Minggu, 03 November 2013

Love After Goodbye in the 2 Last Train (1)



Author : Veronica Rii (https://twitter.com/tokyomeistyle)
Title : love after goodbye in the 2 last train
Type : multichapter – part 1 
Rating : PG-13
Story Language : Indonesia
Genre : Romance—Angst 
Story chara : Miyama Rie – Inoo Kei, dan tokoh pendukung lain yang numpang lewat tapi juga berjasa bagi bangsa dan negara *eh?*
Pov : Miyama Rie
Disclaimer : I don’t own anything. Hope u can enjoyed my simple story 

Cerita ini terdiri dari 3 part (kira-kira). Part 1 sebagai introduce tokoh, lingkungan, dan arah alurnya. Part 2 klimaks. Dan part 3 conclusion.




-Synopsis-
Seorang gadis SMA yang awalnya menggerutu karena sekolahnya sangat jauh, namun lama-kelamaan timbul sesuatu yang membuat dia lebih menikmati itu. Cinta yang mengalun dalam perjalanannya sangat terlambat ia sadari. Kenyataan sebenarnya yang menanti sungguh tak terduga. Ia terjebak dalam permainan alur waktu dari perasaan orang yang disukainya. Meski demikian ia tetap harus tersenyum.



~*~*~* PART 1. CLOSER *~*~*~

 Pagi yang cerah, sangat sempurna untuk mengawali hari pertamaku masuk SMA. Meski SMA ku sangat jauh dari rumah—bisa dikatakan nyaris keluar kota, tapi itu tak boleh menyurutkan semangatku. Memang awalnya aku malas melangkahkan kaki kesana untuk 3 tahun kedepan. Tapi sepertinya aku tak punya pilihan lain. Daripada aku sekolah setengah-setengah tanpa memperoleh ilmu dan membuang waktu 3 tahun percuma, lebih baik aku mulai membiasakan diriku untuk perjuangan ini.

“Yosh...Kanpeki!” selesai aku sarapan dan memakai sepatu “itekimasu!” teriakku dimuka pintu pada keluargaku didalam yang masih menikmati sarapannya

“iterashai~” sahut mereka

Aku memang berangkat lebih awal satu jam dari mereka—ayah yang pergi kerja, juga neechan yang masih magang didekat rumah kami—keberangkatan awalku ini untuk mengantisipasi kata terlambat saat masuk sekolah. Dari daerahku, aku menggunakan bus setengah jam lalu berhenti di halte terakhir, berjalan sedikit menuju stasiun Akita, lalu menaiki kereta dengan durasi yang sama yaitu setengah jam mengarah ke Morioka. Berhenti di stasiun kecil tepat satu stasiun sebelum stasiun besar resmi Morioka, dan kembali berjalan kaki karena jarak sekolah sudah cukup dekat. Lalu sampailah aku. Kurang lebih seperti itu rutenya.

Untuk mengilangkan rasa bosan, aku memainkan playlist mp3 ponselku, yang disandingkan dengan headphone merah yang baru kubeli dari uang tahun baru. Aku suka warnanya yang merah karena tampak kontras serasi dengan syal rajutanku yang juga merah, tepatnya maroon.

Setelah lama duduk dan menyapukan pandangan pada langit biru perjalanan bus ini, akhirnya aku sampai dihalte.
Aku berjalan sedikit, menikmati alur angin yang lembut menerpa rambut sebahuku, memperhatikan banyak orang yang juga akan berangkat, dan setiap tapakan kaki anak kecil dengan tawa riangnya yang digandeng sang ibu menuju ketempat playgroup mereka. Ini hari pertama untukku melewati rute ini, aku masih sedikit kagum dengan kehidupan daerah ini yang tak pernah kulihat, namun aku pasti akan segera terbiasa.

Setelah sampai di stasiun, aku tak menyangka ternyata kereta yang akan kunaiki itu dinanti banyak orang. Tampaknya penumpang akan penuh sesak. Kata yang pertamakali terlintas di pikiranku, ‘doushiyo?’ aku tak pernah naik kereta sebelumnya, karena riwayat pendidikanku yang selalu bersarang ditempat sekolah dekat rumah. Prestasiku yang meningkat, sehingga ayah menyuruhku memilih SMA yang memiliki kualitas pendidikan lebih baik dari yang di wilayahku, meski sedikit jauh lokasinya. Tapi ayah percaya padaku bahwa aku bisa. Aku sudah besar dan ia tampak yakin putrinya bisa lulus dengan gemilang disekolah itu. ‘kalau begitu... maka akan aku buktikan. Aku tak akan menyerah’

Kereta yang kutunggu pun datang, dan benar saja kedatangannya diserbu orang disini. Memang sudah cukup terkenal bahwa daerah Morioka—tempat tujuanku, lebih bagus dalam hal kualitas kerja daripada daerah Akita—tempatku berada. Bisa dibilang daerah Morita adalah tingkat kota, sementara Akita masih pedesaan mengarah ke kota dengan industri, teknologi, juga gedung perkantoran yang bisa dihitung dengan jari—Kebanyakan adalah komplek perumahan yang teratur. Maka tak heran banyak pekerja yang menginvestasikan tenaga dan otaknya disana, karena kehidupan lebih menjamin menjadi faktor utamnya.

Keadaanku kini hanya memungkinkan untuk melangkah secenti-demi secenti, maksudku, aku tak bisa mengambil jarak karena pintu kereta yang terbuka sekejap membuat arus manusia menjadi padat.
 Memasuki pintu perlahan, dan aku terjebak diantaranya. Arus manusia itu membuatku—yang hanya setinggi 156 cm ini—tak dapat memandang ke depan, dan aku baru sadar saat diambang pintu, ‘yabaii... gerbong yang ini isinya laki-laki semua!’ dengan gerak cepat aku keluar dari desakan, dan berjalan cepat mencari gerbong lain yang lebih aman.
Akhirnya aku menemukan gerbong yang cocok untukku. Memang sangat mundur dari gerbong tengah yang tadi, tapi tak apa, ini jauh lebih baik.
Gerbong kedua dari terakhir ini meski penuh tapi tidak sampai sesak—karena kulihat jarang orang yang berdiri—tempat duduk keretanya berdenah dua baris yang menempati sisi tepi kanan-dan kiri, sehingga ruang berdiri tampak lebih luas di pertengahannya. Gerbong ini juga diisi oleh penumpang yang sebagian besar pelajar dan mahasiswa, juga ibu dan anaknya.
Suasananya sungguh jauh lebih nyaman. Anehnya kenapa tidak ada yang terpikirkan untuk pindah ke gerbong belakang? Apakah sebegitu inginnya mereka sampai dan turun menapakan kaki distasiun tujuan? Ah... sudahlah. Mungkin ini memang kebiasaan mereka-mereka yang sering menggunakan kereta ini. Aku masih belum mengerti karena aku orang baru. Nanti juga aku paham...

Aku melangkah masuk, dan mencari bila masih tersedia kursi kosong disisi kanan dan kiri, namun nihil adanya. ‘beridiri juga tidak buruk kok’ pikirku

Aku berdiri menghadap jendela, mengalungkan headphone ku yang kulepas saat berdesak-desakan tadi. Tiba-tiba orang yang tepat dihadapanku bangun, “kau bisa duduk dikursiku” kata laki-laki itu singkat mempersilahkanku duduk, “ah. Arigatou gozaimasu...” kutundukan sedikit kepalaku padanya, akupun duduk.

Di sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, seperti gadis malu. Ini pertama kalinya untukku naik kereta sendiri, dan berada sedekat ini dengan pria—sekolah-sekolah lamaku adalah sekolah khusus untuk perempuan yang juga dihuni oleh teman-teman kecilku. Jadi bagiku sangat familiar, dan kini masa SMA ku penuh hal asing. Dimulai seperti hari ini.

“kau menuju kemana?” tanya pria yang mengorbankan kursinya untukku itu

“ah... satu stasiun sebelum Morioka” jawabku

“apa kau ingin berangkat kesekolah?” ia pasti melihat seragam SMAku

Aku mengagguk

“wah jauh juga ya...”

20 menit selanjutnya kami kembali terdiam...

Penumpang berkurang dan semakin berkurang, akhirnya tersedia juga tempat duduk untuk pria ini. Dia duduk disebelahku. Mulai membuka buku sakunya yang bersampul judul ‘Teknik Arsitektur Sebuah Dome’, dia tak membawa tas apapun dan bawaan berarti lainnya. Hanya memakai celana penuh kantung berbahan jeans yang tampaknya mahal dan belum pernah kulihat dimanapun model seperti ini, kemeja biru kotak-kotak berlengan panjang—dan sedikit digulung—nya ini tampak elit namun tetap modis.
 Ia juga mengenakan kalung perak salib dan jam yang menyerupai gelang-band. Beberapa aksesori lain yang semakin memperkuat penampilan eye catching pria ini. Rambut hitamnya tampak terawat. Kulit putihnya sangat bersih. Sorot matanya yang lembut, juga jari kurusnya yang terlampau lentik untuk seorang pria. Dia pasti bukan orang biasa.

“nii-san turun dimana?” tanyaku kembali mencoba mengawali pembicaraan dari keadaan sunyi ini

“aku di Morioka, setelahmu”

“nii-san mahasiswa?” aku sedikit menunjuk atas apa yang dibacanya itu

Ia menutup bukunya, untuk melihat sampul “ini? Iya aku mahasiswa Meiji jurusan arsitektur” dia menunjukan tulisan kanji namanya di halaman pertama buku tersebut

 “Inoo Kei-san? Ah. domo, Miyama Rie desu” balasku memperkenalkan diri

Tiba-tiba ia memperhatikanku “wah aku suka warna headphonemu. Cocok loh dengan syalnya”

“arigatou, nii-san” seruku sedikit kaget ia memuji “oh ya. kalau mahasiswa Meiji, kenapa berhenti di Morioka? Tidak disekitar Tokyo?” tanyaku sedikit penasaran

“aku ada urusan” jawabnya

“sou ka...” pantas saja ia tak membawa tas seperti mahasiswa pada umumnya

Ia memberiku senyum singkat lalu melanjutkan membaca bukunya

Setelah lama perjalanan, akhirnya aku sampai di stasiun tujuanku

Aku beranjak untuk bangun ”duluan ya Inoo-niisan” pamitku, dan dia respon dengan anggukan

Kini dari stasiun tinggal jalan 10 menit dan sampai disekolah. Aku menghirup napas dalam-dalam untuk melangkahkan kakiku sebelum berjalan menuju gedung yang akan kutempati 3 tahun itu.

‘yosha!’ kumekarkan senyumku disepanjang perjalanan. Tak sabar membayangkan sekolah baru, teman baru, guru baru, dan segala hal baru yang menungguku tak lama lagi

~*~*~*~*~*~*
Matahari mulai terbenam dan langit meredupkan warnanya yang cerah.Untuk ukuran hari pertama, ini cukup menyenangkan. Kupikir gadis luar wilayah sepertiku ini akan mendapat kesulitan saat berbaur dengan mereka semua. Tapi ternyata aku salah, semua warga sekolah tampak sangat ramah.
Aku juga mendapat banyak teman dan sahabat baru. Gedung sekolah yang bagus, dan aku bangga atas prestasiku masuk ke sekolah ini. Tak sia-sia perjalanan lama kutempuh, bila menghasilkan kepuasan luar biasa ini. Dengan mantap hatiku mengatakan bahwa aku siap untuk 3 tahun kedepan.

Kini saatnya pulang, dan tentu saja aku akan melalui rute panjang yang sama seperti saat aku berangkat. Hari ini sangat lelah, namun juga sangat menyenangkan.

Setelah berjalan sampai di stasiun, akupun kembali menaiki kereta. Aku terkejut saat mendapati sosok Inoo-niisan di barisan kursi kiri, yang sedang fokus membaca buku sakunya. Aku duduk disebelahnya—karena memang hanya kursi itu yang kosong. Posisi kami tepat seperti tadi pagi

“Domo, Miyama-san” sapa Inoo-nii tiba-tiba

“ah. Yo...” balasku

Entah ini kebetulan atau apa. Dan sepanjang perjalananpun kami mulai akrab.

Perjalanan pulang tak terasa seperti lama perjalanan berangkat. Mungkin karena kami mengisinya dengan obrolan ringan yang saling menyambung satu-sama lain sehingga tidak bosan.

Dan akupun kembali turun lebih dulu dari Inoo-niisan

“jaa matta ne, niisan”

“hai. Jaa na!” lambainya dari posisi duduk

~*~*~*~*~*~*
Hari ini aku kembali berangkat kesekolah. Seperti biasa, saat di bus aku mendengarkan playlist ku. Lalu saat berjalan menuju stasiun, ada satu hal yang kembali terpikir olehku, aku ingin membuktikan kebetulan kemarin. Saat aku memasuki kereta, akankah kembali bertemu dengan Inoo-niisan?

Kubuktikan dengan langkahku sekarang yang hendak masuk kereta—gerbong kedua dari terakhir seperti kemarin, tentu saja. dan benarlah itu, bahwa aku kembali menemukan sosoknya. Tepat seperti kemarin dibangku yang sama, dan membaca buku yang sama. Apa itu kursi favoritnya?

Akupun mengambil duduk disebelahnya lagi. “ohayou, Inoo-niisan.” sapaku memulai hari

Dia tertawa kecil mendengarnya “sekarang Kei saja. tak usah terlalu formal”

“hai... turun di Morioka lagi Kei-kun?” tanyaku setelah memperhatikan, kembali hari ini ia tak membawa bawaan berarti.

“iya. Aku masih ada urusan” jawabnya

Perjalananpun berlalu seperti biasa. Diisi beberapa obrolan sambil menikmati pemandangan yang dilalui.

Saat pulang dari sekolahpun aku kembali bertemu dengan Kei.

Pertemuan-pertemuan itu membuatku sedikit banyak mengetahui dirinya dari obrolan kami. Dia pernah menjadi model lalu keluar tak lama setelah 4 bulan karirnya.
 Ayahnya tak menyukai Kei menjadi artis, sehingga  langsung menyekolahkan Kei ke universitas Meiji jurusan arsitek, pilihan ayahnya. Hobi Kei bermain pianopun ditentang oleh keluarganya, namun ia bilang ‘untuk yang satu ini aku tak bisa menahan diri’ sehingga diam-diam ia bermain piano di gedung kesenian kampus setiap waktu luangnya.

Ia juga mencuri-curi kesempatan untuk mempelajari tiap not pada buku lagu baru yang ia beli dari uang kerja part time, tanpa sepengetahuan ayahnya. Setiap pulang terlambat Kei selalu berdalih bahwa ada urusan kampus seperti club dan semacamnya.

~*~*~*~*~*~*
Jam demi jam bergulir dalam putaran porosnya, Hari demi hari berlalu berurutan, bulan demi bulan terlewati, dan musim demi musim yang berulang kini sudah familiar bagiku.

Kei selalu ada. sama dan sama dalam posisi itu. aku pernah sekali bertanya, ‘Kei, kenapa kau selalu membaca buku itu?’ bisa dibilang aku hanya ingin tahu, karena buku itu memang tak pernah lepas dari genggaman tangan indahnya.
 ‘Oh ini? Sejak dulu aku penasaran akan pembuatan sebuah Dome dan bangunan mengaggumkan lainnya. Sepertinnya aku bermimpi untuk membuat satu Dome, yang akan diperuntukan sebagai tempat serbaguna. Bukan hanya bila ada acara nasional atau konser musik, tapi juga acara anak. Jadi mereka bisa memanfaatkan bangunan buatanku untuk membuat berbagai pertunjukan. Dengan begitu semua kalangan dapat menikmati karyaku, dan aku akan lebih senang lagi saat melihat semua tawa dan kegembiraan yang terjadi dalam Dome. Itu adalah salah satu kepuasan setiap arsitek, berarti kerja keras mereka tidak sia-sia. Aku juga ingin suatu saat mengadakan konser piano di dome buatanku. Aku ingin memperdengarkan keindahan musik pada orang banyak... menghibur hati yang sedang sedih, menyemangati orang yang butuh semangat. Juga banyak hal lain yang dapat tersalurkan dari musik atau tuts nada-nada yang di tarikan jemariku. Orang bilang, musik dapat menyampaikan banyak hal lebih baik, jauh dibanding lisan dan tulisan yang bicara. Pada dasarnya, karena membantu orang banyak dan membuat mereka bahagia dengan kemampuan kita, merupakan hal terindah yang ada di bumi. Aku ingin merasakan perasaan indah itu...’  
Dia menjelaskan semuanya dengan mata berbinar dan penuh senyum seakan menunjukan suatu harapan yang dalam. Lalu ia tertawa kecil, ‘tapi impian itu entah akan terjadi kapan...’ lanjutnya.
‘shinpaishinai de. Aku yakin seorang Kei mampu melakukan itu! tak ada mimpi yang tak mungkin selama kita terus berjuang! Pasti akan terwujud, Kei!’ aku memberi semangat padanya
Dan yang ia tunjukan padaku, adalah hal yang membuatku terkejut. Sebuah senyum simpul kesedihan... Seketika hatiku ikut sesak melihatnya.
‘arigatou... memang mimpimu apa Rie-chan?’
Tiba-tiba ia balik bertanya. Dan Skak mat. ‘aku tak tahu... ehehehe...’ jawabku seperti orang linglung
‘sou ka... suatu saat, secara perlahan nanti kau pasti bisa menemukan impianmu’
Aku hanya mengangguk setelahnya. Dan kuharap itu benar. Semoga impianku nanti juga sama kerennya seperti Kei, dan sama mulianya...

Itu hanya sebagian kecil dari perbingcangan aku dan Kei, sejauh ini sudah banyak sekali yang kita bahas bersama.
Misalnya saja saat aku ada masalah kubicarakan dengannya. Dan jawaban darinya benar-benar masuk akal, sangat singkat dan tak jarang sifat asal celetuknya itu membuatku tertawa.
Tak pernah kurasakan bosan sedikitpun setiap duduk bersamanya. Begitu dimulai, pembicaraan kami sulit diakhiri dan tak ada yang namanya kehabisan topik. Kalau dengan dia, topik sesepele apapun rasanya akan jadi menarik.
 Banyak pula kami lalui, membaca manga terbaru yang kubeli bersama, atau seperti aku yang tertidur dibahunya saat kelelahan dan dia bangunkan ketika sampai, juga dirinya yang selalu mempersilahkanku duduk, hingga pernah suatu hari ia menjagaku yang berdiri didekat pintu karena gerbong mulai penuh.
Bisa dibilang, setiap aku menaiki kereta ini, Kei pasti ada. Itu pasti. Entah kenapa, tapi setiap kutanya ia selalu menjawab ‘ada urusan’. Aku tak berani menanyainya lebih lanjut untuk masalah seprivate itu, karena kupikir aku disisinya hanya sebatas teman perjalanan yang kebetulan terus bersama satu rute.

Kini aku sudah kelas 3. Benar-benar tak terasa... waktu cepat sekali. Rasanya seperti baru kemarin aku masuk SMA.
Rambutku yang sebahu sudah tumbuh lurus panjang hingga setara pinggang. kei pernah bilang, ‘rambut hitammu ini jangan di pendekkan lagi. Kau tampak manis kalau berambut sebahu, tapi kau lebih cantik dan terlihat dewasa bila rambutmu panjang. Jadi biarkan seperti ini dulu sementara, aku suka melihatnya’ dan ucapannya kali itu benar-benar membuatku terkejut.
Aku mulai suka memperhatikan diriku di cermin—tadinya aku gadis yang kurang begtu peduli pada penampilan, rambut inipun tak ku urus dan kubiarkan panjang terus tergerai.

Kemarin aku sempat bertanya pada Kei, ‘kalau aku melanjutkan studi ku ke universitas Meiji bagaimana? Kita bisa bertemu dan sering bersama, kau senpai dan aku juniornya. Kau akan selalu membimbingku. Bagus kan Kei?’ aku berseru dengan penuh semangat, namun untuk pertama kalinya Kei tak merespon ceria pertanyaanku itu. Ia hanya diam. Dan sekejap atmosfer terasa tak enak. Saat itu aku berpikir, apa aku sudah salah bicara dan menyinggung sesuatu? Akhirnya aku segera mengganti topik...

*~*~*~*~*~*




0 komentar:

Posting Komentar