Title
: May I say I love you?
Author : Desynta N.F
Cast
: Sato Shori (Sexy Zone), Morimoto Ryutaro , Sakurai Namiho (OC)
Genre
: Romance
Rating
: G
Summary
: Shori tidak mempermasalahkan jika ia kalah. Tapi ia tidak rela kalah dalam
satu hal penting.
***************************************************
Shori
melangkah masuk ke halaman sekolah barunya. Ia mencoba menenangkan dirinya
dengan menghembuskan nafas perlahan. Setelah ia merasa tenang, ia mendongakkan
kepalanya dan memandang sekeliling.
‘Ini
adalah hari pertamaku. Aku akan berusaha untuk menjadi siswa SMA yang berguna,’
batin Shori sembari tersenyum.
“Yosh,
ganbarimasu,” Shori kembali berjalan, menuju kelas 1-B yang akan menjadi
kelasnya selama setahun mendatang.
Shori
berlari menuju aula sekolah untuk upacara penerimaan siswa baru. Tadi ia sedang
ada di dalam toilet, jadi ia tidak tahu bila siswa lainnya sudah pergi ke aula
sekolah. Shori merutuki dirinya sendiri yang gugup sejak tadi sehingga akhirnya
dia harus berlari ke aula sekolah.
Shori
sampai di aula dan merasa lega karena upacara belum dimulai. Ia segera berjalan
menuju barisan yang sebagian besar diisi anak laki-laki. Ia langsung duduk
ketika menemukan kursi kosong di barisan itu.
Setelah
satu jam, upacara selesai. Shori bersama seluruh siswa keluar dari aula menuju
kelas mereka masing-masing. Saat ia keluar dari aula, ia melihat sebuah keitai(HP)
berwarna putih dengan gantungan berbentuk kura-kura tergeletak di lantai dekat pintu.
Shori memungut keitai itu.
‘Mungkin
terjatuh. Aku akan memberikannya pada guru,’ pikir Shori selagi ia memasukkan
keitai itu ke dalam sakunya.
Shori
dalam perjalanan ke kantor guru saat ia mendengar suara seorang perempuan di
balik tikungan koridor. Suaranya terdengar panik. Shori mencoba mendekati suara
itu dan berhenti tepat sebelum belokan.
“Dimana
aku meletakkannya? Aku yakin tadi ada di saku blazer. Kenapa sekarang keitai-ku
tidak ada?”
“Apa
keitai ini milikmu?” Shori keluar dari balik dinding. Ia mengulurkan keitai
putih yang ia temukan pada seorang gadis dengan rambut panjang yang diikat dua.
“Eh?
Ini milikku.” gadis itu mengambil keitai putih dari tangan Shori dan tersenyum
senang. “Dimana kau menemukannya?”
“Kau
menjatuhkannya di dekat aula. Tadi aku ingin membawanya ke kantor guru. Tapi
ternyata aku lebih dulu menemukan pemiliknya,” Shori tersenyum.
“Oh,
arigatou gozaimashita. Hontou ni arigatou gozaimashita. Mm...Watashi wa Sakurai
Namiho desu. Anata wa?” gadis itu mengulurkan tangannya.
“Sato
Shori desu,” Shori menyambut tangan Namiho dan tersenyum.
Setelah
perkenalan singkat itu, Shori kembali ke kelasnya. Ia duduk di kursinya yang
terletak di samping jendela. Ia menoleh ke jendela di sebelahnya. Beberapa saat
kemudian ia tersenyum.
“Teman
pertamaku di SMA.”
***************************************************
Hari
ini hujan turun sangat deras. Shori tinggal lebih lama di kelas karena ia harus
menyelesaikan tugas bahasanya lebih dulu. Setelah ia meletakkan tugas itu di
kantor guru, ia memutuskan untuk segera pulang. Shori berjalan menuju lemari
lokernya untuk mengganti sepatu dan mengambil payung.
“Eh,
Sakurai-san, kau belum pulang?” Shori menghampiri Namiho yang masih berdiri di
dekat pintu masuk gedung sekolah.
“Belum,
Sato-san. Aku lupa untuk membawa payung. Aku juga tidak bisa berlari untuk
pulang karena jarak sekolah dan stasiun butuh waktu 10 menit,” ujar Namiho. Ia
memandang keluar dengan sebal.
“Bagaimana
kalau kau pergi ke stasiun bersamaku? Jarak dari stasiun ke rumahku 10 menit,
dan aku membawa payung,” Shori memperlihatkan payung yang dibawanya. Setelah
beberapa saat diam, Namiho mengangguk.
Shori
dan Namiho berjalan bersama di bawah payung Shori. Hujan deras yang mengguyur
kota Tokyo membuat mereka berdua harus saling berdekatan. Dan karena itu pula,
tangan Shori ada di lengan Namiho untuk menjaga Namiho tetap dekat dan tidak
basah.
Shori
dan Namiho sampai di stasiun. Shori melepas tangannya dari lengan Namiho dan
menurunkan payung.
“Arigatou
ne, Sato-san,” Namiho tersenyum.
“Iie,
daijoubu. Mm...Kalau begitu aku pulang dulu, ya,” Shori tersenyum manis pada
Namiho sebelum kembali memakai payung untuk pulang ke rumah.
“Sayonara,
Sato-san,” Namiho melambai pada Shori.
Sesampainya
di rumah, Shori langsung masuk ke kamarnya. Tanpa mengganti pakaiannya lebih
dulu, Shori merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Cukup lama ia terdiam
sambil menatap langit-langit kamarnya. Suara guyuran hujan dapat terdengar
dengan jelas di dalam kamarnya.
Tanpa
Shori sadari, ia tersenyum.
***************************************************
SMA
tempat Shori dan Namiho bersekolah mengadakan lomba lari maraton dalam rangka
memperingati ulang tahun sekolah. Semua siswa boleh mengikuti lomba itu. Dengan
keputusan yang matang, Shori mendaftar dalam lomba maraton yang akan diadakan
minggu depan.
“Kau
yakin mau ikut, Sato-san?” tanya Namiho.
Namiho
dan Shori sedang ada di kantin pada jam makan siang. Beberapa saat sebelum
Namiho bertanya, Shori memberitahu Namiho bahwa ia akan ikut serta dalam lomba
maraton sekolah.
“Aku
yakin, Sakurai-san,” jawab Shori setelah menelan roti yang ia makan.
“Apa
kau mengincar juara 1? Bagaimana jika kau kalah?” Namiho menaruh gelas berisi
jus stroberi saat ia bertanya lagi.
“Aku
tidak peduli jika aku kalah. Jika aku bisa menjadi juara 1, itu bagus. Tapi
jika hanya sebagai peringkat 2 atau malah jauh di belakang, itu tidak masalah.
Yang penting aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga,” Shori mengambil botol
minumannya dan meneguknya sampai habis.
“Waw,
aku tidak percaya. Apa benar itu kata-kata dari seorang anak laki-laki berumur
15 tahun? Bagus sekali,” Namiho tertawa. Tawa kecil yang membuat Shori ikut
tertawa.
Satu
minggu telah berlalu. Dalam waktu seminggu, Shori terus berlatih. Pagi-pagi
sekali ia berlari mengitari kompleks rumahnya. Ia tidak pernah absen berlatih.
Ia ingin memberikan yang terbaik. Ia yakin ia bisa.
Kini
Shori sedang berdiri di depan garis start bersama para peserta lomba maraton.
Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kepalanya menoleh
ke samping kanan kiri. Tak berapa lama kemudian ia menemukan Namiho yang tengah
melambai padanya dan berkali-kali berteriak ‘Ganbatte’.
Perlombaan
dimulai. Para peserta lomba langsung berlari dan akhirnya menghilang di gerbang
sekolah. Cukup lama Namiho dan yang lainnya menunggu. Terang saja karena jarak
yang mereka tempuh adalah 5 km. Namiho terus memandang gerbang sekolah dengan
penuh harap.
“Sacchan,
bukankah itu Sato Shori?” gadis di samping Namiho menepuk pundak Namiho. Namiho
langsung menoleh ke gerbang sekolah.
Beberapa
peserta sudah mulai tampak. Mereka sudah sampai di gerbang sekolah dan sebentar
lagi menyentuh garis finish. Di antaranya adalah Shori.
Namiho
mulai kembali berteriak untuk menyemangati Shori. Ia terus berteriak memberi
semangat sampai akhirnya Shori melewati garis finish.
“Bagaimana
rasanya?” Namiho duduk di samping Shori yang sedang beristirahat.
“Maji
kimochi. Walaupun aku hanya mendapat peringkat tiga, tapi aku senang,” Shori
tersenyum.
“Hanya?
Menjadi peringkat tiga itu sudah bagus, Sato-san. Kau hebat,” Namiho tersenyum
senang dan sesaat kemudian Shori tertawa.
“Bagaimana
kalau aku memotretmu? Bukti bahwa kau telah melakukan yang terbaik untuk lomba
hari ini,” Namiho mengambil keitai putih dengan gantungan berbentuk kura-kura
dari dalam saku blazernya. Shori berdiri.
“Siap?”
Namiho mengangkat keitai-nya dan mengarahkannya pada Shori.
“Siap,”
“Di
sini kau rupanya,” seseorang datang dan menaruh telapak tangannya di atas
kepala Namiho. Namiho mendongak dan ia tersenyum lebar.
“Ryuu-kun,”
Namiho memeluk pemuda yang ada di belakangnya. Shori hanya bisa menatap mereka
berdua dengan wajah tanpa ekspresi.
“Sato-san,
ini Morimoto Ryutaro. Ryuu-kun, ini Sato Shori,” Namiho memperkenalkan Shori
dan Ryutaro. Shori dan Ryutaro saling berjabat tangan.
“Saa,
Mihocchi, mau pulang sekarang?” Ryutaro memandang Namiho yang lebih pendek
darinya.
“Iya,
ayo pulang. Sato-san, aku pulang dulu ya. Sayonara,” Namiho berbalik dan
berjalan menjauh bersama Ryutaro. Beberapa saat kemudian Namiho memukul lengan
Ryutaro.
Shori
terdiam. Matanya terus mengikuti sosok Namiho dan Ryutaro yang semakin jauh.
Begitu Namiho dan Ryutaro hilang dari pandangan, ia berjalan pelan menuju
lemari lokernya.
Kamar
Shori gelap. Ia menutup gorden dan mematikan lampu. Sementara itu, Shori tampak
lemas. Pipinya menempel di atas meja belajar. Pandangannya kosong. Ia
mengangkat tangannya dan meletakannya di dadanya.
‘Nani
kore? Kenapa aku langsung lemas melihat Morimoto dengan Namiho? Kenapa aku
merasa kecewa ketika tadi Namiho mengirim email padaku kalau ia tidak bisa
belajar bersama denganku hari ini?’ batin Shori. Ia terus memegang dadanya.
Jantungnya berdetak normal. Tapi ia merasa ada yang beda.
Shori
pindah ke atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamarnya. Hal ini membuat
Shori bingung. Semua ini membingungkan. Shori masih berumur 15 tahun, siswa
kelas 1 SMA, dan belum pernah merasakan apa itu cinta.
Tunggu
dulu. Cinta?
***************************************************
Shori
berjalan sendiri menuju kantin. Ia mencari Namiho di kelasnya. Tapi kata teman
Namiho, Namiho sudah pamit ke kantin duluan.
Shori
terdiam ketika ia memasuki kantin. Ia melihat Namiho dan Ryutaro duduk di meja
yang sama. Ada beberapa buku yang ditumpuk di sebelah jus stroberi favorit
Namiho. Tampaknya Ryutaro tengah mengajari Namiho beberapa pelajaran.
“Well,
sepertinya mereka sedang belajar” ucap Shori. Ia pergi memesan roti lalu
berjalan menuju meja Namiho.
“Sakurai-san,
Morimoto-san, konnichiwa. Boleh aku duduk di sini?” tanya Shori. Namiho dan
Ryutaro mendongak.
“Ah,
Sato-san. Mochiron. Kau kan selalu duduk bersamaku,” ujar Namiho sambil
tersenyum. Ryutaro juga ikut tersenyum.
Shori
pun duduk di meja itu. Ia memakan rotinya dalam diam. Sesekali ia melirik ke
arah Namiho dan Ryutaro yang masih sibuk belajar. Ia tidak mau mengganggu
mereka. Setelah rotinya habis, Shori diam. Ia tidak tahu harus melakukan apa
sementara dua orang di depannya mempunyai kesibukan sendiri.
“Hei,
Sato-san. Apa kau tahu kalau Mihocchi ini mudah berteman dengan anak laki-laki?
Bahkan saat kecil dulu temannya laki-laki. Tapi entah kenapa saat besar jadi
lembut begini,” Ryutaro menjulurkan lidahnya pada Namiho.
“Haruskah
kau menceritakan rahasiaku? Lagipula jangan memanggilku begitu donk,” Namiho
memukul lengan Ryutaro dan Ryutaro hanya tertawa. Matanya menjadi sipit di
balik kacamatanya itu.
“Kalau
kau mudah berteman dengan anak laki-laki, kenapa sampai sekarang belum punya
pacar ya? Aah, kau menunggu pangeranmu datang untuk menjemputmu ya?” Ryutaro
menyeringai ke Namiho sementara Namiho memukulnya habis-habisan.
“Aku
menunggu orang yang menyukaiku tanpa memandang penampilanku. Kalian kan tahu
kalau aku tidak secantik teman-teman. Tapi kalau dilihat dari apa yang dialami
teman-temanku, sepertinya sekarang masih belum ada orang yang seperti itu,” Namiho
menyangga kepalanya dengan tangan dan memandang lurus ke atas. Ia tersenyum.
Semua terdiam. Beberapa detik kemudian, Namiho langsung menutup mulutnya.
“Ah...Aku
terlalu banyak bicara,” ucap Namiho. Ryutaro hanya tertawa sambil mengacak
rambut Namiho.
Sesaat
kemudian Shori pamit pergi ke kelas karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan.
Tapi setelah ia sudah jauh, ia tidak pergi ke kelas. Kakinya melangkah
membawanya ke atap sekolah.
Angin
bertiup cukup kencang di atap sekolah. Shori memilih duduk di bangku di tepi
bangunan. Ia menaruh dagunya di atas kedua tangannya yang ia tempelken di
dinding pembatas. Wajahnya campuran antara hampa dan senang.
Shori
mengambil keitai biru miliknya dan mengetik sesuatu. Sesaat kemudian, seorang
pemuda yang seumuran dengan Shori, bernama Kuramoto Kaoru, datang dan duduk di
samping Shori.
“Memang
benar kok, itu cinta. Kau merasakannya,” ucap Kaoru setelah Shori bercerita
tentang apa yang selama ini ia herankan. Helai rambut Kaoru berkibar ditiup
angin.
“Eh,
Nani? Ai? Demo...Arienai. Namiho wa ore no tomodachi,” Shori memandang Kaoru
dengan wajah tidak percaya.
“Shori-chan...Jangan
menyangkal. Omae wa Namiho ga suki dayo. Hora, kau merasa sakit saat melihat
Namiho bersama Ryutaro. Kau juga merasa lebih nyaman saat kau bersama Namiho.
Bahkan saat pertandingan maraton kau melupakanku dan memilih bersama Namiho,”
Kaoru menggembungkan pipinya setelah ia selesai mengatakan semua itu. Yang
diajak bicara hanya menyeringai dengan wajah tak berdosa.
“Dan
kau bilang, Namiho belum punya pacar. Namiho ingin ada orang yang menyayanginya
tanpa melihat penampilannya,” ucap Kaoru. “Memang benar sih dia tidak secantik
teman-teman satu gengnya. Tapi tawanya terlihat tulus,” lanjut Kaoru lirih.
“Hei,
apa kau bilang?” Shori menjitak kepala Kaoru tanpa belas kasihan. Kaoru
langsung meringis sambil memegang kepalanya.
“Tuh
kan, terbukti. Kau menyukainya. Kau tidak mau aku berkomentar tentang
penampilannya,” ujar Kaoru. Ia mengelus kepalanya yang terasa nyeri.
Shori
kembali diam. Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum.
Shori
segera membereskan buku-bukunya dan keluar dari kelas setelah Yabu-sensei
mengakhiri pelajaran hari ini. Dengan semangat yang diberikan Kaoru, Shori
berjalan menuju kelas 1-H, kelas Namiho.
‘Kau
jangan jadi pemalu donk. Sejak SMP kau selalu jadi pemalu. Kau bahkan terlalu
malu menerima cokelat di hari valentine. Hei, kau hanya menerimanya,’ ucapan
Kaoru itu masih terngiang di telinga Shori. Ia tersenyum mengingat kalau Kaoru
masih mencela sikap malunya.
Shori
sampai di depan kelas 1-H. Matanya menjelajah seluruh isi kelas, tapi ia tidak
menemukan sosok Namiho. Shori mengerutkan keningnya. Ia melangkah pergi dari
kelas 1-H dan berencana mencari Namiho.
Saat
Shori berjalan di dekat kantin, Shori melihat sosok Namiho dari sudut matanya.
Namiho, Yuki (teman sekelas Namiho), Michiyo (teman sekelas Namiho),
dan...Morimoto Ryutaro. Shori bersembunyi di balik dinding. Ia mengintip
sedikit.
Ia
melihat Ryutaro memberikan setangkai bunga mawar pada Namiho. Namiho
menerimanya dengan senang dan langsung memeluk Ryutaro. Reflek Ryutaro mengacak
rambut Namiho.
Shori
terkesiap. Ia langsung berbalik dan berjalan pulang. Ia ingin pulang.
Secepatnya.
“Ne,
Sacchan. Otanjoubi omedetou,” Yuki memeluk Namiho setelah Namiho melepas
Ryutaro.
“Otanjoubi
omedetou, Sacchan. Tak kusangka kita masih bisa merayakan ulang tahunmu di
sekolah. Kukira kita akan berpisah sekolah setelah lulus SMP,” Michiyo ikut
memeluk Namiho.
“Arigatou
ne. Aku senang,” Namiho memeluk erat kedua sahabatnya itu.
“Kalau
begitu, kami pulang dulu ya. Ikou, Mihocchi,” Ryutaro merangkul Namiho dan
mereka berdua berjalan pulang.
***************************************************
Shori
terdiam di depan televisi yang terus menyala sedari tadi. Ia terus mengganti
saluran televisi. Mulai dari Asahi TV, Nihon Terebi, sampai NHK. Bahkan saluran
Fuji TV berkali-kali muncul di layar televisi.
~Mitsuketanda
chiisana hikari mirai e. With you with you kono te wa mou hanashitari shinai~
Shori
mengambil keitai yang ada di sebelahnya. Email dari Namiho.
Dari
: namihosa@yahoo.co.jp
Subjek
: Belajar bersama
Sato-san,
hari ini jadi belajar bersama, kan? Maaf kalau beberapa hari yang lalu aku
tidak bisa. Hari ini kita belajar lagi, oke?
^-Sacchan-^
Shori
menghela nafas. Ia bergegas menuju kamar mandi.
Kini
Shori ada di rumah keluarga Sakurai. Ia dan Namiho sering belajar bersama di
kamar Namiho. Orang tua Namiho sudah mengenal Shori dengan baik dan mereka
senang karena ada yang membantu Namiho belajar.
Ibu
Namiho baru saja keluar dari kamar Namiho setelah memberikan camilan pada Shori
dan Namiho. Dengan antusias Namiho mengambil satu camilan dan memakannya.
Sementara
Namiho membuka buku pelajarannya, Shori melihat ke atas laci buku Namiho.
Ada setangkai bunga mawar merah di atasnya. Shori menelan ludah ketika melihat
bunga itu. Ia mengalihkan pandangan dari bunga itu.
“Mm....Sakurai-san,”
panggil Shori sambil mengambil satu camilan.
“Mm?
Doushita no?” Namiho mendongak menatap Shori.
“Aku
mau tanya...” ucap Shori lirih.
“Eh?
Nani?” Namiho meletakkan pensilnya.
“Bunga
mawar itu dari Morimoto, kan? Apa kalian...pacaran?” Shori membuat suaranya
tidak naik turun, tapi tidak berhasil.
Namiho
menoleh ke laci bukunya. Kemudian ia tertawa. Tawa yang cukup lama. Shori
memandang Namiho tak mengerti.
“Kau
lihat, ya? Ya ampun, apa aku belum bilang kalau Ryutaro itu kakak sepupuku?
Hari ini aku ulang tahun, dan dia memberiku hadiah sesuai tradisi keluarga.
Jika ada kerabat yang ulang tahun, harus memberi bunga mawar. Lalu disimpan di
kamar agar permohonannya terkabul. Dia bukan pacarku, dia kakak sepupuku,
Sato-kun,” jelas Namiho setelah ia selesai tertawa. Ia tersenyum menatap Shori.
Tak lama kemudian ia menunduk.
Shori
kaget. Bahkan camilan yang ada di tangannya sampai terjatuh.
‘Ryutaro...Sepupunya?
Chotto, apa tadi dia memanggilku? Sato-kun?’
“Hontou
desu ka?” tanya Shori. Ia ingin meyakinkan apa yang ia dengar.
“Hai.
Aku dan Ryuu-kun selalu seperti itu. Dia sangat sayang padaku,” jawab Namiho. Ia
tersenyum. “Doushita no, Sato-kun? Kau cemburu ya?” Namiho tersenyum dan
menyipitkan matanya.
“Nani?
Tidak kok. Aku tidak cemburu,” Shori langsung menunduk, berusaha menyembunyikan
wajah salah tingkah. Ia tidak menahan senyumnya untuk muncul. Sesaat kemudian,
ia mendongak menatap Namiho.
“Sakurai-san,
aku mau mengatakan sesuatu. Sebenarnya aku tidak berani. Tapi...Ada yang
mengatakan padaku bahwa aku harus melakukannya sebelum semua terlambat,” Shori
menutup bukunya dan meletakkan pensil.
“Mm...Nani?”
Namiho menatap Shori sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat manis.
“Mm...Bolehkah...Boleh
kubilang kalau aku mencintaimu?” seketika rona merah muncul di pipi Shori. Ia
menatap Namiho, menunggu jawaban.
Namiho
melirik ke samping, tampak berpikir. Ia mengambil keitai-nya dan mendekati
Shori. Ia membuka keitai flip miliknya dan memperlihatkannya pada Shori. Shori
terbelalak. Fotonya menjadi wallpaper keitai Namiho. Ia menatap Namiho.
“Apa
ini cukup memberi jawaban?” Namiho tersenyum. Senyumnya yang paling indah.
Shori
langsung memeluk Namiho erat. Ia menaruh dagunya di pundak Namiho. Namiho pun
membalas pelukan Shori.
“Kau
tahu aku tidak mempermasalahkan jika aku kalah. Tapi aku tidak mau kalah dalam
hal menyayangimu,” bisik Shori lembut di telinga Namiho. Ia yakin saat ini
Namiho sedang tersenyum.
Tiba-tiba
pintu menjeblak terbuka. Shori dan Namiho langsung memisahkan diri.
“Cieee,
adik kecil sudah punya pacar. Waah, ternyata permohonanmu terkabul dengan cepat
ya. Atau jangan-jangan kau memakai jampi-jampi pada Shori?” Ryutaro berdiri di
pintu kamar Namiho. Ia bersender pada kusen pintu dan menatap Shori dan Namiho
dengan menyeringai.
“Niichan!!”
Namiho langsung berlari mengejar Ryutaro yang langsung menghindar.
“Huwaa!!
Nenek lampir mengejarku!!”
“Siapa
yang nenek lampir?!”
Shori
tertawa melihat tingkah Namiho dan Ryutaro yang berkejaran sampai keluar dari
kamar. Tawanya bahagia. Ia bisa memiliki seseorang yang ia suka. Seseorang yang
tidak ia lihat dari penampilannya, tapi dari dalam hati. Semua orang bilang
kalau menyukai seorang perempuan dari hatinya itu adalah munafik. Tapi tidak
untuk Shori. Ia selalu menganggap Namiho cantik dengan caranya sendiri.
Shori
tidak peduli jika ia kalah. Tapi ia tidak mau kalah dalam satu hal penting.
Yaitu mencintai seseorang dengan jujur.

