Minggu, 03 November 2013

Love After Goodbye in the 2 Last Train (2)



Author : Veronica Rii (https://twitter.com/tokyomeistyle)
Title : Love After Goodbye in the 2 Last Train
Type : multichapter – part 2
Rating : PG-13
Story Language : Indonesia
Genre : Romance—Angst
Story chara : Miyama Rie – Inoo Kei, dan tokoh pendukung lain
Pov : Miyama Rie
Disclaimer : I don’t own anything. Hope u can enjoyed my simple story




-Synopsis-
Seorang gadis SMA yang awalnya menggerutu karena sekolahnya sangat jauh, namun lama-kelamaan timbul sesuatu yang membuat dia lebih menikmati itu. Cinta yang mengalun dalam perjalanannya sangat terlambat ia sadari. Kenyataan sebenarnya yang menanti sungguh tak terduga. Ia terjebak dalam permainan alur waktu dari perasaan orang yang disukainya. Meski demikian ia tetap harus tersenyum.





~*~*~* PART 2. PIANO TANPA TUTS *~*~*~ 

   Tak lama lagi adalah hari kelulusanku, tepatnya lusa. Aku berencana ingin memberitahu Kei akan kelulusanku ini. Mungkin ia tak akan menduga kini aku sudah beranjak dewasa. Aku tak sabar menunggu reaksinya... tadinya kupikir  aku akan sulit tidur karena memikirkan banyak hal, namun sepertinya kelelahanku mendorong lebih cepat ke alam mimpi.


Jam menunjukan pukul 12 dan aku tiba-tiba terjaga. Bangun tengah malam memang hal yang sangat menjengkelkan buatku, kerena pasalnya aku kembali sulit tidur, juga merasakan hawa dingin malam yang cukup membuat bulu bergidik karena berdiri sendirian. Namun apalah daya, karena aku memang harus kekamar mandi. Tampaknya perutku juga menuntut diisi. Mungkin memang sebaiknya sedikit makan agar memudahkanku untuk terlelap nanti.

Setelah lega dari kamar mandi, aku menuju dapur, lalu duduk dibangku meja makan. Menggapai 2 helai roti tawar, dan mengoleskan selai stroberi di permukaan yang satu, lalu menutup dengan helai lainnya.

Mataku masih lumayan segar untuk kusuruh tidur. aku melirik laptop milik ayah yang tergeletak tak jauh dari jangkauan tanganku—waktu ayah pulang mungkin terlalu lelah sehingga ia lupa telah menggeletakan laptopnya disini saat makan malam, yang biasanya laptop ini disimpan dikamarnya.

Bosanku kambuh, mendorong hasratku untuk membuka laptop ayah. Aku yakin dia takkan marah, asalkan aku tak mengganggu-gugat dokumen-dokumen kantornya. Di laptop inipun tak ada hal yang sesuai seleraku dan membuatku tertarik, jadi kuputuskan untuk membuka internet saja.

Saat blankpage terbuka, aku sempat bingung ingin mencari apa, namun aku ingat saran ayah, ‘sebaiknya kau kuliah ke Tokyo. Masuk Todai, atau Meiji. Tergantung nilaimu. Ayah ingin hidupmu lebih terjamin di kota besar dalam lingkungan orang pintar.’

Ku pikir nilaiku tak seberapa bagus untuk bisa menjadi orang jenius dan masuk ke Tokyo Daigaku. Jadi sepertinya lebih baik aku masuk Meiji... Aku kembali teringat Kei, dan kini aku tahu, aku akan melakukan searching tentang Universitas Meiji saja...

Ku ketikan keyword universitas Meiji pada kolom search dilaman google. Ku baca setiap hasil searchingnya, dengan pandangan mata alur membacaku senada jari telunjukku yang juga ikut mengarahkan pada layar datar laptop. Namun bukan site resmi Meiji yang ku buka, perhatianku justru tercuri oleh salah satu artikel.

~
‘KECELAKAAN KERETA TAHUN 1996 DI STASIUN UENO’
......Ratusan korban....daftar korban : Kumika Tanabe (22 thn), Uchida......
 Mahasiswa Universitas Meiji, kawasan Shitsuba-ken.........
......Proses evakuasi berjalan lambat karena kondisi yang parah.....
~

Begitulah kurang lebih artikel yang terbaca sedikit pada awalnya dihasil searching google. Aku pun terdorong untuk segera membuka page itu.

Terlihat disitu ada tanggal posting berita ini, yaitu berita bulan Juni tahun 1996. Kejadian itu belasan tahun yang lalu, kira-kira saat aku kelas 1 atau 2 SD. Pantas saja aku tak pernah tahu ada tragedi besar seperti ini didekatku—stasiun Ueno adalah stasiun sebelum stasiun Akita.

Di page itu benar-benar terdeskripsikan dengan baik. Segala rincian kejadian hingga sesudah kejadian tampaknya ada. Bisa dilihat dari panjangnya isi page ini yang membuat scroll dipojok kanan dari tangan si pengetik terlihat kecil.

Aku mulai mencerna satu-persatu kata dari tiap informasi yang tersedia. Sungguh mengejutkan kejadiannya. kereta yang sedang berangkat dari arah Aomori pagi-pagi buta, katanya terhantam oleh kereta belakangnya saat transit di Ueno. Dituliskan disini bahwa itu adalah kesalahan teknis, atau Human-Error. 2 jalur rel yang seharusnya membelokan masing-masing kereta kearah jurusannya, justru tak bekerja.

Itu adalah inti dari kasus ini yang berhasil kusimpulkan setelah membaca ringkasan artikel yang dibuat oleh administrator-nya...

~
RINGKASAN ARTIKEL
Saat kereta dari stasiun Ueno hendak berangkat, terlihat kepala kereta Aomori mucul. Yang seharusnya kereta itu dibelokan kearah kiri, namun tak berbelok. Pengawas kereta yang saat itu bertugas telah lalai dari apa yang seharusnya ia lakukan. Tuas untuk memisahkan atau membelokan kereta Aomori sangat terlambat ia tarik.
 Maka terjadilah tabrakan hebat yang menimbulkan suara besar. Kepala gerbong kereta Aomori menghantam kereta Ueno. Kereta Ueno yang terdorong dibelakang menjadi sedikit maju. Akibat yang terparah dialami dari 2 gerbong terakhir.
Kepala gerbong kereta Aomori cukup kuat—memang setiap kereta pada bagian depan dirancang mebih kuat daripada yang belakangnya karena kepala tersebut adalah yang memimpin, menarik, dan melakukan segala perintah mesin.
Gerbong belakang Ueno yang kurang kuat dibanding yang menghantam jadi saling berhimpitan. Semua penumpang dari 2 gerbong terakhir dinyatakan tewas seketika. Sementara penumpang gerbong-gerbong didepannya mengalami luka parah-hingga luka ringan.
Sejak saat itulah, kereta Ueno yang berangkat memalui Akita dan Morioka mengurangi 2 gerbong terakhirnya. Karena gerbong yang mengalami kecelakaan itu sangat ironis kondisinya dan tak dapat digunakan lagi. si petugas yang lalai tersebut kini diberi hukuman setimpal.
~

Berita ini benar-benar mengerikan... namun aku masih merasa penasaran, ku gerakan lagi scroll kebawah dan menggulirkan bola mataku mengikuti alur tulisan. Di page ini juga ter-upload beberapa video. Diantaranya video rekaman acara tv yang menyorot pengevakuasian korban.

Dari sekitar 5 video yang ada, aku menonton salah satunya. Dan itu benar-benar mengaggumkan. Banyak orang yang saling bergotong-royong membantu. Ada kelompok orang yang berusaha mengeluarkan setiap korban didalam kereta. Lalu yang lain membuat beberapa barisan estafet berurutan dan memanjang, untuk saling mengoper korban—bagi  yang tak tertolong telah dimasukan kedalam kantung jenazah terlebih dahulu—hingga cepat sampai dalam stasiun.
Hari itu evakuasi sangat diusahakan cepat selesai, karena pasalnya semua jadwal kereta yang melewati Ueno dialihkan lewat rute lain, dan itu tak dapat bertahan lama. Stasiun Ueno yang terlihat bersih dan terawat sebelumnya, kini menjadi lautan manusia tergeletak, juga pertolongan pertama bagi yang mengalami luka-luka.

Riuh kepanikan, kesedihan, dan kesibukan para kru medis dengan berbagai peralatannya, semua bercampur menjadi satu. Suasana yang benar-benar tak bisa dibayangkan. Hatiku seakan ikut merasakan kepedihan yang berlangsung, tapi disamping itu aku menontonnya penuh rasa kagum akan ketegaran, dan sifat kerja keras setiap penolongnya.
Rasa penasaranku belum berakhir. Kini kursorku mengarah ke link bertuliskan, ‘DAFTAR KORBAN BESERTA FOTONYA’ yang sedikit banyak sepertinya membuatku terdorong untuk membacanya.

Kubuka link tersebut, dan disitu tertulis urut berdasarkan abjad. Terutama untuk korban meninggal 2 gerbong terakhir yang tampaknya dituliskan paling atas sebagai ‘Korban Jiwa’.

Betapa terkejutnya aku saat melihat sebuah nama yang ada dilist tersebut,
‘INOO KEI (22 th) – MEIJI UNIVERSITY’
Ini nama Kei... kanjinya pun sama seperti nama yang ada dibukunya. Hatiku seketika bergemuruh penuh ketakutan. Apakah ini hanya kebetulan? Apa hanya kebetulan ada 2 orang bernama sama di Jepang ini? Tapi kenapa dia menaiki kereta jurusan yang sama dengan yang aku dan Kei naiki selama ini?

Ribuan pertanyaan menyerbu otakku. Aku membuka foto yang tersedia dari tulisan ‘click here’ tepat di sebelah nama. Disitu yang terbuka bukanlah foto saat kecelakaan, melainkan saat pemakaman. Dimana sang korban sudah bersih dari segala bekas luka, dan rapi siap dimakamkan

 Aku melihat foto full-body seorang pria berjas hitam dengan bunga pada genggaman tangannya. Foto dari orang yang bentuk tubuhnya sangat kukenal... lekuk wajahnya sangat kukenal... fisik pria ini sangat ku kenal
 Itu... benar Kei. Benar-benar dia... itu Inoo Kei yang ku kenal. Tak salah lagi wajah mereka sama. karena itu memang wajah seorang Kei.

Demi apapun aku benar-benar tak percaya ini. Rasa shock mendominasi hatiku, dan membuat sirkulasi udara ke otak menjadi tak lancar. Hati ku sesak, sehingga sulit berpikir seketika.

Masih ada harapan... ‘itu mungkin saja kebetulan, bisa saja ia punya kembaran. Lagipula aku nyata melihat Kei duduk di sebelahku, dan merasakan keberadaannya. Haha... iya benar! Pasti itu orang lain. Tak mungkin Kei... Arienai~’ aku menenangkan pikiranku sendiri. Mencoba membuat secercah harapan, sembari terus mencari tahu. Aku akhirnya melihat semua video yang ada—masing-masing video yang kurang lebih sama, hanya beda penyorotannya dan beridentitaskan stasiun tv yang berbeda pada pojok atasnya. Kelimanya ku teliti.

Dan aku kembali dikejutkan... di video ke-empat pada menit 2 detik ke 38 berlogo tv Tokyo, tersorot sekilas sesosok pria dengan stelan kemeja biru kotak-kotak dan celananya yang sangat kukenal—sedang dikeluarkan dari kereta gerbong 2. Itu Kei... Ia dikeluarkan dari jendela dengan posisi tepat di sudut yang biasanya ku duduki dengan Kei.
Dan saat sedang digotong, dari tangan Kei terlihat sesuatu yang jatuh. Ku-pause videonya dan kuperhatikan dengan lekat. Aku mengenalnya... itu buku saku yang selalu Kei bawa. Buku itu sudah robek dan hancur dibeberapa bagian. Juga terdapat bercak darah yang mungkin dari tangan Kei yang menggenggamnya.

Sepertinya Kei sedang membaca buku itu sebelum terjadi kecelakaan tragis ini. Bahkan sampai saat terakhir pun Kei menggenggam bukunya dengan baik. Dan yang lebih tak terduga lagi, ternyata kecelakaan terjadi pada tanggal 22 Juni. Tepat ulang tahun Kei. Dan tahun ini, harinya adalah besok...

Aku merasakan air menetes ke keyboard dan mousepad laptop milik ayah ini. Ternyata aku menangis... kututup laptop itu tanpa peduli melakukan closing page yang telah kubuka. Hatiku saat ini sangat abstrak. Jam ruang tengah sudah berdentang menyerukan sekarang pukul 2 pagi, tapi aku yang mendengarnya tak mempedulikan itu sama sekali. Hancur... sesak... sedih... tak percaya... shock... semua bercampur tak karuan, tak terlukiskan, atau entahlah terserah.

Tak kusangka rasa ingin tahuku malam ini menghadapkan ku pada kenyataan yang sebenarnya. Apa pencarianku malam ini sudah ditakdirkan? Apa aku yang bangun tengah malam juga karena takdir yang memintaku mengetahui semua ini?

Kei benar sudah tiada... mungkin yang selama ini bersamaku hanya ruhnya.

Aku menaruh kepalaku diatas lipatan tangan pada meja, aku menyembunyikan wajahku dan menangis terisak. Untung saja keluargaku sedang terlelap dalam mimpi, kalau mereka bangun bisa-bisa aku diserbu sengan pertanyaan mengapa menangis dipagi buta...

Aku tak merasakan tulang menyangga seluruh dagingku. Tubuhku rasanya sangat lemas dan bisa jatuh kapan saja.
Aku menangis sejadi-jadinya malam itu. bukannya lekas tidur untuk bersiap ke sekolah besok, aku justru terpuruk dengan hati hancur dimeja makan dapur.

Lelah menangis, mataku tiba-tiba gelap...


~*~*~*~*~*~*
“Riechan okiro...”

Tubuhku seperti diguncang. Setelah ku buka mata, ternyata itu neechan yang membangunkanku.
Aku mengangkat kepala dan neechan sepertinya sedikit kaget melihat mata sembabku hasil menangis semalam.

“kenapa matamu? kenapa tidur disini? Ketiduran atau apa?” tanyanya bertubi-tubi penasaran

Namun aku tak menjawab. Aku bangun dari dudukku dengan badan yang masih lemas dan melangkahkan kaki menaiki tangga.

Aku memasuki kamar mandi dan segera bersiap pergi kesekolah. Tubuhku masih pegal karena sepertinya aku baru tidur pukul 4 pagi, sementara dibangunkan neechan pukul 5 sekarang. Untuk sesaat aku tak mau masuk sekolah, karena selain perasaanku sedang tak enak, badankupun juga kurang prima untuk menempuh jarak jauh.
Namun aku teringat Kei. Akan kupaksakan tubuhku apapun yang terjadi. Kalau benar, hari ini adalah hari ulangtahun Kei, maka aku harus bertemu dengannya. Aku masih menaruh harapan bahwa semalam hanyalah mimpi buruk dan imajinasiku belaka. Seandainya itu memang benar hanya gurauan, aku ingin kembali tertawa bersama Kei hari ini untuk memastikan segalanya...




~*~*~*~*~*~*
Akhirnya sampai juga aku di stasiun. Dan yang pertama kali dicari oleh mataku adalah keberadaan 2 gerbong terakhir.

‘....yokatta...’ aku melihatnya.

Aku memasuki gerbong itu, dan aku kembali bertemu dengan Kei. Untuk saat ini aku tak ingin mengingat kegalauanku yang tadi.

“Ohayou, Kei!” sapa ku bersemangat

“Ohayo!” jawabnya penuh senyum
Syukurlah ia masih membalas sapaanku

Tiba-tiba saat aku duduk, aku melihat bekas goresan dalam jumlah banyak di lengan Kei yang hanya tertutup kemeja panjang setengah digulung. Juga beberapa bercak darah...

“Kei, kau kenapa....” aku memperhatikannya lekat

“ah... aku... habis menolong anak anjing”

‘uso...’ aku kurang percaya pada ucapannya itu. karena aku ingat, beberapa bekas ini adalah luka seorang Kei yang menjadi korban dari kecelakaan itu. Sangat mirip...

Aku tertunduk diam mengingatnya... begitu juga Kei, yang tak kunjung memulai topik—padahal biasanya dia selalu membuka obrolan kami.

Cukup lama, hingga hampir mencapai tujuan, ia baru angkat bicara
“Rie... aku punya permohonan”

Aku mulai menatap mata Kei, mata itu memancarkan sorotan yang lain dari biasanya.
“bisakah kau tolong aku antarkan ini?” katanya menyerahkan sebuah tas karton kecil dan kertas alamat

Aku tak bisa menolaknya, kalau memang ini permintaan Kei. Aku pun menerima bingkisan itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
Dan akhirnya tibalah saat aku turun ditujuan.

Aku beranjak dari posisi dudukku. Mulai melangkah keluar, namun aku kembali membalikan badan.
 “Otanjoubi omedetou!” ucapku sebelum benar-benar turun dari kereta

Akupun turun, Kei melihat sosokku saat keluar pintu dan mengikuti langkah kakiku dengan pandangannya. Ku dekati jendela tepat ditempat Kei duduk.
Lalu menatap Kei dalam diam...
Dia hanya melambai diiringi senyum tipis, ‘sayonara...’ itu yang berhasil kubaca dari gestur mulutnya. Lalu kereta pun kembali berjalan. Aku seakan tak mau kereta itu pergi, aku mengejar dan mulai setengah berlari, namun kakiku hanya terhenti dipagar pembatas sebahu yang ada di pojok kanan-kiri stasiun. Aku tak mampu lagi mengikuti, mataku memandang gerak laju kereta yang masih belum begitu cepat.

Di tikungan depan, tiba-tiba 2 gerbong kereta terakhir menghilang seperti tertelan kabut. Dan lenyap tak berbekas...

Aku yang melihatnya terkejut, namun entah kenapa aku telah merasakan perasaan akan berakhir seperti ini sebelumnya. Ternyata gerbong itu akan menghilang, tepat di ulangtahun Kei dan hari kecelakaan Ueno tersebut. Juga, luka dan bercak darah pada Kei menandakan waktunya pergi sudah semakin dekat. Ruh itu akan kembali seperti semula saat jasadnya ditinggalkan. Penuh luka...

‘Daisuki... Aku ternyata menyukaimu, Kei....’

rasa hangat dihatiku dan perasaan bahagiaku saat bersamanya. Juga rasa sakit kemarin, karena aku menaruh perasaan pada Kei. Sepertinya perasaan ini ada sejak lama... Bodohnya aku yang baru menyadari hal itu

Kini aku tahu. Mengapa air wajah Kei berubah saat aku bilang ingin jadi juniornya di Meiji, juga mengapa ia pesimis pada mimpinya... karena sebenarnya ia sudah tiada....

Hatiku kembali teriris. Sepertinya cukup sulit menerima kenyataan
Aku merasakan wajahku mulai basah. Airmataku kembali menetes...

Seseorang menepuk pundakku dari belakang, “tadi kau naik kereta apa Dek?” tanya orang itu yang ternyata petugas stasiun. “Bapak tidak melihat ada kereta lewat sini? Gerbong awal sudah jauh berlalu lebih dulu. Kau turun dari apa?” lanjutnya

Ternyata memang benar... selama ini aku menaiki kereta arwah.
Dengan segera kuhapus airmataku, lalu aku menoleh. Aku tak menjawab pertanyaan pak petugas, hanya tersenyum dan menundukan kepala untuk permisi. Lalu berjalan keluar stasiun.

Ku tapakan kakiku selangkah-demi selangkah pada trotoar. Entah kenapa aku malas sekali kesekolah hari ini. Kurasa pelajaranpun tak akan masuk ke otakku.
Aku teringat akan permohonan Kei, kubuka tas karton itu dan kubaca kertas alamatnya. Kertasnya sudah tampak usang, tepat seperti kertas yang telah dituliskan bertahun-tahun lalu.

~
107-8652
Shigusa Akasaki St.
Yubinkyoku, Higashi-Mita
15A
Arakawa Miki
~

Aku terkejut membaca kepada siapa barang ini ditujukan ‘Arakawa... Miki? Dia?? Uso...’
Aku tak percaya... Apa maksudnya permohonan Kei ini?




*~*~*~*~*~*


0 komentar:

Posting Komentar