1. Pengertian Filsafat
Ilmu filsafat adalah
ilmu yang menjadi induk segala pengetahuan. Filsafat merupakan sebuah sistem
yang komprehensif dari ide-ide mengenai keadaan yang murni dan realitas yang
terjadi dalam hidup. Filsafat juga dapat dijadikan paduan dalam kehidupan
karena hal-hal yang berada di dalam lingkupnya selalu menyangkut sesuatu yang
mendasar dan membutuhkan penghayatan. Filsafat digunakan untuk menentukan jalan
yang akan diambil seseorang dalam kehidupannya. Filsafat juga memberi petunjuk
mengenai tata cara pergaulan antara sesama.
Tak lepas dari semua
ini, pada dasarnya filsafat adalah bersumber dari pertumbuhan pola pikir
manusia. Semua yang ada, atau yang telah ada bisa diperhatikan dan
dipikirkan secara logika. Karena berpikir adalah aktifitas individu dan manusia
mempunyai kemerdekaan untuk berpikir. Berpikir secara mendalam untuk
menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan
keabsahannya.
2. Pengertian Fenomenologi
Fenomenologi menggunakan pengalaman langsung sebagai cara
untuk memahami dunia. Orang mengetahui pengalaman atau peristiwa dengan cara
mengujinya secara sadar melalui perasaan dan persepsi yang dimiliki orang
bersangkutan.
Maurice Marley-Ponty, salah seorang pendukung tradisi ini
menulis; all my knowledge on the word, event my scientific knowledge, is gained
from own particular point of view, or from some experience on the world.
(Seluruh pengetahuan saya mengenai dunia, bahkan pengetahuan ilmiah saya, diperoleh
dengan pandangan saya sendiri, atau dari pengalaman dunia.
Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai ‘data
utama’ dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah apa
yang dialaminya. Jika ingin mengetahui apakah itu ‘cinta’, maka Anda tidak akan
bertanya pada orag lain, tetapi Anda langsung memahami cinta dari pengalaman
langsung dari diri Anda sendiri.
3. Pemikiran Martin Heidegger
Martin
Heidegger adalah seorang fenomenolog sekaligus filsuf Jerman. Ia berasal dari
keluarga sederhana. Pada tanggal 26 September ia dilahirkan dikota Messkirch.
Pada tahun 1909 ia masuk Universitas Freiburg untuk belajar fakultas teologi.
Setelah mempelajari teologi selama empat semester, ia mengalihkan perhatiannya
kepada studi filsafat, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan kemanusiaan.
Berikutnya, pada tahun 1916 Edmund Husserl datang ke Freiburg sebagai rektor di
universitas tersebut. Kedatangan Husserl merupakan suatu peristiwa yang penting
bagi Heidegger. Mengapa? Karena kedatangan Husserl ini semakin memperkuat Heidegger
untuk lebih memperdalam filsafat fenomenologi, yang sudah lama menjadi
perhatiannya. Dia juga yakin bahwa melalui pergaulan langsung dengan pendiri
fenomenologi, dia akan menguasai betul maksud dan jangkauan cara berfilsafat
Husserl, khususnya tentang filsafat fenomenologi. Husserl sendiri menganggap
Heidegger sebagai seorang murid yang pandai dan cerdas, sehingga karena
kepandaiannya itu ia diangkat Husserl sebagai asistennya. Lalu bagaimana kita
dapat memahami fenomenologi Heidegger setelah ia sendiri mengenal Husserl
sebagai pendiri aliran fenomenologi?
Pertama-tama,
kita harus mengetahui bahwa heidegger bukan hanya seorang fenomenolog, tetapi
ia juga adalah seorang filsuf yang menaruh perhatian pada Filsafat
Eksistensialisme. Melalui filsafat ini, ia berusaha menghubungkan pertanyaan
metafisis filsafat barat ke arah pertanyaan ontologis, yaitu
pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut makna keberadaan. Heidegger menjadi
tertarik akan pertanyaan tentang mengada atau apa artinya untuk berada karena
pengaruh filsuf sebelumnya seperti Plato, Descartes, maupun pada periode
pencerahan. Namun pertanyaan tentang Ada ini berasal dari pertanyaan filsafat
barat tradisional, yakni apa yang menjadi gagasan Parmenides. Singkatnya,
melalui pertanyaan ontologis ini kita dapat mengetahui bagaimana heidegger
mulai menerapkan fenomenologinya, terutama bagaimana mendekati Ada sebagai
sebuah fenomen? Menurut Heidegger, untuk mendekati Ada sebagai sebuah fenomen,
kita harus membiarkan Ada “menampakkan diri pada dirinya sendiri”. Artinya,
dalam mendekati Ada kita tidak memaksakan penafsiran-penafsiran kita begitu
saja, melainkan membuka diri, yaitu membiarkan Ada terlihat. Maka, sikap yang
tepat terhadap Ada adalah membuka diri, bukan hanya menganalisis. Sikap membuka
diri ini terlihat dari seseorang yang kerap merasa heran terhadap fenomen ada,
mengapa segala sesuatu itu ada atau tiada? atau apa artinya semua itu bagi
kehidupan manusia? Memang, pertanyaan ini mungkin tak akan pernah terjawab,
tetapi pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang bertanya
karena keingintahuan terhadap suatu fenomen ada. Pertanyaan ini muncul ketika
hati kita tidak hanyut dalam arus kehidupan sehari-hari, yaitu kalau kita
bermenung dan berefleksi. Menurut Heidegger pada momen inilah hati kita terbuka
terhadap Ada; dan Heidegger mengambil momen keterbukaan hati ini sebagai cara
mendekati fenomena Ada.
Sehubungan itu,
Heidegger juga menambahkan bahwa penampakan Ada tidak muncul begitu saja atau
tidak sesederhana yang manusia pikirkan. Mengapa? Karena menurut Heidegger,
tidak seluruh ada menampakkan diri. Jenis penampakan ada itu dapat
bermacam-macam. Oleh karena itu, subyek harus jeli dalam memilah-milah
penampakan ada. Ada dua hal penampakan yang harus menjadi perhatian khusus kita
menurut Heidegger, yakni pertama, sesuatu bisa menampakkan diri seolah-olah
mirip sesuatu (penampakan kemiripan). Kedua, sesuatu itu juga dapat menampakkan
diri sedemikian rupa sehingga muncul sebagai sesuatu yang lain, sementara
keasliannya tetap tersembunyi dibalik penampakannya. Misalnya, demam itu adalah
penampakan dari suatu penyakit, namun penyakit itu sendiri tidak menampakkan
diri. Dengan kata lain, terjadi suatu penyingkapan diri sesuatu yang tidak
menampakkan diri, artinya dalam penampakannya Ada menyembunyikan diri. Maka,
menurut Heidegger dalm hal inilah fenomenologi dapat dipakai untuk mengakses
Ada apabila subyek membiarkan Ada terlihat; dan dengan demikian, subyek dapat
menemukan penampakan yang sejati, yaitu makna terdalam dari Ada itu sendiri
Pendekatan yang dipakai Heidegger di atas berbeda dengan pendekatan yang dipakai Husserl.
Pendekatan yang dipakai Heidegger di atas berbeda dengan pendekatan yang dipakai Husserl.
Heidegger
meradikalkan konsep Husserl tentang intensionalitas, yaitu keterarahan
kesadaran. Menurut Husserl, kesadaran kita selalu terarah pada pada sesuatu di
luarnya. Untuk kesadaran ini Husserl memaksudkannya sebagai suatu kesadaran
akan sesuatu. Bagi Heidegger, kesadaran kita tidak hanya kesadaran akan
sesuatu, tetapi juga kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Maksudnya, kita tidak
sekedar menyadari sesuatu, tetapi sesuatu itulah yang turut membentuk kesadaran
kita. Misalnya, kita hidup di dalam dunia, maka dunia ini yang membentuk
kesadaran kita. Heidegger juga menambahkan bahwa kesadaran dalam dunia tidak
hanya itu, tetapi kesadaran akan dunia memiliki banyak bentuk, misalnya suasana
hati yang berkaitan dengan perasaan. Kesadaran seperti ini Heidegger sebut
sebagai kesadaran dalam sesuatu. Dengan kata lain, Heidegger menganggap bahwa
kesadaran murni seperti yang dibayangkan Husserl tidak ada.
Dari uraian
singkat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pertama, fenomenologi Heidegger
adalah suatu ontologi menyangkut kenyataan. Fenomenologi Heidegger berusaha
memaknai Ada sebagai sebuah fenomen yang utama dari kesadaran manusia. Kedua,
dengan memahami fenomenologi Heidegger kita diarahkan untuk memahami karyanya
yang cukup sulit dipahami, yaitu tentang Ada dan Waktu. Ketiga, sebagai seorang
filsuf eksistensialis dan fenomenolog, Heidegger mengajak manusia untuk kritis
dan jeli dalam memaknai pengalaman sehari-hari, khususnya berkaitan dengan
begitu banyak penampakan yang mirip dan yang kerap menipu penglihatan manusia.
4.
Maurice
Merleau-Ponty
Ponty
lahir pada tahun 1908, dan ditinggal mati
ayahnya pada Perang Dunia I Menempuh pendidikan di Lycees Janson-de-Sailly dan
Louis-le-Grande, dan pada tahun 1930 mendapat agregasi dalam bidang filsafat di
Ecole Normale Superieure. Dia
bersahabat dengan Sartre kurang labih 7 tahun (1945-1952), namun setelah itu
dia menjadi penentangnya. Sartre
yang gigih denganeksistensialisme, memisahkah
"subyek-obyek", kemudian menjadi Marxisme garis keras ditolak oleh
Pounty. Bagi Pounty, melalui pengalaman-pengalaman yang ditemui manusia, maka diperoleh
faktor lain untuk mencari "esensi" yang tidak mutlak sama pada setiap
orang dari pengalamannya, yaitu ciri bahasa,
pencerapan dan tubuh. Dengan begitu manusia tidak selalu
menjadi subjek yang berpikir menentukan semuanya, namun dari fenomena yang
terjadi, maka realitas sebagai objek dapat berbicara kepada maunusia yang juga
adalah objek.
Salah
satu teori Pounty dapat dilihat dari caranya melakukan kritisisme, dari hipotesa yang dilakukan secara psikologi,
dia berpendapat bahwa manusia melakukan tindakan berawal dari refleksi
psikologinya. Dari perilaku yang
dia jadikan "tanda" atau fenomena, maka dapat kita peroleh data
tentang seseorang terkait prinsip hidup yang menjadikannya bertindak. Selalu ada kaitan antara pengalaman
masa lalu yang mempengaruhi perilaku saat ini. Keterhubungan ini terjadi pada neuro-psikologi manusia.
Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus
memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang
realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu :Pertama hanya meneliti atau mengulangi penelitian
tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita, dan Kedua hanya memperhatikan segi-segi luar dari
pengalaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali.
Walaupun Marlean-Ponty
setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan
kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran
manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman
perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas
kesadaran.
Oleh karena itu
deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan
dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan
perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya
persepsi untuk mencapai yang real
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN FILSAFAT FENOMENOLOGI
Kelebihan filsafat
fenomenoligi diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Fenomenologi sebagai
suatu metode keilmuan, dapat mendiskripsikan penomena dengan apa adanya dengan tidak
memanipulasi data, aneka macam teori dan pandangan.
2. Fenomenologi
mengungkapkan ilmu pengetahuan atau kebenaran dengan benar-benar yang objektif.
3. Fenomenologi memandang
objek kajian sebagai bulatan yang utuh tidak terpisah dari objek lainnya.
Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga
diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati, hal ini lah yang
menjadi kelebihan filsafat ini sehingga banyak dipakai oleh ilmuan-ilmuan pada
saat ini terutama ilmuan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk
bidang kajian agama.
Dari berbagai kelebihan tersebut, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput
dari berbagai kelemahan, seperti :
1. Tujuan fenomenologi
untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai
pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan, merupakan
suatu yang absurd (tidak mungkin).
2. Pengetahuan yang
didapat tidak bebas nilai (value-free), tapi
bermuatan nilai (value-bound)
