Minggu, 03 November 2013

Arigatou




Title : Arigatou
Author : Desynta N.F.
Cast : Yamada Ryosuke (Hey!Say!JUMP), Nakajima Yuto (Hey!Say!JUMP), Nakajima Ran (OC / Yuto’s mother), Morimoto Ryutaro (OOC)
Genre : AU, Angst, Friendship




+++++ Ichikikushikino, Prefektur Kagoshima, Tahun 1996 +++++

Sebuah granat meledak dan menghancurkan sebuah rumah. Suara rentetan tembakan peluru memenuhi udara. Langit yang gelap membuat peluru yang ditembakkan tak diketahui arahnya. Satu-satunya sumber cahaya hanya dari lampu-lampu pesawat tempur yang terus lalu lalang di udara dan ledakan granat yang dilempar secara membabi buta.

Warga berlarian keluar rumah menuju tempat yang diperkirakan aman untuk menyelamatkan diri. Keseluruhan warga yang berusaha menyelamatkan diri adalah wanita dan anak-anak. Para laki-laki dewasa ikut bertempur untuk mempertahankan wilayah dari sekutu.

Terlihat seorang ibu muda yang tengah menggendong seorang anak laki-laki berlari meninggalkan lingkungan rumahnya yang hancur dan terbakar karena terkena lemparan granat. Ibu muda tersebut termasuk orang yang beruntung karena dapat melarikan diri. Ia terus berlari, meskipun ia tertinggal dari kerumunan orang-orang. Karena sedikit kelelahan, ia memutuskan untuk masuk ke pekarangan rumah seseorang.

DOR!

Ibu muda itu jatuh tersungkur bersama anaknya. Darah dengan cepat merembes keluar dari lubang bekas tembakan di dada kanannya. Sungguh suatu keajaiban karena anak yang digendongnya tidak terkena peluru timah panas yang telah melubangi dada kanan ibu itu dan bersarang di dalam rongga dadanya.

Seorang wanita segera berlari bersama anaknya ketika mendengar suara tembakan disusul dengan suara tangis balita yang menjerit-jerit. Wanita itu menengok ke pekarangan sebuah rumah dan dengan segera menghampiri ibu muda yang tengah tergeletak di pekarangan itu.

“Nyonya? Nyonya? Anda tidak apa-apa? Ya Tuhan...” wanita itu terkesiap ketika membalikkan tubuh ibu muda tersebut.

“To...long...ambil...R-Ryo....Ja..ga...d-dia...” dengan tenaga yang dipaksakan, ibu muda tersebut meraih tangan wanita di sampingnya. “Tolong....j-jaga...Ryosu...ke...”

“Saya mohon, anda jangan bicara seperti itu. Anda pasti selamat,” wanita tersebut panik ketika dirasakannya tangan ibu muda tersebut semakin lemas dan nafasnya semakin pendek.

“Tolong...Yamada...R-Ryosuke...” tangan ibu muda tersebut menjadi sangat lemas dan tergeletak tak berdaya di atas tanah. Jantungnya berhenti berdetak.

“Nyonya? Nyonya! Nyonya!” wanita itu terus mengguncang tubuh ibu muda di depannya. Tapi tidak ada yang terjadi.

DUAR!

Rumah di pekarangan sebelah meledak terkena granat. Wanita tadi mengambil tindakan segera, mengingat ia masih menyayangi hidupnya dan tidak mau meninggal dalam kondisi seperti ini. Ia mengambil anaknya sendiri dan anak dari ibu muda tadi.

“Ikou, Ryo. Kita pergi dari sini,” wanita tersebut menggendong anak laki-laki yang dipanggilnya Ryo. Tapi Ryo masih terus menjerit yang meronta sambil memandang jasad ibunya.

Suara ledakan kembali terdengar. Kali ini dari arah belakang mereka. Memandang jasad ibu muda tadi dengan nanar, wanita tersebut segera menggandeng tangan anaknya.

“Ayo, Yuto. Kita pergi dari sini dan kita bawa serta Ryosuke bersama kita,”

***************************************************************************

+++++ Kurayoshi, Prefektur Tottori, Tahun 2004 +++++

Dua orang anak laki-laki tampak berjalan bersama melintasi sebuah tanah kosong. Salah seorang dari mereka memiliki tubuh yang tinggi, sementara anak laki-laki yang satunya bertubuh kecil. Anak laki-laki yang bertubuh kecil terlihat sedang meminum jus stroberi yang dibawanya.

“Kau mau, Yuto-kun?” anak laki-laki yang membawa jus stroberi menawarkan jusnya kepada anak laki-laki di sebelahnya.

“Tidak usah, Ryo-chan. Kau saja. Kau kan suka stroberi,” anak laki-laki bernama Yuto itu tersenyum.

Yuto dan Ryosuke, dua anak yang berhasil selamat dari perang antar organisasi di tempat tinggal mereka dulu. Perang itu telah merenggut nyawa banyak orang, termasuk ayah Yuto dan orang tua Ryosuke. Beruntung Ryosuke bertemu dengan ibu Yuto.

Setelah perang usai, ibu Yuto berusaha mencari keberadaan kerabat Ryosuke. Ia memasang foto dan identitas Ryosuke di koran. Namun setahun berlalu dan tidak ada yang datang untuk mengambil Ryosuke. Maka ibu Yuto memutuskan untuk mengadopsi Ryosuke dan otomatis nama Yamada Ryosuke berubah menjadi Nakajima Ryosuke.

Ryosuke tumbuh menjadi anak yang manis dan penurut. Sejak awal ibu Yuto sudah menjelaskan bahwa Ryosuke bukan anak kandungnya, dan Ryosuke bisa menerimanya dengan baik. Ryosuke terlihat baik-baik saja walau ia tahu bahwa wanita yang selama ini dianggapnya ibu bukanlah ibu kandungnya.

Yuto tumbuh menjadi anak yang bersemangat, aktif, dan sangat menyayangi ibunya serta Ryosuke. Yuto sudah menganggap Ryosuke sebagai saudara kandungnya. Walaupun umur Ryosuke lebih tua beberapa bulan dari Yuto, namun Yuto tidak segan-segan untuk memeluk dan memukul Ryosuke di saat Ryosuke lengah.

“Tadaima, kaa-chan!”

“Tadaima, mama!”

“Okaeri, Ryo, Yuto. Cepat kalian ganti baju lalu mandi,” wanita bernama Ran itu berteriak dari dapur. Ryosuke dan Yuto langsung cepat mengganti baju mereka dan berebut kamar mandi.

Hari mulai gelap. Yuto dan Ryosuke melakukan rutinitas mereka, yaitu belajar bersama di rumah pohon yang mereka dirikan di atas pohon di belakang rumah mereka. Angin sejuk yang bertiup sepoi-sepoi membuat suasana menjadi nyaman.

“Yuto-kun, ashita wa kodomo no hi deshou?” Ryosuke meletakkan bolpoinnya dan berbaring di samping Yuto sembari memandang langit-langit.

“Un. Nande?” tanya Yuto tanpa mengalihkan pandangannya dari buku matematika yang ia pegang.

“Masa kau tidak ingat? Kita belum membuat koinobori. Bagaimana kalau besok kita membuatnya bersama?” Ryosuke memainkan rambutnya yang sudah mulai panjang.

“Koinobori? Ah, iya. Tapi bagaimana dengan yoroi dan kabuto?” Yuto memandang Ryosuke yang masih memainkan rambutnya.

“Masih ada di gudang kok. Kemarin aku melihatnya. Bagaimana?” Ryosuke mengangkat tangannya dan memperhatikan kuku-kuku jarinya.

“Oke. Setelah itu kita main, mau?” senyuman mulai menghiasi wajah Yuto.

“Mau, mau,” wajah Ryosuke langsung berubah ceria. Dia bangkit dan keluar dari rumah pohon. Dia duduk di tepi teras rumah pohon. Dia memandang bintang-bintang yang berkelip di langit hitam. “Andai doa setiap orang dikabulkan,”

Yuto memandang Ryosuke dengan wajah bingung. Namun sesaat kemudian Yuto tersenyum.

Matahari muncul malu-malu di ufuk timur, menandakan hari telah berganti. Tanggal 5 Mei selalu diperingati sebagai hari anak, dan lebih dikhususkan kepada anak laki-laki. Pada hari ini, semua instansi libur. Maka anak-anak bisa merayakannya dengan keluarga dan teman-teman mereka.

“Itadakimasu!”

Ryosuke dan Yuto mengambil masing-masing satu kashiwamochi yang tersedia di piring. Ran memandang kedua anaknya dengan bahagia.

“Mm...Umai...Hontou ni arigatou, mama,” Yuto tersenyum dan berlari memeluk Ran.

“Umai ne. Hontou arigatou, kaa-chan. Mm....Terima kasih juga sudah menjadi okaasan yang baik untukku selama ini,” setelah mengatakan hal itu, Ryosuke menunduk. Ran bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Ryosuke. Ia memeluk Ryosuke dengan sayang.

“Daijoubu. Terima kasih juga karena Ryo sudah menjadi anak ibu yang penurut dan manis, juga sudah menjadi saudara Yuto yang baik,” Ran membelai kepala Ryosuke. Yuto melihat ibunya dan Ryosuke dengan tersenyum senang.

Setelah menghabiskan kashiwamochi dan memasang koinobori, Yuto dan Ryosuke pamit untuk pergi bermain.

Matahari bersinar dengan cerah. Terlihat beberapa anak laki-laki sedang bermain layang-layang di lapangan. Tapi bukan lapangan yang dituju Yuto dan Ryosuke.

“Ah, sampai juga,” Yuto langsung merebahkan dirinya di rerumputan hijau yang tumbuh di tepi Sungai Tenjin.

Ryosuke berjalan ke tepi sungai. Ia duduk di tepi dan mencelupkan kakinya ke dalam air. Air sungai yang jernih dan dingin membuat badannya menjadi rileks. Ia menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam. Ia membiarkan pikirannya melayang kemana-mana.

Yuto bangkit berdiri dan ikut duduk di samping Ryosuke. Ia memandang jauh ke depan. Setelah beberapa saat, ia menengok dan menepuk pundak Ryosuke.

“Nani?” Ryosuke membuka matanya.

“Kau tahu? Aku sempat berpikir tentang...masa depan,” Yuto melepas sepatu dan kaos kakinya lalu mencelupkan kakinya ke dalam air seperti yang Ryosuke lakukan.

“Eh? Masa depan? Maksudmu yang seperti apa?” Ryosuke memandang Yuto dengan penasaran.

“Maksudku, ingin jadi apa kita kelak dan seperti apa kehidupan kita. Kalau aku...aku ingin bisa menjadi drummer yang handal. Itu lho, seperti drummer yang sering kita lihat di tv. Aku juga ingin menjadi ahli serangga,” senyum Yuto terus mengembang selagi ia menceritakan mimpinya. Ryosuke terdiam mendengarkan mimpi Yuto.

“Aku juga ingin melihat kota Tokyo bersamamu dan ibu. Aku ingin berlibur ke sana dengan uangku sendiri,” Yuto menengok ke arah Ryosuke. “Bagaimana dengamu?”

Ryosuke terdiam sejenak. Ia tampak berpikir.

“Aku...Ingin bertemu dengan kerabat orang tua kandungku. Aku berharap, aku bisa mengetahui seperti apa keluarga Yamada itu,” tatapan Ryosuke menerawang jauh ke depan. Tidak ada senyum yang tersungging di wajahnya. Hanya ada ekspresi datar di wajahnya yang chubby.

“Orang tua kandungmu ya...” Yuto menunduk.

“Ah, tapi Yuto-kun, bagiku kalian adalah keluarga yang sempurna kok. Kalian memberiku kasih sayang padahal aku tidak punya hubungan dengan darah kalian. Aku adalah orang lain. Tapi kalian bersedia merawatku,” Ryosuke memeluk Yuto yang ada di sampingnya. “Aku tidak akan pernah melupakan kalian,”

Yuto tersenyum senang. Ia membalas pelukan Ryosuke.

“Kau memang saudaraku,”

***************************************************************************

+++++ Dua tahun kemudian +++++

Yuto berlari pulang ke rumah, meninggalkan Ryosuke di belakang. Ryosuke berusaha berlari lebih cepat untuk menyusul Yuto, tapi ternyata usahanya tidak berhasil. Ia masih saja tertinggal. Sementara itu Yuto menengok ke belakang, melihat Ryosuke yang ada di belakangnya.

“Ayolah, Ryo-chan. Masa kau kalah dengan anak yang lebih muda darimu?” Yuto memamerkan senyum mengejek kepada Ryosuke.

“Hei, walau kau lebih muda, tapi kau lebih tinggi. Dan kenapa kau bisa lebih tinggi dariku?! Haaah, tiang listrik!” Ryosuke terus berlari. Nafasnya memburu dengan cepat.

“Hooo, tanya dirimu sendiri kenapa kau bisa pendek,” Yuto menjulurkan lidahnya.

“Awas kau, Yuto!”

Yuto dan Ryosuke terus berlari berkejaran sampai ke rumah. Mereka berhenti di depan rumah mereka sambil mengatur nafas. Tapi bukan karena itu saja mereka berhenti di depan rumah. Tapi karena ada sebuah mobil hitam – tampaknya mahal – yang terparkir di depan rumah mereka.

Setelah Yuto dan Ryosuke melakukan Jan Ken Pon dan akhirnya Yuto kalah, mereka masuk ke dalam rumah dengan Yuto berjalan di depan.

“Tadaima,”

“Okaeri. Ah, kalian sudah pulang,” Ran berjalan menghampiri Yuto dan Ryosuke. Ada dua orang dewasa – laki-laki dan perempuan – mengikuti Ran.

“Mama, dare ga ano hitotachi?” Yuto bertanya pelan kepada ibunya. Ran tersenyum.

“Mereka adalah kerabat Ryosuke yang selama ini kita cari. Mereka itu keluarga Yamada,”

Ryosuke tampak kaget. Matanya membelalak tak percaya. Keluarga Yamada ada di depannya.

“Mereka....kerabatku?” tanya Ryosuke.

“Mereka sudah menjelaskan semuanya pada ibu. Mereka ingin membawamu bersama mereka untuk berkumpul bersama keluarga Yamada yang lain,” Ran tersenyum kepada Ryosuke. Kedua orang di belakang Ran juga tersenyum kepada Ryosuke.

“Boku? Jadi....” Ryosuke mendongak menatap Ran. Ran mengangguk.

Mobil yang membawa pergi Ryosuke melaju meninggalkan rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Ryosuke. Ran dan Yuto berdiri di depan rumah, menatap kepergian mobil hitam yang melaju kencang. Setelah mobil benar-benar tidak terlihat lagi, Yuto langsung berlari masuk ke dalam rumah. Ran yang melihatnya hanya menghela nafas pasrah.

“Sayonara, Ryosuke,”

***************************************************************************

+++++ Tokyo, Awal tahun 2013 +++++

Sebuah pesawat mendarat di landasan terbang Bandara Narita, Jepang. Seorang pemuda ber-jas hitam keluar dari pesawat. Bibirnya menyunggingkan senyum.

“I miss you, Japan,”

Pemuda itu berjalan keluar dari Bandara Narita sambil membawa sebuah koper berwarna putih. Sesampainya di luar, seseorang menghampiri pemuda tersebut. Pemuda itu mengangguk lalu mengikuti orang yang menghampirinya. Tapi sesaat kemudian, pemuda itu menoleh ke belakang. Setelah terdiam sejenak, pemuda itu masuk ke sebuah mobil putih. Beberapa saat kemudian, mobil itu melaju meninggalkan bandara.

Sepanjang jalan, pemuda itu memperhatikan jalanan yang dilaluinya. Orang lalu lalang dengan memakai baju hangat. Tak sedikit dari mereka yang membawa banyak tas belanja. Pemuda itu tersenyum melihat toko-toko yang masih menebarkan suasana natal.

Mobil putih tersebut berhenti di depan rumah besar berwarna krem. Pemuda itu keluar dari mobil setelah orang yang menemuinya tadi membuka pintu mobil. Pemuda tersebut berjalan menuju rumah berwarna krem di depannya.

Seorang laki-laki dewasa keluar dari rumah dan berjalan menuju pemuda tadi. Laki-laki itu merentangkan tangannya lalu memeluk pemuda ber-jas hitam yang lebih pendek darinya.

“Welcome back, Ryosuke,” laki-laki tersebut menepuk punggung pemuda yang dipanggilnya Ryosuke. Ryosuke tersenyum dan membalas pelukan laki-laki di depannya.

“Lama tidak jumpa, paman,”

Matahari sudah terbenam beberapa jam yang lalu. Beberapa orang tengah duduk mengelilingi sebuah meja makan besar dengan beberapa makanan mewah yang terhidang cantik di atasnya. Ryosuke sendiri terlihat duduk di ujung meja makan sambil memakan sebuah hidangan yang tersedia.

“Ryo, besok kita akan mengunjungi perusahaan peninggalan ayahmu yang saat ini paman kelola. Saat kau siap, kau yang akan memimpin perusahaan itu,” laki-laki dewasa yang duduk di depan Ryosuke membuka pembicaraan.

“Terima kasih, paman. Selama ini paman sudah mengambil alih perusahaan ayah dan menjalankan perusahaan itu. Terima kasih, paman sudah berjasa banyak untuk almarhum ayah,” Ryosuke tersenyum dan menunduk sejenak.

“Ryo-kun, bagaimana rasanya hidup di daerah Eropa?” tanya seorang pemuda yang kira-kira berusia lebih muda dari Ryosuke.

“Sangat menyenangkan, Ryutaro,” Ryosuke tersenyum.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Ryosuke terus menerus mempelajari tentang perusahaan almarhum ayahnya. Mungkin dua tahun lagi, Ryosuke sudah bisa mengambil alih perusahaan almarhum ayahnya.

***************************************************************************

::: RYOSUKE POV :::

### Pesta Ulang Tahun Yamada Ryosuke ###

Sebuah ruangan besar telah disulap sedimikan rupa sehingga berubah menjadi tempat yang sangat indah untuk merayakan ulang tahunku, Yamada Ryosuke, pewaris tunggal sebuah perusahaan besar dan ternama di Jepang.

Aku berdiri di dekat panggung utama, mengangguk dan tersenyum kepada setiap undangan yang hadir. Ini melelahkan, jujur saja. Aku tidak mengenal satu pun orang yang lewat di depanku. Mereka semua adalah kenalan almarhum ayah, teman bisnis paman, dan para pemegang saham perusahaan. Aku lelah, aku ingin istirahat.

Sesaat kemudian, sebuah lagu dinyanyikan untuk mengawali acara ulang tahunku ini. Aku melihat ke panggung utama, dimana beberapa orang tengah memainkan alat musik dan satu orang menyanyikan sebuah lagu. Mataku tertuju pada satu orang, drummer.

“Dia mengingatkanku pada seseorang,” gumamku.

Setelah sebuah lagu selesai dinyanyikan, para pemain musik mulai berjalan keluar panggung, termasuk drummer yang memakai sebuah masker berwarna putih. Aku hanya melihatnya sekilas karena aku tidak mengenalnya. Sama seperti tamu undangan yang hadir pada acara malam ini. Mereka semua orang asing.

Begitu pembawa acara menyebut namaku dan mempersilahkan aku untuk naik ke panggung, aku segera naik ke atas panggung. Beberapa saat sebelum aku naik ke atas panggung, paman membisikiku untuk tidak bertindak terlalu cepat dan harus bertindak halus. Tuhan...

“Terima kasih karena anda semua sudah mau hadir di acara kecil ini. Saya sungguh sangat senang, karena anda semua mau menyisihkan sedikit waktu anda untuk menghadiri pesta ulang tahun saya. Sekali lagi, terima kasih,” aku mengakhiri pidato singkatku dengan membungkuk ke arah tamu undangan. Setelah itu aku menebar senyum, sama seperti yang diajarkan paman.

Lantunan lagu Selamat Ulang Tahun terdengar di ruangan. Setelah lagu usai, aku meniup lilin berbentuk angka 21 yang terpasang di atas kue besar berhiaskan stroberi. Setelah lilin padam, semua undangan bertepuk tangan.

Setelah pesta usai, semua undangan pulang dan aku harus kembali memantau perusahaan ayah yang berada di luar Tokyo. Aku harus melakukannya agar aku bisa memahami semua kondisi perusahaan.

“Ayo, Ryo. Kita bisa ketinggalan pesawat,” paman menarik tanganku dan berjalan keluar dari ruangan.

Begitu keluar dari rumah, aku melihat drummer yang tadi tampil di acara ulang tahunku mendekat ke arahku. Tapi pamanku tetap menarik tanganku dan berjalan menuju mobil.

“Ryosuke! Ryosuke!”

Aku menoleh ke belakang. Tapi sekali lagi paman menyentak tanganku agar aku tidak berhenti.

“Ryo, ayo. Ayahmu pasti juga tidak suka melihatmu lambat dalam mempelajari perusahaan. Perusahaan itu akan kau tangani cepat atau lambat,” ujar paman padaku. Aku hanya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa. Sesaat setelahnya aku dan paman naik ke atas mobil.

“Pak, jalan. Kita ke bandara sekarang,” perintah paman kepada supir pribadi kami.

“Baik, Tuan,” supir kami mulai menjalankan mobil perlahan.

“Ryo-chan! Aku Yuto! Kenapa kau seakan lupa padaku?!”

Aku langsung menoleh ke belakang. Drummer tadi sudah melepas maksernya.

Wajahnya...Persis Yuto...

Aku berkedip dan semua terjadi begitu cepat. Yuto terlihat seperti sedang batuk dan sesaat kemudian ia jatuh pingsan di pekarangan rumahku.

“Pak, berhenti!” aku langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu mobil berhenti terlebih dahulu.

“Ryo! Apa yang kau lakukan?” pamanku menahan tanganku.

“Mungkin, mungkin ayah akan kecewa karena aku lambat dalam menangani perusahaan. Tapi ayah akan lebih kecewa padaku jika aku tidak peduli pada orang yang sudah merawatku selama sepuluh tahun!” aku menutup pintu mobil dengan keras dan berlari menyeberangi jalan yang tengah padat kendaraan.

Penjaga dan Ryutaro sudah lebih dulu berkerumun di sekitar Yuto. Aku yang baru tiba langsung berlutut di samping Yuto, memeriksa denyut nadinya.

“Cepat ambil mobil yang lain dan bawa dia ke rumah sakit!”

***************************************************************************

### Bangsal Rumah Sakit ###

Aku menunggu dengan gelisah di ruang tunggu bersama Ryutaro. Paman membatalkan rencana untuk pergi menengok perusahaan. Saat ini paman sedang ada di rumah bersama istrinya. Sedangkan anak mereka, Ryutaro, memaksa untuk menemaniku di rumah sakit.

Rasanya waktu sudah berlalu sangat lama semenjak Yuto masuk ke dalam ruang gawat darurat. Aku sudah menghubungi ibu Yuto lewat keitai milik Yuto. Tapi sampai saat ini, ibu Yuto belum juga datang.

“Ah, Ryosuke,”

Aku mendongak. Nakajima Ran, ibu Yuto, berlari ke arahku. Wajahnya tampak sangat khawatir.

“Bagaimana keadaan Yuto?” ibu Yuto duduk di sampingku. Aku kembali menunduk.

“Saya tidak tahu, bu,”

Aku merasakan tubuhku dipeluk. Aku mendongak, dan barulah aku tahu bahwa orang yang memelukku adalah ibu Yuto.

“Aku rindu padamu, Ryo. Yuto sudah bercerita padaku kalau ia tanpa sengaja melihatmu di bandara. Ia sudah memanggilmu, tapi sayangnya kau tidak mendengarnya,” ibu Yuto bercerita sambil memelukku.

Aku tertegun. Yuto memanggilku saat di bandara?

“Ah, Dokter,” Ryutaro berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat. Aku dan ibu Yuto segera menyusul Ryutaro.

“Bagaimana keadaan anak saya, dokter?” tanya ibu Yuto. Dokter itu menghela nafas panjang.

“Anak ibu mengalami Pulmonary Stenosis, penyempitan katup paru. Bilik kanan jantung sudah membesar. Sebenarnya ini termasuk kelainan jantung sejak lahir, tapi sepertinya baru terdeteksi sekarang,” Dokter berhenti. Ia tampak ragu-ragu.

“Lalu, bagaimana hidupnya, dok? Bagaimana cara dia agar sembuh?” tanyaku. Setelah agak ragu-ragu, dokter akhirnya bicara.

“Harapan hidup Nakajima sangat rendah. Hanya bisa diselamatkan dengan pencangkokan jantung. Itu pun harus jantung dari orang yang meninggal bukan karena sakit, dan harus segera dilakukan pencangkokan setelah orang itu meninggal. Saya tidak tahu apakah ada keajaiban sehingga donor jantung itu tiba,” Dokter itu mengakhiri penjelasannya. “Maaf, permisi. Masih ada pasien lain yang harus saya periksa,”

Setelah dokter itu pergi, para suster membawa Yuto ke ruang inap. Di sana, ibu Yuto terus menangis di samping Yuto. Ryutaro duduk diam di pojok ruangan. Aku hanya bisa duduk diam di samping Yuto.

“Setelah kau pergi, Yuto benar-benar sedih. Selama beberapa hari ia mengurung diri di rumah pohon yang dulu kalian bangun bersama. Setelah itu ia berkata bahwa ia ingin menjadi orang yang hebat dan bertemu denganmu,” ibu Yuto menyeka air matanya. Aku hanya bisa melihat dari sudut mataku. Aku tidak berani untuk mendongak.

“Malam ini pun ia tampil di acara ulang tahunmu. Ia mencari tahu dari setiap orang yang bisa ia tanyai. Hanya satu yang ia inginkan. Ia ingin bertemu denganmu, orang yang sudah ia anggap saudara sendiri,” ibu Yuto kembali menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur Yuto. Aku masih menunduk. Tapi kemudian butiran air mata perlahan mengalir di pipiku.

***************************************************************************

Sudah satu minggu Yuto dirawat di rumah sakit. Pihak rumah sakit tidak mengijinkannya pulang karena takut hal yang tidak diinginkan akan menimpa Yuto. Yuto telah mengetahui penyakit yang dideritanya, aku mengetahuinya karena aku mendengar pembicaraan dokter dengan Yuto. Satu hal yang membuatku kagum padanya. Ia tidak tampak terbebani.

Selama empat hari Yuto pingsan dan baru sadar pada hari kelima. Sementara aku pergi ke luar kota sejak hari ketiga Yuto dirawat di rumah sakit. Aku belum mempunyai kesempatan untuk bicara pada Yuto.

Hari ini pun aku sedang berada di luar kota. Aku mengendarai sendiri mobil Honda yang dibelikan oleh pamanku. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke Tokyo, tapi aku ingin mampir sebentar ke Kurayoshi.

Aku sampai di tepi sungai Tenjin. Aku turun dari mobil dan duduk di tepi sungai. Sudah sangat lama sejak aku bermain bersama Yuto di sungai ini. Waktu berlalu begitu cepat.

Aku merasakan keitai milikku bergetar. Aku segera merogoh saku baju dan mengambil keitai berwarna putih.

Ryutaro

“Hai. Moshi-moshi, Ryuu-chan. Eh? Nani?! Oke, aku akan segera ke sana,”

Aku segera menutup keitai-ku dan masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan penuh, aku melaju menuju Tokyo. Kata Ryutaro, keadaan Yuto semakin memburuk. Harus segera dilakukan transplantasi jantung, tapi belum ada donor jantung untuk Yuto.

***************************************************************************

::: AUTHOR POV :::

Ryosuke sudah memasuki kawasan Tokyo. Sebentar lagi ia akan tiba di rumah sakit. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi, bahkan ia tidak berhenti saat lampu merah menyala.

Tiba-tiba sebuah truk keluar dari jalan kecil. Ryosuke yang kaget langsung membanting setir ke kiri. Dari arah berlawanan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Ryosuke berusaha menghindar tapi mobilnya terlanjur menabrak mobil di depannya dengan keras. Mobil yang dikendarai Ryosuke terbalik dan menabrak tepi trotoar.

***************************************************************************

### Rumah Sakit ###

Warga sekitar segera membawa Ryosuke ke rumah sakit terdekat. Salah seorang warga berhasil menghubungi paman dan bibi Ryosuke melalui keitai milik Ryosuke. Beberapa saat kemudian paman dan bibi Ryosuke datang.

Setelah satu jam, mata Ryosuke terbuka.

“Ryo, daijoubu?” bibi Ryosuke segera menghampiri Ryosuke.

“Yut...to...” Ryosuke berkata lemah.

“Yuto? Temanmu itu?” paman Ryosuke ikut berdiri di samping tempat tidur Ryosuke.

“Aku...ingin....b-bertemu....Yut...to....” suara Ryosuke terdengar semakin lemah.

“Demo, Ryo~”

“Se...ka...rang...”

Paman dan bibi Ryosuke berpandangan sesaat, sebelum akhirnya mereka mengangguk. Mereka segera membawa Ryosuke ke rumah sakit tempat Yuto dirawat. Di sana Ryosuke segera ditempatkan di ruang gawat darurat. Ia tidak diperbolehkan bertemu Yuto, karena keadaannya sendiri sedang gawat.

Ibu Yuto masuk ke ruang gawat darurat untuk bertemu Ryosuke. Di dalam ruangan juga ada paman dan bibi Ryosuke.

“Aku...punya satu....keinginan...D-dan...aku...i-ingin kalian...memenuhinya...” nafas Ryosuke terdengar sangat berat di setiap kata yang ia ucapkan.

“Apa itu, Ryo?” tanya ibu Yuto. Ibu Yuto mendekat ke ranjang tempat Ryosuke berbaring.

“Aku....i-ingin...” suara Ryosuke terdengar semakin lemah. Alat penunjuk detak jantung juga menunjukkan bahwa detak jantung Ryosuke semakin melemah. “Men-donor.... kan.... jantungku....p-pada....Yu...to...”

“Nani?! Tidak, Ryo. Kau tidak boleh bicara seperti itu. Kau masih hidup!” ibu Yuto langsung menolak dan meraih tangan Ryosuke.

“Tidak, Ryo. Kau tidak boleh bicara seperti itu,” paman Ryosuke menggeleng sambil menatap Ryosuke.

“O-onegai....Hidup Yuto i-itu....berh-harga....” Ryosuke menarik nafas berat. “Kalian c-cukup bi...lang ya...”

“Ryosuke....” bibi Ryosuke mulai menitikkan air mata.

“A-aku...tidak ingin....Yu-to....juga....t-tidak selam-mat....”

TIIIIIIIIITTTTTTTTT

“RYO!”

***************************************************************************

Tim dokter berhasil mengambil jantung Ryosuke dan memasangkannya pada tubuh Yuto. Detak jantung Yuto mulai terdeteksi. Tapi kemudian detak jantung mulai menunjukkan tidak normal. Jantung Yuto berdetak dengan sangat cepat, semakin lama semakin tinggi.

“Suster! Ambilkan Restasis!”

Dokter memberikan obat immunosupresan tersebut sesuai dosis. Diharapkan tubuh Yuto dapat menerima jantung dari Ryosuke. Tapi setelah diberi Restasis, reaksi yang diberikan ternyata di luar dugaan. Jantungnya berhenti berdetak.

Dokter segera mengambil alat kejut jantung untuk memancing jantung itu agar berdetak lagi. Dokter mencobanya sekali namun jantung tetap berhenti.

“Lagi!” Dokter mencobanya sekali lagi. Tapi tidak berhasil.

“Lagi!”

***************************************************************************

Seorang anak kecil berlutut di depan sebuah pusara putih.

“Otoosan! Kochi!” anak kecil itu menoleh ke belakang dan memanggil ayahnya.

Seorang laki-laki dewasa menghampiri anak kecil itu. Ia mengusap kepala anaknya dengan lembut lalu ikut berlutut di depan sebuah pusara.

“Ayo, kita berdoa bersama,” laki-laki itu tersenyum kepada anaknya. Lalu ia menundukkan kepala dan mengatupkan kedua telapak tangannya. Hatinya membisikkan baris demi baris kata kepada Tuhan untuk arwah dari pemilik pusara di depannya. Sebuah pusara putih nan cantik.

“Ah, ternyata kau di sini, Yuto-kun,”

Laki-laki yang tadi berdoa, kini mendongak dan menoleh ke arah orang yang memanggil namanya.

“Ayo kita pulang. Sudah sore,” seorang laki-laki yang lain mengajak Yuto untuk pergi.

“Ya, Ryutaro. Aku menyusul,” Yuto tersenyum lalu menunduk memandang anaknya. “Ryosuke, ayo kita pulang. Ibu pasti sudah menunggu dengan masakannya yang lezat,”

Yuto bangkit dan menggendong anaknya. Beberapa saat ia tersenyum sambil memandang pusara putih di depannya.

“Arigatou, Ryo-chan. Sebenarnya, aku tidak apa-apa bila aku tidak selamat. Itu memang sudah garis hidupku. Tapi kau menyelamatkan aku. Terima kasih. Terima kasih saudaraku. Aku harap, saat ini kau sedang bersama orang tua kandungmu serta ibuku di surga sana. Semoga kelak aku bisa menyusul kalian,”

“Yuto-kun, ayolah. Aku sudah capek nih,” Ryutaro memanggil Yuto dari ujung pemakaman.

“Iya, Ryutaro. Jangan manja begitu. Kau sekarang sudah besar,” Yuto berjalan pergi bersama anaknya meninggalkan pusara.

Pusara putih itu berkilau memantulkan sinar matahari sore. Tulisan di atas pusara menjadi terlihat jelas terkena sinar matahari. Tulisan yang berbunyi, “One and Only, Yamada Ryosuke”

0 komentar:

Posting Komentar