Title : Arigatou
Author : Desynta N.F.
Cast : Yamada Ryosuke (Hey!Say!JUMP),
Nakajima Yuto (Hey!Say!JUMP), Nakajima Ran (OC / Yuto’s mother), Morimoto
Ryutaro (OOC)
Genre : AU, Angst, Friendship
+++++
Ichikikushikino, Prefektur Kagoshima,
Tahun 1996 +++++
Sebuah granat meledak dan menghancurkan
sebuah rumah. Suara rentetan tembakan peluru memenuhi udara. Langit yang gelap
membuat peluru yang ditembakkan tak diketahui arahnya. Satu-satunya sumber
cahaya hanya dari lampu-lampu pesawat tempur yang terus lalu lalang di udara
dan ledakan granat yang dilempar secara membabi buta.
Warga berlarian keluar rumah menuju
tempat yang diperkirakan aman untuk menyelamatkan diri. Keseluruhan warga yang
berusaha menyelamatkan diri adalah wanita dan anak-anak. Para laki-laki dewasa
ikut bertempur untuk mempertahankan wilayah dari sekutu.
Terlihat seorang ibu muda yang tengah
menggendong seorang anak laki-laki berlari meninggalkan lingkungan rumahnya
yang hancur dan terbakar karena terkena lemparan granat. Ibu muda tersebut termasuk
orang yang beruntung karena dapat melarikan diri. Ia terus berlari, meskipun ia
tertinggal dari kerumunan orang-orang. Karena sedikit kelelahan, ia memutuskan
untuk masuk ke pekarangan rumah seseorang.
DOR!
Ibu muda itu jatuh tersungkur bersama anaknya.
Darah dengan cepat merembes keluar dari lubang bekas tembakan di dada kanannya.
Sungguh suatu keajaiban karena anak yang digendongnya tidak terkena peluru
timah panas yang telah melubangi dada kanan ibu itu dan bersarang di dalam
rongga dadanya.
Seorang wanita segera berlari bersama
anaknya ketika mendengar suara tembakan disusul dengan suara tangis balita yang
menjerit-jerit. Wanita itu menengok ke pekarangan sebuah rumah dan dengan
segera menghampiri ibu muda yang tengah tergeletak di pekarangan itu.
“Nyonya? Nyonya? Anda tidak apa-apa? Ya
Tuhan...” wanita itu terkesiap ketika membalikkan tubuh ibu muda tersebut.
“To...long...ambil...R-Ryo....Ja..ga...d-dia...”
dengan tenaga yang dipaksakan, ibu muda tersebut meraih tangan wanita di
sampingnya. “Tolong....j-jaga...Ryosu...ke...”
“Saya mohon, anda jangan bicara seperti
itu. Anda pasti selamat,” wanita tersebut panik ketika dirasakannya tangan ibu
muda tersebut semakin lemas dan nafasnya semakin pendek.
“Tolong...Yamada...R-Ryosuke...” tangan
ibu muda tersebut menjadi sangat lemas dan tergeletak tak berdaya di atas
tanah. Jantungnya berhenti berdetak.
“Nyonya? Nyonya! Nyonya!” wanita itu
terus mengguncang tubuh ibu muda di depannya. Tapi tidak ada yang terjadi.
DUAR!
Rumah di pekarangan sebelah meledak
terkena granat. Wanita tadi mengambil tindakan segera, mengingat ia masih
menyayangi hidupnya dan tidak mau meninggal dalam kondisi seperti ini. Ia
mengambil anaknya sendiri dan anak dari ibu muda tadi.
“Ikou, Ryo. Kita pergi dari sini,” wanita
tersebut menggendong anak laki-laki yang dipanggilnya Ryo. Tapi Ryo masih terus
menjerit yang meronta sambil memandang jasad ibunya.
Suara ledakan kembali terdengar. Kali
ini dari arah belakang mereka. Memandang jasad ibu muda tadi dengan nanar,
wanita tersebut segera menggandeng tangan anaknya.
“Ayo, Yuto. Kita pergi dari sini dan
kita bawa serta Ryosuke bersama kita,”
***************************************************************************
+++++
Kurayoshi, Prefektur Tottori, Tahun 2004 +++++
Dua orang anak laki-laki tampak
berjalan bersama melintasi sebuah tanah kosong. Salah seorang dari mereka
memiliki tubuh yang tinggi, sementara anak laki-laki yang satunya bertubuh
kecil. Anak laki-laki yang bertubuh kecil terlihat sedang meminum jus stroberi yang
dibawanya.
“Kau mau, Yuto-kun?” anak laki-laki
yang membawa jus stroberi menawarkan jusnya kepada anak laki-laki di
sebelahnya.
“Tidak usah, Ryo-chan. Kau saja. Kau
kan suka stroberi,” anak laki-laki bernama Yuto itu tersenyum.
Yuto dan Ryosuke, dua anak yang
berhasil selamat dari perang antar organisasi di tempat tinggal mereka dulu.
Perang itu telah merenggut nyawa banyak orang, termasuk ayah Yuto dan orang tua
Ryosuke. Beruntung Ryosuke bertemu dengan ibu Yuto.
Setelah perang usai, ibu Yuto berusaha
mencari keberadaan kerabat Ryosuke. Ia memasang foto dan identitas Ryosuke di
koran. Namun setahun berlalu dan tidak ada yang datang untuk mengambil Ryosuke.
Maka ibu Yuto memutuskan untuk mengadopsi Ryosuke dan otomatis nama Yamada
Ryosuke berubah menjadi Nakajima Ryosuke.
Ryosuke tumbuh menjadi anak yang manis
dan penurut. Sejak awal ibu Yuto sudah menjelaskan bahwa Ryosuke bukan anak
kandungnya, dan Ryosuke bisa menerimanya dengan baik. Ryosuke terlihat
baik-baik saja walau ia tahu bahwa wanita yang selama ini dianggapnya ibu
bukanlah ibu kandungnya.
Yuto tumbuh menjadi anak yang
bersemangat, aktif, dan sangat menyayangi ibunya serta Ryosuke. Yuto sudah
menganggap Ryosuke sebagai saudara kandungnya. Walaupun umur Ryosuke lebih tua
beberapa bulan dari Yuto, namun Yuto tidak segan-segan untuk memeluk dan
memukul Ryosuke di saat Ryosuke lengah.
“Tadaima, kaa-chan!”
“Tadaima, mama!”
“Okaeri, Ryo, Yuto. Cepat kalian ganti
baju lalu mandi,” wanita bernama Ran itu berteriak dari dapur. Ryosuke dan Yuto
langsung cepat mengganti baju mereka dan berebut kamar mandi.
Hari mulai gelap. Yuto dan Ryosuke
melakukan rutinitas mereka, yaitu belajar bersama di rumah pohon yang mereka
dirikan di atas pohon di belakang rumah mereka. Angin sejuk yang bertiup sepoi-sepoi
membuat suasana menjadi nyaman.
“Yuto-kun, ashita wa kodomo no hi
deshou?” Ryosuke meletakkan bolpoinnya dan berbaring di samping Yuto sembari
memandang langit-langit.
“Un. Nande?” tanya Yuto tanpa
mengalihkan pandangannya dari buku matematika yang ia pegang.
“Masa kau tidak ingat? Kita belum
membuat koinobori. Bagaimana kalau besok kita membuatnya bersama?” Ryosuke
memainkan rambutnya yang sudah mulai panjang.
“Koinobori? Ah, iya. Tapi bagaimana
dengan yoroi dan kabuto?” Yuto memandang Ryosuke yang masih memainkan
rambutnya.
“Masih ada di gudang kok. Kemarin aku
melihatnya. Bagaimana?” Ryosuke mengangkat tangannya dan memperhatikan
kuku-kuku jarinya.
“Oke. Setelah itu kita main, mau?”
senyuman mulai menghiasi wajah Yuto.
“Mau, mau,” wajah Ryosuke langsung
berubah ceria. Dia bangkit dan keluar dari rumah pohon. Dia duduk di tepi teras
rumah pohon. Dia memandang bintang-bintang yang berkelip di langit hitam.
“Andai doa setiap orang dikabulkan,”
Yuto memandang Ryosuke dengan wajah
bingung. Namun sesaat kemudian Yuto tersenyum.
Matahari muncul malu-malu di ufuk
timur, menandakan hari telah berganti. Tanggal 5 Mei selalu diperingati sebagai
hari anak, dan lebih dikhususkan kepada anak laki-laki. Pada hari ini, semua
instansi libur. Maka anak-anak bisa merayakannya dengan keluarga dan
teman-teman mereka.
“Itadakimasu!”
Ryosuke dan Yuto mengambil masing-masing
satu kashiwamochi yang tersedia di piring. Ran memandang kedua
anaknya dengan bahagia.
“Mm...Umai...Hontou ni arigatou, mama,” Yuto tersenyum
dan berlari memeluk Ran.
“Umai ne. Hontou arigatou, kaa-chan.
Mm....Terima kasih juga sudah menjadi okaasan yang baik untukku selama ini,”
setelah mengatakan hal itu, Ryosuke menunduk. Ran bangkit dari kursinya dan
berjalan menghampiri Ryosuke. Ia memeluk Ryosuke dengan sayang.
“Daijoubu. Terima kasih juga karena Ryo
sudah menjadi anak ibu yang penurut dan manis, juga sudah menjadi saudara Yuto
yang baik,” Ran membelai kepala Ryosuke. Yuto melihat ibunya dan Ryosuke dengan
tersenyum senang.
Setelah menghabiskan kashiwamochi
dan memasang koinobori, Yuto dan Ryosuke pamit untuk pergi bermain.
Matahari bersinar dengan cerah.
Terlihat beberapa anak laki-laki sedang bermain layang-layang di lapangan. Tapi
bukan lapangan yang dituju Yuto dan Ryosuke.
“Ah, sampai juga,” Yuto langsung
merebahkan dirinya di rerumputan hijau yang tumbuh di tepi Sungai Tenjin.
Ryosuke berjalan ke tepi sungai. Ia
duduk di tepi dan mencelupkan kakinya ke dalam air. Air sungai yang jernih dan
dingin membuat badannya menjadi rileks. Ia menutup mata dan menghirup udara
dalam-dalam. Ia membiarkan pikirannya melayang kemana-mana.
Yuto bangkit berdiri dan ikut duduk di
samping Ryosuke. Ia memandang jauh ke depan. Setelah beberapa saat, ia menengok
dan menepuk pundak Ryosuke.
“Nani?” Ryosuke membuka matanya.
“Kau tahu? Aku sempat berpikir
tentang...masa depan,” Yuto melepas sepatu dan kaos kakinya lalu mencelupkan
kakinya ke dalam air seperti yang Ryosuke lakukan.
“Eh? Masa depan? Maksudmu yang seperti
apa?” Ryosuke memandang Yuto dengan penasaran.
“Maksudku, ingin jadi apa kita kelak
dan seperti apa kehidupan kita. Kalau aku...aku ingin bisa menjadi drummer yang
handal. Itu lho, seperti drummer yang sering kita lihat di tv. Aku juga ingin
menjadi ahli serangga,” senyum Yuto terus mengembang selagi ia menceritakan
mimpinya. Ryosuke terdiam mendengarkan mimpi Yuto.
“Aku juga ingin melihat kota Tokyo
bersamamu dan ibu. Aku ingin berlibur ke sana dengan uangku sendiri,” Yuto
menengok ke arah Ryosuke. “Bagaimana dengamu?”
Ryosuke terdiam sejenak. Ia tampak
berpikir.
“Aku...Ingin bertemu dengan kerabat
orang tua kandungku. Aku berharap, aku bisa mengetahui seperti apa keluarga
Yamada itu,” tatapan Ryosuke menerawang jauh ke depan. Tidak ada senyum yang
tersungging di wajahnya. Hanya ada ekspresi datar di wajahnya yang chubby.
“Orang tua kandungmu ya...” Yuto
menunduk.
“Ah, tapi Yuto-kun, bagiku kalian
adalah keluarga yang sempurna kok. Kalian memberiku kasih sayang padahal aku
tidak punya hubungan dengan darah kalian. Aku adalah orang lain. Tapi kalian
bersedia merawatku,” Ryosuke memeluk Yuto yang ada di sampingnya. “Aku tidak
akan pernah melupakan kalian,”
Yuto tersenyum senang. Ia membalas
pelukan Ryosuke.
“Kau memang saudaraku,”
***************************************************************************
+++++
Dua tahun kemudian +++++
Yuto berlari pulang ke rumah,
meninggalkan Ryosuke di belakang. Ryosuke berusaha berlari lebih cepat untuk
menyusul Yuto, tapi ternyata usahanya tidak berhasil. Ia masih saja tertinggal.
Sementara itu Yuto menengok ke belakang, melihat Ryosuke yang ada di
belakangnya.
“Ayolah, Ryo-chan. Masa kau kalah
dengan anak yang lebih muda darimu?” Yuto memamerkan senyum mengejek kepada
Ryosuke.
“Hei, walau kau lebih muda, tapi kau
lebih tinggi. Dan kenapa kau bisa lebih tinggi dariku?! Haaah, tiang listrik!”
Ryosuke terus berlari. Nafasnya memburu dengan cepat.
“Hooo, tanya dirimu sendiri kenapa kau
bisa pendek,” Yuto menjulurkan lidahnya.
“Awas kau, Yuto!”
Yuto dan Ryosuke terus berlari
berkejaran sampai ke rumah. Mereka berhenti di depan rumah mereka sambil
mengatur nafas. Tapi bukan karena itu saja mereka berhenti di depan rumah. Tapi
karena ada sebuah mobil hitam – tampaknya mahal – yang terparkir di depan rumah
mereka.
Setelah Yuto dan Ryosuke melakukan Jan
Ken Pon dan akhirnya Yuto kalah, mereka masuk ke dalam rumah dengan Yuto
berjalan di depan.
“Tadaima,”
“Okaeri. Ah, kalian sudah pulang,” Ran
berjalan menghampiri Yuto dan Ryosuke. Ada dua orang dewasa – laki-laki dan
perempuan – mengikuti Ran.
“Mama, dare ga ano hitotachi?” Yuto
bertanya pelan kepada ibunya. Ran tersenyum.
“Mereka adalah kerabat Ryosuke yang
selama ini kita cari. Mereka itu keluarga Yamada,”
Ryosuke tampak kaget. Matanya
membelalak tak percaya. Keluarga Yamada ada di depannya.
“Mereka....kerabatku?” tanya Ryosuke.
“Mereka sudah menjelaskan semuanya pada
ibu. Mereka ingin membawamu bersama mereka untuk berkumpul bersama keluarga
Yamada yang lain,” Ran tersenyum kepada Ryosuke. Kedua orang di belakang Ran
juga tersenyum kepada Ryosuke.
“Boku? Jadi....” Ryosuke mendongak
menatap Ran. Ran mengangguk.
Mobil yang membawa pergi Ryosuke melaju
meninggalkan rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Ryosuke. Ran dan Yuto
berdiri di depan rumah, menatap kepergian mobil hitam yang melaju kencang.
Setelah mobil benar-benar tidak terlihat lagi, Yuto langsung berlari masuk ke
dalam rumah. Ran yang melihatnya hanya menghela nafas pasrah.
“Sayonara, Ryosuke,”
***************************************************************************
+++++
Tokyo, Awal tahun 2013 +++++
Sebuah pesawat mendarat di landasan
terbang Bandara Narita, Jepang. Seorang pemuda ber-jas hitam keluar dari
pesawat. Bibirnya menyunggingkan senyum.
“I miss you, Japan,”
Pemuda itu berjalan keluar dari Bandara
Narita sambil membawa sebuah koper berwarna putih. Sesampainya di luar,
seseorang menghampiri pemuda tersebut. Pemuda itu mengangguk lalu mengikuti
orang yang menghampirinya. Tapi sesaat kemudian, pemuda itu menoleh ke
belakang. Setelah terdiam sejenak, pemuda itu masuk ke sebuah mobil putih.
Beberapa saat kemudian, mobil itu melaju meninggalkan bandara.
Sepanjang jalan, pemuda itu
memperhatikan jalanan yang dilaluinya. Orang lalu lalang dengan memakai baju
hangat. Tak sedikit dari mereka yang membawa banyak tas belanja. Pemuda itu
tersenyum melihat toko-toko yang masih menebarkan suasana natal.
Mobil putih tersebut berhenti di depan
rumah besar berwarna krem. Pemuda itu keluar dari mobil setelah orang yang
menemuinya tadi membuka pintu mobil. Pemuda tersebut berjalan menuju rumah
berwarna krem di depannya.
Seorang laki-laki dewasa keluar dari
rumah dan berjalan menuju pemuda tadi. Laki-laki itu merentangkan tangannya
lalu memeluk pemuda ber-jas hitam yang lebih pendek darinya.
“Welcome back, Ryosuke,” laki-laki
tersebut menepuk punggung pemuda yang dipanggilnya Ryosuke. Ryosuke tersenyum
dan membalas pelukan laki-laki di depannya.
“Lama tidak jumpa, paman,”
Matahari sudah terbenam beberapa jam
yang lalu. Beberapa orang tengah duduk mengelilingi sebuah meja makan besar
dengan beberapa makanan mewah yang terhidang cantik di atasnya. Ryosuke sendiri
terlihat duduk di ujung meja makan sambil memakan sebuah hidangan yang
tersedia.
“Ryo, besok kita akan mengunjungi
perusahaan peninggalan ayahmu yang saat ini paman kelola. Saat kau siap, kau
yang akan memimpin perusahaan itu,” laki-laki dewasa yang duduk di depan
Ryosuke membuka pembicaraan.
“Terima kasih, paman. Selama ini paman
sudah mengambil alih perusahaan ayah dan menjalankan perusahaan itu. Terima
kasih, paman sudah berjasa banyak untuk almarhum ayah,” Ryosuke tersenyum dan
menunduk sejenak.
“Ryo-kun, bagaimana rasanya hidup di
daerah Eropa?” tanya seorang pemuda yang kira-kira berusia lebih muda dari
Ryosuke.
“Sangat menyenangkan, Ryutaro,” Ryosuke
tersenyum.
Hari berganti hari, minggu berganti
minggu, dan bulan berganti bulan. Ryosuke terus menerus mempelajari tentang
perusahaan almarhum ayahnya. Mungkin dua tahun lagi, Ryosuke sudah bisa mengambil
alih perusahaan almarhum ayahnya.
***************************************************************************
:::
RYOSUKE POV :::
###
Pesta Ulang Tahun Yamada Ryosuke ###
Sebuah ruangan besar telah disulap
sedimikan rupa sehingga berubah menjadi tempat yang sangat indah untuk
merayakan ulang tahunku, Yamada Ryosuke, pewaris tunggal sebuah perusahaan
besar dan ternama di Jepang.
Aku berdiri di dekat panggung utama,
mengangguk dan tersenyum kepada setiap undangan yang hadir. Ini melelahkan,
jujur saja. Aku tidak mengenal satu pun orang yang lewat di depanku. Mereka
semua adalah kenalan almarhum ayah, teman bisnis paman, dan para pemegang saham
perusahaan. Aku lelah, aku ingin istirahat.
Sesaat kemudian, sebuah lagu dinyanyikan
untuk mengawali acara ulang tahunku ini. Aku melihat ke panggung utama, dimana
beberapa orang tengah memainkan alat musik dan satu orang menyanyikan sebuah
lagu. Mataku tertuju pada satu orang, drummer.
“Dia mengingatkanku pada seseorang,”
gumamku.
Setelah sebuah lagu selesai
dinyanyikan, para pemain musik mulai berjalan keluar panggung, termasuk drummer
yang memakai sebuah masker berwarna putih. Aku hanya melihatnya sekilas karena
aku tidak mengenalnya. Sama seperti tamu undangan yang hadir pada acara malam
ini. Mereka semua orang asing.
Begitu pembawa acara menyebut namaku
dan mempersilahkan aku untuk naik ke panggung, aku segera naik ke atas
panggung. Beberapa saat sebelum aku naik ke atas panggung, paman membisikiku
untuk tidak bertindak terlalu cepat dan harus bertindak halus. Tuhan...
“Terima kasih karena anda semua sudah
mau hadir di acara kecil ini. Saya sungguh sangat senang, karena anda semua mau
menyisihkan sedikit waktu anda untuk menghadiri pesta ulang tahun saya. Sekali
lagi, terima kasih,” aku mengakhiri pidato singkatku dengan membungkuk ke arah
tamu undangan. Setelah itu aku menebar senyum, sama seperti yang diajarkan
paman.
Lantunan lagu Selamat Ulang Tahun
terdengar di ruangan. Setelah lagu usai, aku meniup lilin berbentuk angka 21
yang terpasang di atas kue besar berhiaskan stroberi. Setelah lilin padam,
semua undangan bertepuk tangan.
Setelah pesta usai, semua undangan
pulang dan aku harus kembali memantau perusahaan ayah yang berada di luar
Tokyo. Aku harus melakukannya agar aku bisa memahami semua kondisi perusahaan.
“Ayo, Ryo. Kita bisa ketinggalan
pesawat,” paman menarik tanganku dan berjalan keluar dari ruangan.
Begitu keluar dari rumah, aku melihat
drummer yang tadi tampil di acara ulang tahunku mendekat ke arahku. Tapi
pamanku tetap menarik tanganku dan berjalan menuju mobil.
“Ryosuke! Ryosuke!”
Aku menoleh ke belakang. Tapi sekali
lagi paman menyentak tanganku agar aku tidak berhenti.
“Ryo, ayo. Ayahmu pasti juga tidak suka
melihatmu lambat dalam mempelajari perusahaan. Perusahaan itu akan kau tangani
cepat atau lambat,” ujar paman padaku. Aku hanya terdiam dan tidak berkomentar
apa-apa. Sesaat setelahnya aku dan paman naik ke atas mobil.
“Pak, jalan. Kita ke bandara sekarang,”
perintah paman kepada supir pribadi kami.
“Baik, Tuan,” supir kami mulai
menjalankan mobil perlahan.
“Ryo-chan! Aku Yuto! Kenapa kau seakan
lupa padaku?!”
Aku langsung menoleh ke belakang.
Drummer tadi sudah melepas maksernya.
Wajahnya...Persis Yuto...
Aku berkedip dan semua terjadi begitu
cepat. Yuto terlihat seperti sedang batuk dan sesaat kemudian ia jatuh pingsan
di pekarangan rumahku.
“Pak, berhenti!” aku langsung membuka
pintu mobil tanpa menunggu mobil berhenti terlebih dahulu.
“Ryo! Apa yang kau lakukan?” pamanku
menahan tanganku.
“Mungkin, mungkin ayah akan kecewa
karena aku lambat dalam menangani perusahaan. Tapi ayah akan lebih kecewa
padaku jika aku tidak peduli pada orang yang sudah merawatku selama sepuluh
tahun!” aku menutup pintu mobil dengan keras dan berlari menyeberangi jalan
yang tengah padat kendaraan.
Penjaga dan Ryutaro sudah lebih dulu berkerumun di sekitar Yuto. Aku yang baru tiba langsung berlutut di samping Yuto, memeriksa denyut nadinya.
“Cepat ambil mobil yang lain dan bawa
dia ke rumah sakit!”
***************************************************************************
###
Bangsal Rumah Sakit ###
Aku menunggu dengan gelisah di ruang
tunggu bersama Ryutaro. Paman membatalkan rencana untuk pergi menengok
perusahaan. Saat ini paman sedang ada di rumah bersama istrinya. Sedangkan anak
mereka, Ryutaro, memaksa untuk menemaniku di rumah sakit.
Rasanya waktu sudah berlalu sangat lama
semenjak Yuto masuk ke dalam ruang gawat darurat. Aku sudah menghubungi ibu
Yuto lewat keitai milik Yuto. Tapi sampai saat ini, ibu Yuto belum juga datang.
“Ah, Ryosuke,”
Aku mendongak. Nakajima Ran, ibu Yuto,
berlari ke arahku. Wajahnya tampak sangat khawatir.
“Bagaimana keadaan Yuto?” ibu Yuto
duduk di sampingku. Aku kembali menunduk.
“Saya tidak tahu, bu,”
Aku merasakan tubuhku dipeluk. Aku
mendongak, dan barulah aku tahu bahwa orang yang memelukku adalah ibu Yuto.
“Aku rindu padamu, Ryo. Yuto sudah
bercerita padaku kalau ia tanpa sengaja melihatmu di bandara. Ia sudah
memanggilmu, tapi sayangnya kau tidak mendengarnya,” ibu Yuto bercerita sambil
memelukku.
Aku tertegun. Yuto memanggilku saat di
bandara?
“Ah, Dokter,” Ryutaro berdiri dan
menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat. Aku dan ibu
Yuto segera menyusul Ryutaro.
“Bagaimana keadaan anak saya, dokter?”
tanya ibu Yuto. Dokter itu menghela nafas panjang.
“Anak ibu mengalami Pulmonary
Stenosis, penyempitan katup paru. Bilik kanan jantung sudah membesar.
Sebenarnya ini termasuk kelainan jantung sejak lahir, tapi sepertinya baru terdeteksi
sekarang,” Dokter berhenti. Ia tampak ragu-ragu.
“Lalu, bagaimana hidupnya, dok? Bagaimana cara dia agar
sembuh?” tanyaku. Setelah agak ragu-ragu, dokter akhirnya bicara.
“Harapan hidup Nakajima sangat rendah. Hanya bisa
diselamatkan dengan pencangkokan jantung. Itu pun harus jantung dari orang yang
meninggal bukan karena sakit, dan harus segera dilakukan pencangkokan setelah orang
itu meninggal. Saya tidak tahu apakah ada keajaiban sehingga donor jantung itu
tiba,” Dokter itu mengakhiri penjelasannya. “Maaf, permisi. Masih ada pasien
lain yang harus saya periksa,”
Setelah dokter itu pergi, para suster membawa Yuto ke ruang
inap. Di sana, ibu Yuto terus menangis di samping Yuto. Ryutaro duduk diam di
pojok ruangan. Aku hanya bisa duduk diam di samping Yuto.
“Setelah kau pergi, Yuto benar-benar sedih. Selama beberapa
hari ia mengurung diri di rumah pohon yang dulu kalian bangun bersama. Setelah
itu ia berkata bahwa ia ingin menjadi orang yang hebat dan bertemu denganmu,”
ibu Yuto menyeka air matanya. Aku hanya bisa melihat dari sudut mataku. Aku
tidak berani untuk mendongak.
“Malam ini pun ia tampil di acara ulang tahunmu. Ia mencari
tahu dari setiap orang yang bisa ia tanyai. Hanya satu yang ia inginkan. Ia
ingin bertemu denganmu, orang yang sudah ia anggap saudara sendiri,” ibu Yuto
kembali menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur Yuto. Aku masih menunduk.
Tapi kemudian butiran air mata perlahan mengalir di pipiku.
***************************************************************************
Sudah satu minggu Yuto dirawat di rumah sakit. Pihak rumah
sakit tidak mengijinkannya pulang karena takut hal yang tidak diinginkan akan
menimpa Yuto. Yuto telah mengetahui penyakit yang dideritanya, aku
mengetahuinya karena aku mendengar pembicaraan dokter dengan Yuto. Satu hal
yang membuatku kagum padanya. Ia tidak tampak terbebani.
Selama
empat hari Yuto pingsan dan baru sadar pada hari kelima. Sementara aku pergi ke
luar kota sejak hari ketiga Yuto dirawat di rumah sakit. Aku belum mempunyai
kesempatan untuk bicara pada Yuto.
Hari
ini pun aku sedang berada di luar kota. Aku mengendarai sendiri mobil Honda
yang dibelikan oleh pamanku. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke Tokyo, tapi
aku ingin mampir sebentar ke Kurayoshi.
Aku
sampai di tepi sungai Tenjin. Aku turun dari mobil dan duduk di tepi sungai.
Sudah sangat lama sejak aku bermain bersama Yuto di sungai ini. Waktu berlalu
begitu cepat.
Aku
merasakan keitai milikku bergetar. Aku segera merogoh saku baju dan mengambil
keitai berwarna putih.
Ryutaro
“Hai.
Moshi-moshi, Ryuu-chan. Eh? Nani?! Oke, aku akan segera ke sana,”
Aku
segera menutup keitai-ku dan masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan penuh, aku
melaju menuju Tokyo. Kata Ryutaro, keadaan Yuto semakin memburuk. Harus segera
dilakukan transplantasi jantung, tapi belum ada donor jantung untuk Yuto.
***************************************************************************
::: AUTHOR POV :::
Ryosuke
sudah memasuki kawasan Tokyo. Sebentar lagi ia akan tiba di rumah sakit. Ia
menyetir dengan kecepatan tinggi, bahkan ia tidak berhenti saat lampu merah
menyala.
Tiba-tiba
sebuah truk keluar dari jalan kecil. Ryosuke yang kaget langsung membanting
setir ke kiri. Dari arah berlawanan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi.
Ryosuke berusaha menghindar tapi mobilnya terlanjur menabrak mobil di depannya
dengan keras. Mobil yang dikendarai Ryosuke terbalik dan menabrak tepi trotoar.
***************************************************************************
### Rumah Sakit ###
Warga
sekitar segera membawa Ryosuke ke rumah sakit terdekat. Salah seorang warga
berhasil menghubungi paman dan bibi Ryosuke melalui keitai milik Ryosuke.
Beberapa saat kemudian paman dan bibi Ryosuke datang.
Setelah
satu jam, mata Ryosuke terbuka.
“Ryo,
daijoubu?” bibi Ryosuke segera menghampiri Ryosuke.
“Yut...to...”
Ryosuke berkata lemah.
“Yuto?
Temanmu itu?” paman Ryosuke ikut berdiri di samping tempat tidur Ryosuke.
“Aku...ingin....b-bertemu....Yut...to....”
suara Ryosuke terdengar semakin lemah.
“Demo,
Ryo~”
“Se...ka...rang...”
Paman
dan bibi Ryosuke berpandangan sesaat, sebelum akhirnya mereka mengangguk.
Mereka segera membawa Ryosuke ke rumah sakit tempat Yuto dirawat. Di sana
Ryosuke segera ditempatkan di ruang gawat darurat. Ia tidak diperbolehkan bertemu
Yuto, karena keadaannya sendiri sedang gawat.
Ibu
Yuto masuk ke ruang gawat darurat untuk bertemu Ryosuke. Di dalam ruangan juga
ada paman dan bibi Ryosuke.
“Aku...punya
satu....keinginan...D-dan...aku...i-ingin kalian...memenuhinya...” nafas Ryosuke
terdengar sangat berat di setiap kata yang ia ucapkan.
“Apa
itu, Ryo?” tanya ibu Yuto. Ibu Yuto mendekat ke ranjang tempat Ryosuke
berbaring.
“Aku....i-ingin...”
suara Ryosuke terdengar semakin lemah. Alat penunjuk detak jantung juga
menunjukkan bahwa detak jantung Ryosuke semakin melemah. “Men-donor.... kan....
jantungku....p-pada....Yu...to...”
“Nani?!
Tidak, Ryo. Kau tidak boleh bicara seperti itu. Kau masih hidup!” ibu Yuto
langsung menolak dan meraih tangan Ryosuke.
“Tidak,
Ryo. Kau tidak boleh bicara seperti itu,” paman Ryosuke menggeleng sambil
menatap Ryosuke.
“O-onegai....Hidup
Yuto i-itu....berh-harga....” Ryosuke menarik nafas berat. “Kalian c-cukup
bi...lang ya...”
“Ryosuke....”
bibi Ryosuke mulai menitikkan air mata.
“A-aku...tidak
ingin....Yu-to....juga....t-tidak selam-mat....”
TIIIIIIIIITTTTTTTTT
“RYO!”
***************************************************************************
Tim
dokter berhasil mengambil jantung Ryosuke dan memasangkannya pada tubuh Yuto.
Detak jantung Yuto mulai terdeteksi. Tapi kemudian detak jantung mulai
menunjukkan tidak normal. Jantung Yuto berdetak dengan sangat cepat, semakin
lama semakin tinggi.
“Suster!
Ambilkan Restasis!”
Dokter
memberikan obat immunosupresan tersebut sesuai dosis. Diharapkan tubuh Yuto
dapat menerima jantung dari Ryosuke. Tapi setelah diberi Restasis, reaksi yang
diberikan ternyata di luar dugaan. Jantungnya berhenti berdetak.
Dokter
segera mengambil alat kejut jantung untuk memancing jantung itu agar berdetak
lagi. Dokter mencobanya sekali namun jantung tetap berhenti.
“Lagi!”
Dokter mencobanya sekali lagi. Tapi tidak berhasil.
“Lagi!”
***************************************************************************
Seorang
anak kecil berlutut di depan sebuah pusara putih.
“Otoosan!
Kochi!” anak kecil itu menoleh ke belakang dan memanggil ayahnya.
Seorang
laki-laki dewasa menghampiri anak kecil itu. Ia mengusap kepala anaknya dengan
lembut lalu ikut berlutut di depan sebuah pusara.
“Ayo,
kita berdoa bersama,” laki-laki itu tersenyum kepada anaknya. Lalu ia
menundukkan kepala dan mengatupkan kedua telapak tangannya. Hatinya membisikkan
baris demi baris kata kepada Tuhan untuk arwah dari pemilik pusara di depannya.
Sebuah pusara putih nan cantik.
“Ah,
ternyata kau di sini, Yuto-kun,”
Laki-laki
yang tadi berdoa, kini mendongak dan menoleh ke arah orang yang memanggil
namanya.
“Ayo
kita pulang. Sudah sore,” seorang laki-laki yang lain mengajak Yuto untuk
pergi.
“Ya,
Ryutaro. Aku menyusul,” Yuto tersenyum lalu menunduk memandang anaknya.
“Ryosuke, ayo kita pulang. Ibu pasti sudah menunggu dengan masakannya yang
lezat,”
Yuto
bangkit dan menggendong anaknya. Beberapa saat ia tersenyum sambil memandang
pusara putih di depannya.
“Arigatou,
Ryo-chan. Sebenarnya, aku tidak apa-apa bila aku tidak selamat. Itu memang
sudah garis hidupku. Tapi kau menyelamatkan aku. Terima kasih. Terima kasih
saudaraku. Aku harap, saat ini kau sedang bersama orang tua kandungmu serta
ibuku di surga sana. Semoga kelak aku bisa menyusul kalian,”
“Yuto-kun,
ayolah. Aku sudah capek nih,” Ryutaro memanggil Yuto dari ujung pemakaman.
“Iya,
Ryutaro. Jangan manja begitu. Kau sekarang sudah besar,” Yuto berjalan pergi
bersama anaknya meninggalkan pusara.
Pusara
putih itu berkilau memantulkan sinar matahari sore. Tulisan di atas pusara
menjadi terlihat jelas terkena sinar matahari. Tulisan yang berbunyi, “One and Only, Yamada Ryosuke”

0 komentar:
Posting Komentar