Jumat, 17 April 2015

Filsafat Fenomenologi menurut Martin Heidegger dan Maurice Marleau Ponty


1.      Pengertian Filsafat
Ilmu filsafat adalah ilmu yang menjadi induk segala pengetahuan. Filsafat merupakan sebuah sistem yang komprehensif dari ide-ide mengenai keadaan yang murni dan realitas yang terjadi dalam hidup. Filsafat juga dapat dijadikan paduan dalam kehidupan karena hal-hal yang berada di dalam lingkupnya selalu menyangkut sesuatu yang mendasar dan membutuhkan penghayatan. Filsafat digunakan untuk menentukan jalan yang akan diambil seseorang dalam kehidupannya. Filsafat juga memberi petunjuk mengenai tata cara pergaulan antara sesama.
Tak lepas dari semua ini, pada dasarnya filsafat adalah bersumber dari pertumbuhan pola pikir manusia. Semua yang  ada, atau yang telah ada bisa diperhatikan dan dipikirkan secara logika. Karena berpikir adalah aktifitas individu dan manusia mempunyai kemerdekaan untuk berpikir. Berpikir secara mendalam untuk menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya.
2.      Pengertian Fenomenologi
Fenomenologi menggunakan pengalaman langsung sebagai cara untuk memahami dunia. Orang mengetahui pengalaman atau peristiwa dengan cara mengujinya secara sadar melalui perasaan dan persepsi yang dimiliki orang bersangkutan. 
Maurice Marley-Ponty, salah seorang pendukung tradisi ini menulis; all my knowledge on the word, event my scientific knowledge, is gained from own particular point of view, or from some experience on the world. (Seluruh pengetahuan saya mengenai dunia, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh dengan pandangan saya sendiri, atau dari pengalaman dunia.
Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai ‘data utama’ dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah apa yang dialaminya. Jika ingin mengetahui apakah itu ‘cinta’, maka Anda tidak akan bertanya pada orag lain, tetapi Anda langsung memahami cinta dari pengalaman langsung dari diri Anda sendiri.




3.      Pemikiran Martin Heidegger
Martin Heidegger adalah seorang fenomenolog sekaligus filsuf Jerman. Ia berasal dari keluarga sederhana. Pada tanggal 26 September ia dilahirkan dikota Messkirch. Pada tahun 1909 ia masuk Universitas Freiburg untuk belajar fakultas teologi. Setelah mempelajari teologi selama empat semester, ia mengalihkan perhatiannya kepada studi filsafat, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan kemanusiaan. Berikutnya, pada tahun 1916 Edmund Husserl datang ke Freiburg sebagai rektor di universitas tersebut. Kedatangan Husserl merupakan suatu peristiwa yang penting bagi Heidegger. Mengapa? Karena kedatangan Husserl ini semakin memperkuat Heidegger untuk lebih memperdalam filsafat fenomenologi, yang sudah lama menjadi perhatiannya. Dia juga yakin bahwa melalui pergaulan langsung dengan pendiri fenomenologi, dia akan menguasai betul maksud dan jangkauan cara berfilsafat Husserl, khususnya tentang filsafat fenomenologi. Husserl sendiri menganggap Heidegger sebagai seorang murid yang pandai dan cerdas, sehingga karena kepandaiannya itu ia diangkat Husserl sebagai asistennya. Lalu bagaimana kita dapat memahami fenomenologi Heidegger setelah ia sendiri mengenal Husserl sebagai pendiri aliran fenomenologi?
Pertama-tama, kita harus mengetahui bahwa heidegger bukan hanya seorang fenomenolog, tetapi ia juga adalah seorang filsuf yang menaruh perhatian pada Filsafat Eksistensialisme. Melalui filsafat ini, ia berusaha menghubungkan pertanyaan metafisis filsafat barat ke arah pertanyaan ontologis, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut makna keberadaan. Heidegger menjadi tertarik akan pertanyaan tentang mengada atau apa artinya untuk berada karena pengaruh filsuf sebelumnya seperti Plato, Descartes, maupun pada periode pencerahan. Namun pertanyaan tentang Ada ini berasal dari pertanyaan filsafat barat tradisional, yakni apa yang menjadi gagasan Parmenides. Singkatnya, melalui pertanyaan ontologis ini kita dapat mengetahui bagaimana heidegger mulai menerapkan fenomenologinya, terutama bagaimana mendekati Ada sebagai sebuah fenomen? Menurut Heidegger, untuk mendekati Ada sebagai sebuah fenomen, kita harus membiarkan Ada “menampakkan diri pada dirinya sendiri”. Artinya, dalam mendekati Ada kita tidak memaksakan penafsiran-penafsiran kita begitu saja, melainkan membuka diri, yaitu membiarkan Ada terlihat. Maka, sikap yang tepat terhadap Ada adalah membuka diri, bukan hanya menganalisis. Sikap membuka diri ini terlihat dari seseorang yang kerap merasa heran terhadap fenomen ada, mengapa segala sesuatu itu ada atau tiada? atau apa artinya semua itu bagi kehidupan manusia? Memang, pertanyaan ini mungkin tak akan pernah terjawab, tetapi pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang bertanya karena keingintahuan terhadap suatu fenomen ada. Pertanyaan ini muncul ketika hati kita tidak hanyut dalam arus kehidupan sehari-hari, yaitu kalau kita bermenung dan berefleksi. Menurut Heidegger pada momen inilah hati kita terbuka terhadap Ada; dan Heidegger mengambil momen keterbukaan hati ini sebagai cara mendekati fenomena Ada.

Sehubungan itu, Heidegger juga menambahkan bahwa penampakan Ada tidak muncul begitu saja atau tidak sesederhana yang manusia pikirkan. Mengapa? Karena menurut Heidegger, tidak seluruh ada menampakkan diri. Jenis penampakan ada itu dapat bermacam-macam. Oleh karena itu, subyek harus jeli dalam memilah-milah penampakan ada. Ada dua hal penampakan yang harus menjadi perhatian khusus kita menurut Heidegger, yakni pertama, sesuatu bisa menampakkan diri seolah-olah mirip sesuatu (penampakan kemiripan). Kedua, sesuatu itu juga dapat menampakkan diri sedemikian rupa sehingga muncul sebagai sesuatu yang lain, sementara keasliannya tetap tersembunyi dibalik penampakannya. Misalnya, demam itu adalah penampakan dari suatu penyakit, namun penyakit itu sendiri tidak menampakkan diri. Dengan kata lain, terjadi suatu penyingkapan diri sesuatu yang tidak menampakkan diri, artinya dalam penampakannya Ada menyembunyikan diri. Maka, menurut Heidegger dalm hal inilah fenomenologi dapat dipakai untuk mengakses Ada apabila subyek membiarkan Ada terlihat; dan dengan demikian, subyek dapat menemukan penampakan yang sejati, yaitu makna terdalam dari Ada itu sendiri
Pendekatan yang dipakai Heidegger di atas berbeda dengan pendekatan yang dipakai Husserl.
Heidegger meradikalkan konsep Husserl tentang intensionalitas, yaitu keterarahan kesadaran. Menurut Husserl, kesadaran kita selalu terarah pada pada sesuatu di luarnya. Untuk kesadaran ini Husserl memaksudkannya sebagai suatu kesadaran akan sesuatu. Bagi Heidegger, kesadaran kita tidak hanya kesadaran akan sesuatu, tetapi juga kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Maksudnya, kita tidak sekedar menyadari sesuatu, tetapi sesuatu itulah yang turut membentuk kesadaran kita. Misalnya, kita hidup di dalam dunia, maka dunia ini yang membentuk kesadaran kita. Heidegger juga menambahkan bahwa kesadaran dalam dunia tidak hanya itu, tetapi kesadaran akan dunia memiliki banyak bentuk, misalnya suasana hati yang berkaitan dengan perasaan. Kesadaran seperti ini Heidegger sebut sebagai kesadaran dalam sesuatu. Dengan kata lain, Heidegger menganggap bahwa kesadaran murni seperti yang dibayangkan Husserl tidak ada.
Dari uraian singkat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pertama, fenomenologi Heidegger adalah suatu ontologi menyangkut kenyataan. Fenomenologi Heidegger berusaha memaknai Ada sebagai sebuah fenomen yang utama dari kesadaran manusia. Kedua, dengan memahami fenomenologi Heidegger kita diarahkan untuk memahami karyanya yang cukup sulit dipahami, yaitu tentang Ada dan Waktu. Ketiga, sebagai seorang filsuf eksistensialis dan fenomenolog, Heidegger mengajak manusia untuk kritis dan jeli dalam memaknai pengalaman sehari-hari, khususnya berkaitan dengan begitu banyak penampakan yang mirip dan yang kerap menipu penglihatan manusia.


4.      Maurice Merleau-Ponty 
Ia adalah seorang filsuf fenomenologi, "kesadaran" abad 20.Aliran filsafatnya mula-mula dipengaruhi oleh Fenomenologi dari Husserl dan Heidegger serta Sartre, namun lambat laun di memisahkan diri dan memasukkan teori dari Saussure dalam buku Levi Strauss dalam bidang bahasa.
Ponty lahir pada tahun 1908, dan ditinggal mati ayahnya pada Perang Dunia I Menempuh pendidikan di Lycees Janson-de-Sailly dan Louis-le-Grande, dan pada tahun 1930 mendapat agregasi dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure. Dia bersahabat dengan Sartre kurang labih 7 tahun (1945-1952), namun setelah itu dia menjadi penentangnya. Sartre yang gigih denganeksistensialisme, memisahkah "subyek-obyek", kemudian menjadi Marxisme garis keras ditolak oleh Pounty. Bagi Pounty, melalui pengalaman-pengalaman yang ditemui manusia, maka diperoleh faktor lain untuk mencari "esensi" yang tidak mutlak sama pada setiap orang dari pengalamannya, yaitu ciri bahasa, pencerapan dan tubuh. Dengan begitu manusia tidak selalu menjadi subjek yang berpikir menentukan semuanya, namun dari fenomena yang terjadi, maka realitas sebagai objek dapat berbicara kepada maunusia yang juga adalah objek.

Salah satu teori Pounty dapat dilihat dari caranya melakukan kritisisme, dari hipotesa yang dilakukan secara psikologi, dia berpendapat bahwa manusia melakukan tindakan berawal dari refleksi psikologinya. Dari perilaku yang dia jadikan "tanda" atau fenomena, maka dapat kita peroleh data tentang seseorang terkait prinsip hidup yang menjadikannya bertindak. Selalu ada kaitan antara pengalaman masa lalu yang mempengaruhi perilaku saat ini. Keterhubungan ini terjadi pada neuro-psikologi manusia. 
            Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu :Pertama hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita, dan Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari pengalaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali. 
Walaupun Marlean-Ponty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran.
Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real






KELEBIHAN DAN KEKURANGAN FILSAFAT FENOMENOLOGI
Kelebihan filsafat fenomenoligi diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Fenomenologi sebagai suatu metode keilmuan, dapat mendiskripsikan penomena dengan apa adanya dengan tidak memanipulasi data, aneka macam teori dan pandangan.
2.      Fenomenologi mengungkapkan ilmu pengetahuan atau kebenaran dengan benar-benar yang objektif.
3.      Fenomenologi memandang objek kajian sebagai bulatan yang utuh tidak terpisah dari objek lainnya.

Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati, hal ini lah yang menjadi kelebihan filsafat ini sehingga banyak dipakai oleh ilmuan-ilmuan pada saat ini terutama ilmuan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama.
Dari berbagai kelebihan tersebut, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan, seperti :
1.      Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan, merupakan suatu yang absurd (tidak mungkin).
2.      Pengetahuan yang didapat tidak bebas nilai (value-free), tapi bermuatan nilai (value-bound)


0 komentar:

Posting Komentar