliau sedang tak ada disana, anda bisa titipkan saja barangnya pada penghuni rumah itu.” jelasnya
“Hai. Arigatou Gozaimasu!”
Aku segera berlari ke tempat yang diberitahukan. Dan ternyata rumah yang dimaksud adalah kenalan Miki-san merupakan rumah biasa dengan papan bertuliskan, ‘TAKEI HOUSE MENERIMA PENGASUHAN ANAK’
‘apa maksudnya ini?’
Apa mungkin alamat yang dijelaskan itu salah?
Aku terdiam didepan pagar rumah teknik panggung berhiaskan tanaman-tanaman bambu layaknya bangunan Jepang tradisional dengan sedikit renovasi kearah modern dibeberapa sudut rumah yang mungkin dulunya terlalu tua. Populasi rumah model ini hanya beberapa yang bisa terlihat. Karena jarangnya bahkan rumah seperti ini kerap berada di dorama-dorama, yang memang diperuntukan untuk shoot scane tempat tinggal seorang kakek-nenek dari sanak keluarga sang tokoh utama. Menurutku memang kesan luar rumah ini sangat kental akan zaman dahulu.
Kupikir daripada bingung tanpa jalan keluar, lebih baik aku bertindak.
“Sumimasen... aku mencari Arakawa Miki-san...” seruku setengah berteriak dibalik pagar sisi luar. Namun karena aku masih tak yakin dan hatiku belum siap bila tiba-tiba bertemu Miki-san. Kuputuskan untuk meletakan barang tersebut dijalan setapak kecil—yang mengarah ke dalam pintu rumah—pada balik pagar sisi dalam.
“Takei-san, aku titip anakku ya... seperti biasa sepulang bekerja pukul 6 sore akan aku jemput. Arigatou gozaimasu...”
Aku mendengar suara wanita yang tampak dekat dimuka pintu, seperti akan keluar.
Aku mengamati diam-diam dari balik tembok yang menyangga pagar
“Mama, ada yang memanggil diluar...” suara decitan sepatu balita mendekat dan perlahan pintu geser itu terbuka.
“Shin-kun, hati-hati.” tak lama sesosok wanita berpenampilan fresh dan sporty dengan tubuh semampai mengenakan busana outfit wanita karir sentuhan warna abu-abu yang mendominasi dan rok selutut—yang semakin menunjang kaki tingginya—ikut keluar.
“Mama, ini apa?” anak itu mengambil tas karton kecil yang kuletakan dengan penasaran, lalu memberikannya pada wanita yang ia panggil mama
Aku semakin jelas melihat sosok wanita—berambut cat coklat diatas bahu tersebut.
Miki-san... cantik...
Aku terpana dari balik persembunyianku—beruntung tubuhku yang bisa dibilang pendek ini tertutupi sempurna oleh ukuran tembok. Apa itu anak laki-lakinya? Untuk ibu yang sudah pernah hamil dan melahirkan anak, tubuh Miki-san sangat bagus bahkan bisa dibilang tanpa perubahan seperti gadis remaja berpostur model. Benar-benar hebat...
Aku melihat Miki-san membuka tas kecil itu lalu mengangkat kotak kaca transparan dan membaca pada apa yang tadi juga kubaca. Tiba-tiba airmatanya mengalir...
Aku seakan ikut merasakan kepedihannya. Dunia penuh cinta Kei dan Miki yang belasan tahun lalu terhenti akibat kecelakaan yang merenggut nyawa Kei, kini tiba-tiba kembali diangkat ingatannya kepermukaan dan berulang dalam hati saat kedua mata Miki-san menemukan barang yang seharusnya sudah diberikan sebagai hadiah hari jadi pacaran mereka.
Mereka pasti sudah melalui masa-masa pahit. Masa kelam untuk Miki-san saat kali pertama telingannya mendengar sosok orang yang dikasihinya tiada lagi di dunia yang sama dengannya. Perasaanku sungguh tak ada apa-apanya... Aku tak sepantasnya menangis disini, karena aku ingin Kei bahagia disana atas berhasilnya aku yang bagai kurir cinta Kei ini. Tak ada kata menyesal bagiku telah bertemu dengan Kei, karena pertemuan itu menuntunku kedalam kisah cinta menembus waktu yang menakjubkan.
‘Captain Kei, tugasku selesai...’
Kuputuskan untuk pulang. Ini sudah jauh terlambat dari waktu jam sekolah, kalau belajarpun sepertinya tak akan ada yang masuk otakku. Banyak hal yang terjadi hari ini. Dan aku ingin istirahat menenangkan diri dalam kamar nyamanku.
Akupun berjalan menuju stasiun...
Anehnya, mataku tetap saja mencari wujud 2 gerbong terakhir. Masih terbayang sosok Kei yang duduk dikereta itu. Sepertinya aku akan sulit melupakan Kei. Anggaplah itu semua kenangan yang akan mengundang tawa kecilku saat mengingatnya. Cukup biarkan perasaan ini mengalir dan menghapus jejaknya sendiri.
Untungnya kalau jam sekolah dan kerja seperti ini, kereta sedikit kosong. Jadi aku masih bisa berlega hati untuk menaiki gerbong tengah dengan nyaman...
*~*~*~*~*~*
Akhirnya aku sampai dirumah. Sangat sepi... karena semua keluargaku tak ada. Aku memasuki kamar— yang tak seberapa luas—dengan tubuh lunglai dan menyeret tas, lalu ku letakan di meja. aku menjatuhkan diri ke kasur yang diletakan menempel dengan tembok. Aku berbaring masih dengan seragam dan syalku—lengkap. Aku memandang langit-langit dengan tatapan kosong. Besok sudah hari kelulusanku, ‘doushiyo...’ aku benar-benar tak bersemangat.
Aku hanya diam tak bergeming dalam ruangan bernuansakan kayu dengan cat brown alami dan beberapa baju one piece yang kugantung di dinding-dindingnya sebagai dekorasi sederhana pewarna ruangan—yang menjadi kamarku ini.
Tak lama kemudian ada suara gemerincing gantungan kunci dari luar rumah menyusupi keheningan rumah yang sepi. Diikuti suara pintu terbuka.
“Rie-chan, kau sudah pulang?” seru suara yang sangat kukenal, yaitu suara Neechan. Tampaknya ia melihat sepatuku yang kulepas tanpa arah saat masuk tadi.
Perlahan aku mendengar derap kaki semakin mendekat. Dan benarlah saja, Neechan datang membuka pintu kamarku.
“Kau kenapa, kok sudah pulang?” tanyanya melongok diambang pintu—hanya menunjukan kepalanya
Aku yang masih dalam posisi tidur, tak menjawab. Karena aku memang bingung harus menjawab apa. Tepatnya otakku sedang disconnect untuk berdalih mencari alibi.
Tak ada respon yang kuberikan, Neechanpun kembali beranya “kau ada masalah?”
Bingo!
Kenapa bisa tepat?
Neechan melangkah masuk dengan santai dan menyeret kursi belajarku “matamu seperti habis bengkak karena menangis... Tadi pagi juga kau sepertinya lesu sekali, ada hubungannya dengan Kei Inoo?” katanya dengan gaya menopang dagu pada bagian senderan kursi yang ia putar sebelum diduduki
“eh? kenapa neechan tahu?” ekspresiku yang tadinya hanya datar, tiba-tiba terkejut mendengar pertanyaan yang satu itu.
“Wah. Ternyata benar. iie betsuni... Hanya kebetulan. Kau ingat aku yang membangunkanmu pagi ini? Setelah kau pergi untuk mandi, aku heran dan terduduk, lalu membuka laptop ayah dengan maksud mengerjakan ketikanku selagi ayah belum bangun dan memakai laptopnya. Saat kubuka layar, ternyata sedang dalam ‘sleep mode’. Kau tampaknya memakai laptop ini semalam dan langsung menutupnya, maka laptop itu akan otomatis masuk ke sleep mode atau pemadaman layar sementara, kau pasti tahu itu kan? Kalau sleep mode, apapun yang dikerjakan sebelumnya akan terlihat bila belum di close. Dan aku melihat setiap tab yang terbuka dari new tab yang biasa kau lakukan saat browsing internet. Tadinya aku sedikit heran, kenapa kau mencari tahu tentang berita kecelakaan Ueno tiba-tiba. Namun aku melihat foto seorang pria bernama Inoo Kei. Jadi kusimpulkan begitu saja, bahwa matamu bengkak akibat menangis setelah melihat foto Inoo Kei itu. Ternyata memang benar ya... Memang ada apa dengan pria yang meninggal belasan tahun itu? kalau kau mempunyai beban pikiran, sebaiknya diceritakan saja. Nee siap mendengarkan dan memberi saran bila Nee bisa.” jelasnya lalu diakhiri senyum
Aku berpikir dalam diam.
“baiklah. Aku akan menceritakan semuanya... Aku harap bercerita seperti ini dapat mengurangi bebanku, Nee...”
Kami memulai pembicaraan serius, dan Neechan pun turun dari kursi untuk berada lebih dekat. Kami duduk bersama dikasur dengan posisi saling berhadapan.
Akupun menceritakan semuanya. Semuanya.... benar-benar semuanya. Dari awal aku bertemu dengan Kei hingga kami terpisah. Segala tentang latar belakang Kei, macam-macam yang kami obrolkan bersama, sampai perasaanku yang sesungguhnya, kutumpahkan semua isi hatiku selama ini tanpa ragu pada Neechan. Dan tak terasa satu jam sudah terlalui dengan banyaknya kata yang terlontar oleh mulutku, meski tak jarang diwarnai dengan isakan tangis. Karena menceritakan kembali itu butuh keberanian, pasalnya seperti menaikan kembali dan memutar ingatan pedih dari awal dilubuk hati ini yang sebenarnya ingin kulupakan. Namun Neechan mendengarkanku dengan sabar dan mengusap lembut kepalaku apabila aku mulai menangis dan tertunduk dipangkuannya.
Neechan menerima semua yang kukatakan, padahal kupikir seharusnya orang biasa yang tak mengalami ini pasti mengaggap segala hal mustahil itu hanyalah omong kosong atau khayalan gila yang bercampur mimpi buruk semata. Tapi Neechan beda, dari awal hingga akhir dia menyimakku dengan serius, tak memotong sedikitpun dan menungguku dengan sabar saat aku menangis tak bisa melanjutkan kata-kata. Dia membelaiku dengan senyum seakan ikut merasakan kepedihan yang kurasakan dari tiap tetesan airmata dan ekspresiku yang mengalir alami.
“aku sudah selesai Nee...” ucapku di akhir cerita sembari menyeka wajahku
“Itu pasti berat ya untukmu. Bolehkah... Aku berpendapat dan memberikan asumsi?”
Aku mengagguk pelan dengan wajah penuh tanya
“Aku hanya ingin meluruskan beberapa hal yang masih menjadi misteri disini. Apa kau menyadari dan mengerti akan semua keganjilan dari kejadian yang kau alami?”
“iie... Ada yang aku tak mengerti. Seperti mengapa hanya aku yang melihat 2 gerbong terakhir itu.” aku mulai berpikir dan menyadari keanehan ini
“Saa, mari kita bahas dari awal. Aku tak ingin airmata curahanmu itu sia-sia kau keluarkan, jadi mari kita buat ada manfaatnya, dengan menyimpulkan apa yang bisa kita terka bersama-sama. Pertama adalah, mengapa hanya kau yang mellihat 2 gerbong terakhir itu, iya kan? Itu mungkin karena perasaan di hatimu yang mudah percaya akan segala hal. Sewaktu kecil kau sangat mempercayai bahwa ada obake disetiap sudut rumah, apa kau ingat?”
Aku merespon dengan anggukan perlahan, mengingat masa kecilku itu.
“Mungkin hatimu yang mudah percaya dan lembut itulah yang membuatmu bisa melihat 2 gerbong arwah yang mustahil nampak bagi orang biasa. Tapi kau justru tak sengaja melihatnya dengan mata batinmu yang beraksi tanpa kau ketahui. Lalu kau menaiki kereta itu, maka kau sampailah pada takdir yang memang akan mengantarmu menuju perpisahan ini. Kei yang memiliki perasaan cinta mendalam pada Miki, terenggut nyawanya dalam kecelakaan tepat dihari ia akan memberi hadiah itu. Hadiah hari jadinya, yang sangat penting bagi Kei maupun Miki. Oleh karenanya arwah Kei tak tenang sebelum bisa menyampaikan hadiah itu ada Miki. Perasaan cintanya yang kuat membuatnya bisa sabar menanti adanya orang yang dapat membantu niat tulusnya. Cukup lama 2 gerbong belakang itu terus membayang-bayangi, namun tak ada orang yang berhati tulus dan lugu sepertimu. Sehingga belasan tahun penantian ini Kei tak menemukan orang yang dapat melihat keberadaan dan memasuki gerbong istimewa itu. Hingga kau datang... Saat itu pasti sebenarnya Kei senang sekali. Sehingga dia bersikap ramah dan peduli padamu.”
aku memeluk bantal kesayanganku, sambil mendengarkan Neechan menjelaskan tadi.
“Tapi kenapa aku bisa naik kereta arwah itu lama sekali, hingga 3 tahun Nee?”
Neechan tampak berpikir sambil menopang dagu dengan lengan yang berdiri diatas kaki silanya pada tempat tidurku, “oh iya. Itu mungkin karena perasaan Kei yang kuat. Ini berhubungannya dengan Kei yang selalu menjawab ‘ada urusan’ itu setiap kau tanya. Sebenarnya itu hanyalah sebuah dalih untuk beralibi, Rie... Stasiun tujuannya adalah Morioka, sama seperti mu. Itu untuk menuju ke rumah Miki mengantarkan hadiahnya, hanya saja karena ia tak bisa mengantarkannya, dan arwahnya memang hanya bisa diam dikereta, maka ia bilang bahwa ia turun satu stasiun setelahmu. Dan itu juga alasan menapa setiap kau menaiki kereta itu selalu ada dia. Perasaannya yang kuat itu tak menginginkan kau pergi meninggalkannya, jadi kau tetap merasakan keberadaan 2 gerbong arwah itu meski lamanya hingga tiga tahun. Karena tiga tahun itulah waktu yang kalian habiskan untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Kei ingin dia bisa akrab denganmu, sampai ia tenang menitipkan hadiah penting itu ke tanganmu, sebelum ia benar-benar menghilang.”
Penjelasan neechan, perlahan mulai bisa ku cerna, “Tapi bagaimana dengan kereta yang tiba-tiba banyak penumpang? Aku pernah berdiri dengan Kei karena tak mendapat kursi. Juga saat aku lihat banyak penumpang berkurang yang turun disetiap stasiun yang kami lewati...” ternyata pertanyaanku masih belum menemukan kata akhir
“Kau pernah merasakannya? Hal tersebut mungkin karena memang semua arwah dari korban jiwa tragedi Ueno itu, seharusnya turun di tempat mereka turun. Makanya kau melihat mereka turun seperti orang biasa. Namun sesungguhnya hanya kau yang melihat itu. Karena mereka tak nampak. Mereka hanya suka berjalan-jalan saja, seperti yang biasanya jasad mereka lakukan sebelum meninggal. Mungkin mereka memang selalu turun-maupun naik kereta dari tempat yang kau lihat itu. singkatnya, itu hanya halusinasimu...”
Seketika aku teringat pernah iseng memotret Kei sekali saat mencoba kamera ponsel baruku pada kenaikan kelas 2. Dengan segera aku raih ponsel dalam sakuku itu lalu kubuka album fotonya. Dan jawabannya mengejutkan rasa semangatku yang tadi sempat mengalir langsung surut drastis, ‘Error File’ foto ini tak bisa diliat untuk selamanya...
Aku tertunduk dalam diam setelah memahami semuanya
“Intinya, segala keanehan atau mungkin keajaiban ini bisa terjadi semata-mata karena perasaan Kei yang sangat kuat itu menyelimuti 2 gerbong terakhir. Sepertinya baik Kei maupun Miki benar-benar saling menyukai. Dan perasaan mereka itu, terutama Kei, menuntunmu dengan takdir bertemu dengannya. Kalian bertemu dan semakin akrab. Lalu kau menyukai orang yang juga sudah menyukai orang lain. Perasaanmu disini seperti orang luar dalam permainan waktu dari cinta kedua orang itu.” Neechan merangkulku yang kembali mulai meneteskan airmata atas segala kenyataan itu. Pelukan hangat ini seakan bisa membaca kebutuhan hatiku agar dapat menenangkan diri
Tiba-tiba alarm kecil jam tangan Nee berbunyi, “eh? itu apa Nee?” tanyaku melepaskan diri setelah mulai bisa tenang dalam pelukannya
“Yabaii~ waktu istirahatku habis. Saatnya aku kembali!” dia bergegas keluar kamarku dan berjalan menuju pintu rumah dengan langkah seribu untuk memakai sepatunya
Aku mengikutinya perlahan dari belakang—bermaksud mengantar kedepan “jadi Neechan masih dalam jam kerja ya?”
“iya. Aku biasanya kalau waktu istirahat memang mampir ke rumah untuk sedikit membantu ibu mencuci sayuran, agar nanti makan malam jadi mudah tinggal dimasak tanpa menunggu lama.” Jawabnya masih dengan gerakan tangan cepat sambil duduk untuk mengenakan sepatu kedua
Aku terkejut, merasa tak enak mendengar jawabannya “sou ka... Gomenne, gara-gara mendengarkan ceritaku neechan jadi kesulitan”
“iie. Shinpaishinai de. Daijobu...” Neechan tertawa kecil, dan mengusapkan tangannya pada kepalaku “oh ya. Karena kamu dirumah, maka kamu saja yang mencuci dan merebus sayuran itu. Neechan harus buru-buru berangkat. Jaa ne, ittekimasuuu!”
“hai, iterashai~” lambaiku pada Neechan yang sudah keluar pintu, tapi aku seperti teringat sesuatu, lalu aku bergegas keluar, “Neechan!” panggilku pada Nee yang sudah berjalan beberapa langkah setelah menutup pagar
Ia menoleh seketika “hai?”
“arigatou...” ucapku dengan senyum
Dan dia hanya membalas dengan lambaian tangan membelakangiku sambil berlari. Aku menatap siluetnya yang perlahan menjauh.
Entah kenapa, aku semakin bersyukur memiliki saudara yang baik, seperti Neechan. Karena berkali-kali... Hingga sudah tak terhitung lagi berapa kali ia sudah menolongku dan membantuku yang terpuruk. Itulah Neechan yang paling kusuka. Daisuki, hontou ni...
~*~*~*~*~*~*
Malam ini untuk pertama kalinya aku tidur dengan hati gelisah, tak setenang istirahat hari-hari biasanya yang hanya diwarnai aktivitas datar dan monoton tanpa hal istimewa dihidupku. Hari ini aku ingin terlelap tenang, meninggaklan rasa tercampakan hasil hati galau karena orang yang disukai sudah tak ada didunia yang sama.
Kupejamkan mataku perlahan, berharap bisa langsung tertidur pulas untuk memberi break pada otak yang hari ini menerima banyak pukulan...
Besok adalah hari kelulusanku. Juga untuk kali pertamanya aku membuka mata dan berangkat tanpa Kei disisiku.
~*~*~*~*~*~*
Tiba-tiba aku merasa ada lengan yang merengkuhku dari samping. Jangkauan lengannya panjang dan sempurna melingkar dibahuku yang tampaknya kecil bagi dia. Aku mengangkat kepalaku, mencoba melihat siapa ia yang telah memberiku kehangatan. Ternyata Kei...
Ini sama seperti keadaan pada malam setelah aku membuka berita mengenai tragedi Ueno itu dilaptop ayah. Aku yang tampak menangis sendirian didapur menaruh kepala pada lipatan tangan sambil menangis dimeja makan.
Dia membangunkanku—memutar bahuku sehingga membuatku menatap sosoknya yang sedang duduk dikursi meja makan tepat sebelah kananku. Tangan lentiknya menyentuh wajahku lembut, dan kedua ibujarinya menyeka airmataku yang tadi mengalir deras. Ia memberiku senyuman, membisikan sesuatu... Lalu memeluku dan mengecup keningku, sebelum akhirnya benar-benar menghilang dan meninggalkanku sendiri—dalam ruangan yang mulai menjelma menjadi kegelapan seutuhnya.
‘sekarang aku tenang. Saat aku hampir mencapai batas waktunya, aku sudah berhasil menitipkan kalung untuk Miki. Limit untukku, berarti tanda bahwa sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Takdir masih punya kejutan untukmu. Dan kau akan segera melihatnya... segera...’ itu yang tadi dia ucapkan.
~*~*~*~*~*~*
Aku terbangun.
Ternyata tadi hanyalah mimpi...
Aku menepuk wajahku kencang-kencang agar mataku terbuka lebar menerima cahaya mentari—yang menyerukan cerianya dari sela-sela tirai putih kamarku—mengumumkan pada seluruh orang bahwa hari sudah pagi. Bagaimanapun ini adalah hari penting. Di upacara kelulusan nanti aku tak boleh lesu. Tak boleh sedih. Dan harus mengikuti acaranya dari awal hingga akhir dengan hati yang nyaman.
‘Yoshaa!!’
Aku beranjak dari tempat tidur, untuk bersiap kesekolah—tepatnya langkah pertama adalah ke kamar mandi.
~* a few month later*~
Hari ini aku resmi memulai hari pertama sebagai Mahasiswi Meiji jurusan Arsitektur. Juga pertama kalinya aku mengunjungi makam Kei. Sudah hampir setahun sejak kepergiannya didepan mataku itu. Aku sangat merindukan tawa dan ucapan celetukannya yang tak jarang mengudang kegelian...
‘Kei... apa kau melihatku diatas sana?’
Aku akan selalu menaiki kereta dengan jurusan yang sama. Karena memang arah Tokyo hanya tinggal turun distasiun yang lebih jauh saja. Kalau sudah 1 tahun kuliah dan familiar dengan kondisi kota besar, aku baru diizinkan menyewa apato kecil untuk memudahkanku agar tak harus menempuh perjalanan jauh lagi setiap berangkat.
Hari ini katanya mulai diberlakukan 2 gerbong tambahan yang baru. Jadi gerbong lama yang rusak itu bukan diperbaiki, melainkan diganti dengan gerbong kereta baru oleh pemerintah. Fasilitasnya-pun lebih diperbagus untuk membuat penumpang semakin nyaman.
Akhirnya aku sampai di stasiun.
Aku merindukan alur bola mataku yang sekian lama tidak bergulir jauh kebelakang mencari sosok gerbong kedua. Kali ini aku memang menemukannya. Tapi bukan gerbong yang sama dengan yang kurindukan... Aku tertawa kecil mengingat masa lalu yang sekilas terputar kembali.
Walau belum ada tanda-tanda akan berangkat, aku selalu sudah memasuki kereta. Untuk berjaga-jaga apabila kereta penuh.
Setelah 10 menit menunggu, bunyi bell-pun mulai unjuk gigi dengan suara nyaringnya. Memberitahu pada seisi stasiun bahwa kereta siap diberangkatkan.
“Chottoooooo!!!” terdengar teriakan seseorang berlari mencoba menggapai pintu gerbong yang perlahan mulai menutup
“hiaahh!” iapun berhasil memasuki kereta nyaris pada detik-detik terakhir saat ukuran badannya hampir menyamai luang pintu “Saveeee~” ucapnya lega mengelus dada ditengah badannya yang membungkuk mencoba mengatur pernapasan kembali. Entah kenapa bajunya tampak familiar buatku.
Kereta pun jalan, dan tiba-tiba berguncang sedikit. Perasaanku tak enak. Aku yang mendapat posisi bergelantungan dipinggir dekat barisan kursi, hanya memejamkan mata karena takut. Seperti sedikit terdorong...
Tak lama kemudian aku merasa suasana sudah lumayan tenang dan aman, kereta sudah melaju perlahan dan aku mulai membuka mata.
Betapa terkejutnya, ternyata aku terpojok bersandar dengan tiang dalam pelukan sosok laki-laki berkemeja putih dengan sweater tanpa lengan dan celana panjang kotak-kotak biru seperti seragam SMA—yang tadi mencuri perhatianku saat hampir terlambat memasuki kereta.
“A—Arigatou...” ucapku dengan suara yang nyaris berbisik
Dia mengangkat tubuhnya—yang lebih tinggi tepatnya aku hanya sebahu orang ini—untuk menatapku, “daijobu desu ka?”
Aku terkejut melihat sosok wajahnya, mataku terbuka sedikit lebih lebar, aku menutup mulutku dengan sebelah tangan yang gemetar karena tak percaya. Demi apapun aku memang benar-benar tak percaya dengan yang kulihat.
Aku bertemu orang yang persis seperti Kei...
“Neesan sebaiknya hati-hati. Disini banyak pria. Aku akan menjaga Neesan...” ia memberikan sebuah senyuman yang membuat hatiku seketika hangat karena teringat Kei.
Aku mengangguk pelan, “kau siswa SMA?”
“iya aku baru masuk SMA didekat Morioka. Yang dari stasiun hanya butuh jalan itu. Neesan tau?” jawabnya dan balik bertanya
“Astaga... Pantas aku merasa familiar dengan seragammu.” Aku menepuk dahiku sendiri “tentu tahu. Itu SMA lamaku. Aku lulusan kemarin.”
“hee? Hontou? Kalau begitu Neesan itu senior ku ya. Oh ya Neesan. Kata ayahku aku harus mulai memikirkan tempat kuliahku kelak. Karena masa SMA itu hanya sebentar dan tak terasa. Aku harus merencanakannya dari jauh-jauh hari. Aku masih bingung dengan mimpi dan minatku. Apa Neesan punya saran?”
Mendengar itu membuatku tertawa kecil “Di Universitas Meiji jurusan Arsitektur saja. aku yakin kau bisa jadi orang hebat. Universitasnya bagus, dan tak butuh nilai yang terlampau jenius seperti todai agar bisa masuk. Kehidupanmu cukup terjamin. Kalau kau masuk disana, maka aku akan jadi seniormu, dan kau juniorku. Aku akan membimbingmu... dulu aku juga tak tahu apa mimpiku, sama sepertimu. ‘suatu saat, secara perlahan nanti kau pasti bisa menemukan impianmu’ seseorang yang ku sayangi pernah berkata demikian padaku,” aku tersenyum menjawabnya
Namun ia menatapku lekat seketika “Neesan… kenapa kau baik sekali padaku? Entah kenapa aku juga seperti sudah pernah bertemu Neesan sebelumnya. Aku merasa sangat familiar, dan nyaman bila disamping Neesan...”
disaat itu juga, seketika terngiang ucapan Kei saat ia memeluku dalam mimpi... ‘sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Takdir masih punya kejutan untukmu. Dan kau akan segera melihatnya... segera...’ aku tak bisa menghentikan ulasan senyumku setelah mengerti ternyata ini maksud ucapannya saat itu.
aku dipertemukan dengan Kei dalam wujud berbeda. Kali ini ia sebagai murid SMA, sementara aku mahasiswa Meiji. Aku menjadi geli memikirkannya. Sungguh posisi yg sama persis seperti saat aku bertemu dengan Kei dulu. Sampai kapanpun manusia tak akan pernah tahu, bagaimana roda kehidupan ini berputar... Music box tua yang pernah terhenti, perlahan mulai bernyanyi. Sama seperti piano dingin yang akan dimainkan kembali...
Aku sedikit berpikir, “Namamu Inoo Kei?”
Kali ini ia—yang sedang menggenggam pegangan bergantung yang tersedia untuk penumpang berdiri—disampingku itu terkejut. Membuatku berpikir bahwa tebakanku yang menduga-duga bahwa nama mereka juga sama itu adalah tepat.
Namun selanjutnya ia menggeleng, “nyaris... aku memang Kei. Tapi Inoe. Inoe Kei desu”
“apa kau juga seorang model?”
Ia kembali ku kejutkan, “Wah. Tepat! Aku memang model, tepatnya aku adalah seorang Johnnys. bagamana Neesan tau? Aku bahkan belum bilang nama, dan kini Neesan tahu aku model?”
Aku hanya memamerkan senyum dengan wajah usil pada laki-laki yang kini pasti bertanda-tanya-ria didalam otaknya itu.
‘Riechan, kalau kau bersama dia, aku percaya...’ seketika terdengar—sangat dekat disampingku—suara seorang Kei Inoo yang sangat ku rindukan. Lalu aku merasakan tanganku—yang sedang memegang ponsel disisi bawah ini—tampak hangat seperti ada yang menggenggam untuk melindungi.
Aku terundang kembali untuk membuka file foto Kei yang dulu sempat kubuka dengan hasil jawaban ‘Error file’. Dan betapa terkejutnya aku, kini entah kenapa foto itu bisa terbuka. Tampak seperti paparazzi—karena memang foto diam-diam—Kei yang sedang duduk dan membaca didalam kereta dengan sorotan mentari pagi cerah pada tembusan jendela tempat ia duduk—layaknya spotlight konser dari alam—cahayanya tampak ada khusus untuk menyinari sang bintang utama. Dan aneh nya difoto ini hanyalah terlihat seorang Kei, tanpa ada yang lain...
Anak laki-laki disebelahku mungkin terheran atas diamnya aku secara tiba-tiba dan ekspresi terkejut yang ketunjukan tanpa sadar saat melihat layar ponsel ku atas tampilan sebuah foto. “eh Neesan, itu foto siapa? Kok tampak seperti aku?” katanya mulai melirik
“Dia orang yang kusukai...” senyumku. Yang memang sudah sepantasnya kulukiskan untuk mengakhiri sagala kisah cinta yang luar biasa itu. Dan mungkin juga untuk mengawali kisah cintaku yang baru. Kali ini akan kubuat kisah cinta menakjubkanku sendiri...
“Kini, Apa kau percaya dengan keajaiban... Cinta?”
~OWARI~
Langganan:
Komentar (Atom)



















